Kukuhkan Guru Besar, Gubernur Apresiasi PNP yang Peduli Tingkatkan Teknologi Pertanian Masyarakat


Senin, 19 April 2021 - 21:43:52 WIB
Kukuhkan Guru Besar, Gubernur Apresiasi PNP yang Peduli Tingkatkan Teknologi Pertanian Masyarakat Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah saat mengukuhkan Guru Besar PNP Prof. Dr. Dra. Yuli Yetri, M. Si

PADANG, HARIANHALUAN.COM - Sumbar penghasil terbesar kakao di dunia tapi negara lain yang menetapkan harganya. Seharusnya provinsi ini yang memproduksi, dan yang menetapkan harga. Oleh karena itu keberadaan Guru Besar PNP dan perguruan tinggi lain diharapkan mampu meningkatkan harkat dan pendapatan petani di Sumatera Barat.

Hal itu diungkapkan Gubernur Sumatera Barat, H. Mahyeldi Ansharullah, S.P. gelar Datuak Marajo dalam Pengukuhan Guru Besar Prof.Dr.Dra. Yuli Yetri, M.Si., dalam bidang Ilmu Kimia Material di Kampus Politeknik Negeri Padang, dilansir dari pnp.ac.id, Senin (19/4/2021).

Baca Juga : Sumbar Siapkan 50 Persen Jalur Zonasi pada PPDB 2021

Simak Terus Berita Sumbar Hari Ini di Harianhaluan.com

"Dengan dikukuhkannya guru besar Kimia Material pertama di Sumatera berarti PNP memiliki keunggulan di bidang Kimia Material. Diharapkan ini menjadi pemicu dan pemacu hadirnya ahli-ahli di bidang lainnya di Sumatera Barat," jelas Gubernur yang mengaku sangat bangga dengan prestasi warganya ini.

Ketidakadilan & Beda Perlakuan Pemicu Jadi Pendidik Dalam pidato pengukuhannya berjudul “Inovasi Teknologi Pemanfaatan Limbah Kulit Buah Kakao ( Theobroma Cacao ) Berkelanjutan Menjadi Produk yang Berdayaguna, Prof. Yuli mengakui tidak pernah terlintas di pikirannya bakal menjadi seorang pendidik karena saat kuliah dia bercita-cita bisa bekerja di Lembaga Minyak dan Gas Indonesia (Lemigas).

Baca Juga : Wako Pariaman Ajak Masyarakat Rawat Ekologi Pulau Angso Duo

Simak Terus Berita Sumbar Terkini di Harianhaluan.com  

Namun karena ketidakadilan dan beda perlakuan yang diterima semasa perkuliahan menimbulkan keinginan untuk menjadi pendidik yang baik. Gayung bersambut, Ketua Jurusan Kimia, Drs. Abu Bakar, MS dan Dra. Zaharasmi Kahar, Dosen Kimia Fisik memberinya kesempatan untuk mencalonkan diri dan merekomendasikan dirinya menjadi staf pengajar Jurusan Kimia Universitas Andalas.

Namun dalam perkembangannya, Yuli ditempatkan di Politeknik Engineering Universitas Andalas. Sekaitan dengan topik pidatonya, wanita kelahiran Bukittinggi, 6 Juli 1963 ini menyimpulkan, sisa serat hasil ekstrak kulit buah kakao merupakan bahan baku untuk dijadikan matrik dalam pembuatan papan partikel dan jika dicampurkan dengan serat limbah biomassa lainnya, berpotensi baik untuk dijadikan papan partikel.

Namun semua itu tidak terlepas dari usaha dan kerjasama dan kolaborasi dalam berbagai bidang ilmu untuk menghilirisasi riset ini hingga menghasilkan produk yang layak pasar.

Beberapa komponen utama dari ekstrak kulit kakao merupakan senyawa yang dapat mendonorkan elektron untuk membentuk senyawa komplek di permukaan baja.

Senyawa tersebut dapat membentuk lapisan tipis di permukaan logam yang berfungsi sebagai inhibitor korosi dan pemulihan sifat mekanik pada baja. Kandungan kakao ini juga menjanjikan sebagai bahan dasar untuk karbon aktif untuk Penjernihan air dan logam berat serta zat warna.

Karbon aktif Cacao juga dapat dijadikan bahan elektroda super kapasitor untuk sumber energi terbarukan. Risetnya dalam 6 tahun terakhir ini tercatat menghasilkan luaran 15 artikel terindeks Scopus, 3 paten granted dan 3 paten terdaftar, 10 artikel terindeks Sinta, 6 artikel di prosiding bereputasi, dan 3 kolaborasi internasional. (*)

Reporter : Milna Miana | Editor : Milna Miana
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]