Dekatlah dengan Ulama..!


Ahad, 18 April 2021 - 13:44:45 WIB
Dekatlah dengan Ulama..! Afri Yendra

Nabi Salallahu A’alihi Wassalam bersabda: Hendaklah kalian duduk bersama ulama dan mendengarkan perkataan hukama’ (orang bijak), karena sesungguhnya Allah ta’ala menghidupkan hati yang mati dengan cahaya Hikmah sebagaimana menghidupkan bumi yang mati dengan air hujan.

Oleh : Afri Yendra - Widyaiswara PPSDM Kemendagri Regional Bukittinggi

Baca Juga : Tazkiyatun Nafs

Nabi Salallahu A’alihi Wassalam bersabda: Hendaklah kalian duduk bersama ulama dan mendengarkan perkataan hukama’ (orang bijak), karena sesungguhnya Allah ta’ala menghidupkan hati yang mati dengan cahaya Hikmah sebagaimana menghidupkan bumi yang mati dengan air hujan.

Disebutkan dalam sebuah kisah dalam buku Nashihul Ibad, bahwa Imam Suhrawardi pernah mengelilingi sebagian Masjid Khaif di daerah Mina. Ia memandangi wajah para hadirin satu persatu. Ketika ditanyakan tentang sikapnya itu ia menjawab: “Sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah terdapat orang orang tertentu yang jika orang memandang mereka, mereka dapat memberikan kebahagiaan kepadanya, dan aku sekarang sedang mencarinya." 

Baca Juga : Safari Ramadan, Gubernur Sumbar Sampaikan 7 Keistimewaan Alquran

Rasulullah bersabda “Akan datang suatu masa kepada umatku dimana mereka lari dari ulama dan fuqaha”, maka Allah akan menurunkan tiga musibah kepada mereka, yaitu: pertama, Allah akan menghilangkan Rezki mareka, kedua, Allah menjadikan penguasa yang zholim untuk mereka: dan ketiga, Allah mengeluarkan mereka dari dunia ini tanpa membawa iman.

“Ulama adalah pewaris para nabi.” sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ

Artinya: “Ulama adalah pewaris para nabi.” (H.R. At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda Radhiallahu ‘Anhu). 
Sehingga segala keberkahan Allah kepada nabi akan dapat dimiliki oleh orang-orang, daerah, negara yang dekat dan menghormati  pewarisnya yaitu ulama.  Sehingga Rasulullah memerintah kita umatnya untuk senantiasa dekat dengan Ulama.

Namun jika sebaliknya, maka konsekwensi akan ada musibah demi musibah akan menimpa dimana umat-umat dinegeri itu melecehkan, menzholimi para ulama. Na’uzubillah minzalik. Tingkatan musibah itu adalah seberapa tingkatannya umat melecehken ulama, tingkat pertamanya adalah tidak mau dekat dengan dengan ulama sampai puncaknya menzholimi ulama.

Tidak bermaksud menjustice, dimana posisi kita dinegeri mayoritas Islam ini terhadap ulama kita, namun kita bisa merasakan bagaimana kita dan umat lainnya terhadap ulama kita. 

Negeri yang dilahirkan dengan benih benih jiwa keulamaan dengan teriakan Allahu Akbar, merdeka atau mati. Menjadi simbol nyata bahwa kita sedang meninkmat karya utama mereka para ulama kita dimasa lalu. Saat ini banyak ulama kita yang terabaikan kehidupannya oleh kita. Mereka yang ada di Masjid/Surau, di Pesantren/sekolah atau madrasah, atau mereka berjuang dimanapun ada umat mebutuhkannya, mereka hadir memberika senyuman keikhlasan, menghantarkan ilmu dan pemahaman terhadap nilai nilai islami yang hakiki untuk menuju kebagaiaan umat dunia dan akhirat.

Tidak sedikit diantara mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan. Potret suram kehidupan duniawiah mereka tidak menyurut semangat dan perjuangan mereka untuk melayani anak negeri ibu pertiwi. Jiwa dan semangat ini masih hidup sampai saat ini dari ulama ulama pejuang negeri.

Maka wajarlah Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk dekat dengan Ulama,  karena dekat saja dengan mereka akan membawa cahaya hikmah, akan menghidupkan jiwa dari kematian nurani anak bangsa yang hari ini digrogoti oleh sifat dan sikap hubbud dun-ya atau cinta dunia yang berlebihan karena prinsip kapitalism dan liberalism serta  pragmatis dalam mengukur nilai kebahagiaan hidupnya, kebahagiaan diukur dari harta, pangkat dan jabatan.

Siapa Ulama itu?

Ulama pewaris nabi adalah sosok yang luas ilmunya dan dengan ilmu itu ia memiliki kadar ketakwaan atau khasyah (takut) yang tinggi. Orang alim itu orang yang memiliki rasa khasyah kepada Allah, senang terhadap hal-hal yang disenangi Allah, serta menghindarkan diri dari segala hal yang mendatangkan murka Allah.

Ustadz Bachtiar Nasir dalam Tulisanya di Republika.co.id menyebutkan bahwa Seseorang dikatakan sebagai ulama disebabkan oleh rasa takutnya pada Allah karena ilmu dan kedalaman hikmahnya. Derajat mereka ditinggikan Allah sebelum dimuliakan manusia. Allah berfirman, “Niscaya Allah meninggikan orang beriman di antaramu dan orang yang di beri ilmu pengetahuan beberapa derajat. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Mujadalah [58]: 11).

Katakanlah, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS al-Zumar [39]: 9). Rasul menegaskan, status dan peran ulama itu adalah pewaris para nabi dalam menyampaikan ilmu dan ajaran agama ke pada semua manusia setelah berakhirnya pengutusan para nabi dan rasul.

“Barangsiapa menempuh suatu jalan yang padanya dia mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan dia menempuh jalan dari jalan-jalan (me nuju) jannah, dan sesungguhnya para malaikat benar-benar akan meletakkan sayap-sayapnya untuk penuntut ilmu, dan sesungguhnya seorang penuntut ilmu akan dimintakan ampun untuknya oleh makhluk-makhluk Allah yang di langit dan yang di bumi, sampai ikan yang ada di tengah lautan pun memintakan ampun untuknya. Dan sesungguhnya keutamaan seorang yang berilmu atas seorang yang ahli ibadah ada lah seperti keutamaan bulan pada malam purnama atas seluruh bintang, dan sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi, dan para Nabi tidaklah mewariskan dinar ataupun dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang mengambilnya dia telah meng ambil bagian yang sangat banyak.”(HR Tirmizi, Ahmad, Ibnu Hibban dan al-Baihaqi). 

Demikianlah ulama yang banyak diberikan keutamaan oleh Allah SWT.

Pada dasarnya ulama itu terbagi tiga kelompok yaitu, pertama, Ulama yang sangat menguasai dan memahami hukum hukum Allah, Kedua, Ulama yang sangat dalam kemampuannya tentang ma’rifat kepada Zat Allah dan ketiga, Ulama al-kubra atau ulama besar adalah ulama yang senantiasa melakukan hal hal yang terpuji untuk kepentingan Makhluk Allah, ahli ibadah dan ucapanya serta tindakannya memberikan manfaat.

Bagaimana sikap kita kepada Ulama? 

Selanjutnya Ustadz Bachtiar Nasir menguraikan sikap kita terhadap Ulama.

Pertama : Bersikap objektiflah sebagaimana Rasul memuliakan ulama dan tidak menjelekkan atau merendahkannya. 

Diriwayatkan dari Ubadah bin al-Shamit, Rasul bersabda, “Bukanlah dari golongan umatku orang yang tidak menghormati orang lebih besar di antara ka mi, tidak menyayangi anak kecil kami, dan tidak mengetahui hak ulama kami.” (HR Ahmad dan Thabrani).

Kedua : Jangan Musuhi mereka.

Dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Barangsiapa memusuhi wali-Ku maka aku umumkan perang kepada mereka.’” Yang dimaksud dengan wali Allah di sini adalah orang alim yang selalu taat dan ikhlas dalam beribadah. Imam Syafii menjelaskan, jika para ulama itu bukanlah wali-wali Allah, maka tidak ada wali Allah di muka bumi ini.

Ikrimah seorang tabi’in mengatakan, “Janganlah kamu menyakiti seorang ulama karena barangsiapa menyakitinya, berarti dia telah menyakiti Rasulullah. Sebab, kedudukan ulama se bagai pewaris ilmu para nabi untuk disampaikan kepada umat hingga hari kiamat nanti. Etika yang baik dalam mendebat ulama adalah mendebat dengan retorika yang diajarkan Allah.

Ketiga: Hormati Ulama.

Katakanlah, “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar.” (QS al- Ba qarah [2]: 111). Adapun kriteria ulama yang mendapatkan tempat untuk dihormati adalah ulama yang takut kepada Allah dengan ilmunya dan mereka ikhlas dalam melanjutkan risalah kenabian. Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS Fathir [35]: 28). Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS Yasin [36]: 21).

Bismillah, dekatlah kita dengan Ulama agar kita mendapat kebahagiaan dunia akhirat, Insha Allah.
 

Editor : Rahma Nurjana
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]