Bahagia Melalui Salat


Jumat, 23 April 2021 - 14:26:11 WIB
Bahagia Melalui Salat H Alinardius

Kebahagiaan adalah wujud cita-cita seluruh manusia terutama orang yang beriman. Apapun usaha akan dilakukan untuk menggapai kebahagiaan, namun apa kebahagiaan itu yang sesungguhnya. 

Oleh: H Alinardius - Kasi Bimas Islam Kemenag Tanah Datar

Baca Juga : Tim Sapa Ramadan Akhiri Perjalanan ke-19 Kabupaten/Kota, Bagi-bagi THR pada Anak Yatim

Kebahagiaan itu bukan terletak pada harta yang melimpah karena banyak sekali orang yang kaya raya tidak bahagia. Fir’aun contohnya dengan kerajaan dan harta melimpah dia tidak bahagia hingga akhir hidupnya tragis tenggelam dalam laut merah. 

Kebahagiaan itu juga tidak terletak pada ilmu seni dan jabatan karena plato sang penakluk eropa yang mencintai seni hingga puncak kejayaan belum merasakan kebahagiaan. Bahkan banyak sekali contoh lain yang menunjukkan mahalnya kebahagiaan.

Baca Juga : Hujan di Penghujung Ramadhan

Kebahagiaan hakiki bersumber dari khalik dengan memberikan ketenangan dan kedamaian jiwa yang dirasakan oleh seorang mukmin sehingga jiwanya terbebas dari berbagai ketakutan, kecemasan, dan kegelisahan. Orang-orang beriman akan tenang hatinya apabila mengingat Allah, ketahuilah hanya dengan mengingat Allah jiwa akan mendapatkan ketenangan ( QS al Ra’du ayat 28 ). 

Dalam surah al-Baqarah ayat 153 Allah juga menjelaskan hai orang-orang beriman minta tolonglah kepada Allah dengan sabra dan shaat sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabra. Rasulullah juga menjelaskan “ Bukanlah dikatakan kaya orang yang mempunyai banyak harta tetapi orang yang kaya dan bahagia adalah orang yang tenang jiwanya “ (hadits)

Al-Qur’an menjelaskan manusia yang akan meraih kebahagiaan yang sesungguhnya dalam surah al-Baqarah ayat 1-5, hanya Allah yang mengetahuinya, kitab al-Qur’an tidak ada keraguan padanya pedoman bagi orang bertaqwa yakni orang yang beriman pada yang ghaib mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezekinya, orang yang beriman kepada al-qur’an yang diturunkan kepada Muhammad dan kitab yang telah diturunkan kepada sebelumnya serta yakin pada hari akhirat mereka itu orang yang mendapat petunjuk dan meraih keberuntungan / kebahagian. Disamping ayat diatas pemaknaan yang sama juga terdapat dalam surah al-Baqarah ayat 177 dan al-Mukmiinun ayat 1 sampai 11. Inti dari ayat diatas bahwa kebahagiaan akan diraih oleh umat yang beriman dan mendirikan shalat. 

Sedangkan orang yang ingkar pasti akan mendapat balasan penghidupan yang sempit firman Allah surah thaha ayat 124 “ barang siapa yang berpaling dari peringatanKu maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta.
  
Lalu kenapa kita belum merasakan kebahagiaan dalam shalat? Besar kemungkinan shalat yang dilaksanakan belum sampai kepada puncak kekhusyuan. Ibnu Qayyim mengartikan khusyu’ dengan keimanan, keyakinan kekhusyu’an hati kepada Allah dengan mengagungkanNya, membesarkan, tunduk, takut dan merasa malu dihadapan Allah. Kemudian hati akan fokus menginggat Allah. Kaum sufi mengartikan khusyu’ dengan mengahadirkan hati ingat kepada Allah (hudhurul qalbi). 

Dengan demikian mendapatkan  kebahagiaan dalam shalat bila dilaksanakan dengan ikhlas didorong rasa iman yang kuat yang berujung pada cinta Ilahi. Mushallin yang khusyu’ jiwanya akan takut dan harap kepada Allah, tertib tenang serta punya pengaruh terhadap akhlak berupa kecintaan melaksanakan yang baik dan berupaya menghindari perbuatan dosa. Shalat yang khusyu merupakan pondasi utama untuk melahirkan perbuatan-perbuatan mulia. 

Adapun tempat-tempat kebahagiaan dalam shalat. Pertama dalam membaca alfatihah. Surah Al-Fatihah merupakan bagian dari rukun shalat sehingga secara otomatis seluruh kaum muslimin pasti membacanya saban hari. Surah yang berarti pembukaan ini dikenal juga dengan istilah ummul kitab karena menjadi induknya kitab suci Al-Qur'an, di mana setiap kali dibaca akan mendatangkan pahala besar.

Salah satu keistimewaan membaca Surah Al-Fatihah adalah akan dijawab bacaan kita tersebut oleh Allah Swt. Keterangan ini dijelaskan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Muslim dari Abu Hurairah ra.

Bahwasanya Rasulullah saw bersabda, "Allah berfirman, 'Aku membagi salat antara diri-Ku dan hamba-Ku menjadi dua. Untuk hamba-Ku apa yang dia minta. Apabila hamba-Ku membaca, “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.” Makan Allah ta’ala berfirman, “Hamba-Ku memuji-Ku.” Apabila hamba-Ku membaca, “Ar-rahmanir Rahiim.” Maka Allah ta’ala berfirman, “Hamba-Ku mengulangi pujian untuk-Ku.” Apabila hamba-Ku membaca, “Maaliki yaumid diin.” Maka dijawab, “Hamba-Ku mengagungkan-Ku.” Dalam riwayat lain, Allah berfirman, “Hamba-Ku telah menyerahkan urusannya kepada-Ku.” Apabila hamba-Ku membaca, “Iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’in.” Allah ta’ala berfirman, “Ini antara diri-Ku dan hamba-Ku dan untuk hamba-Ku sesuai apa yang dia minta.” Apabila hamba-Ku membaca, “Ihdinas-Shirathal mustaqiim dan seterusnya, sampai akhir surat.” Maka Allah ta’ala berfirman, “Ini milik hamba-Ku dan untuk hamba-Ku sesuai yang dia minta.” (HR. Imam Ahmad dan Imam Muslim).

Dari hadis ini, kita bisa belajar bahwa sejatinya saat kita membaca Al-Fatihah, sama halnya kita tengah berdialog dengan Allah Swt. Maka dari itu alangkah baiknya kita membaca Surah Al-Fatihah dengan khusyuk dan tidak tergesa-gesa supaya bisa lebih mendalami Surah Al-Fatihah. Di sisi lain, membaca Surah Al-Fatihah juga mencakup doa serta penyerahan diri kita kepada Allah sebagai Zat yang Maha Memiliki. Semakin sering kita membaca Surah Al-Fatihah, insya Allah pahala akan semakin deras mengalir karena Allah SWT sendiri yang menjanjikannya dalam Surah Al-Hijr ayat 87."Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al-Qur'an yang agung."  Bila dihayati mendalam dialog alfatihah akan melahirkan keinsyafan dan tidak jarang akan mengalirkan cucuran air mata. 

Kedua sewaktu ruku’ dan sujud, pada posisi itu hamba berdoa kepada Allah “maha suci engkau ya tuhan kami dengan memujiMu ya Allah ampunilah daku". Rukuk dan sujud adalah penyadaran dan penginsyafan diri kepada zat yang agung dan memohon ampun kepadanya. Setiap anak cucu adam tidak ada yang tidak bersalah maka sebaik-baik orang yang bersalah maka bertaubat pada Allah. Maka rukuk dan sujud kepada Allah dengan berlutut mengakui kekurangan memuliakan Allah niscaya kita akan bahagi ketika mendapat pintu ampunan Allah

Ketiga melalui duduk antara dua sujud. Jika al-fatiha rukuk dan sujud dialog dan mengakui keagungan Allah maka duduk antara dua sujud akan menjawab tujuh kebutuhan pokok yang tidak boleh tidak harus terpenuhi dalam rangka meraih kebahagiaan dalam hidup. Apabila kebutuhan tersebut tidak bisa dipenuhi oleh seorang mukmin maka jiwanya akan gelisah dan sulit mendapatkan kebahagiaan dalam hidup. Shalat memohon tujuh kebutuhan hidup ketika duduk antara dua sujud "ya Allah ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupkan keperluan hidupku, angkatlah derajatku, berilah aku rezeki, berilah aku petunjuk dan berilah aku kesehatan dan maaf. Doa ini harus diucapkan dari hati yang dalam dengan perlahan dan khusyu’, tidak boleh cepat dan tergegas. Apabila dibaca dengan cepat tidak akan berarti do’a namun hanya informasi saja.

Keempat setelah selesai tasyahud kita juga mohon ampun, "ya Tuhanku beri ampunan aku terhadap dosaku yang lalu, dosa yang terakhir, baik dikerjakan rahasia maupun terang-terangan, dosa yang melampai batas, dosa yang engkau lebih mengetahui ketimbang aku, tiada tuhan yang disembah melainkan engkau". 

 Nampak jelas dari do’a tersebut kepasrahan dan kenikmatan serta kebahagiaan bertemu dengan rabb melalui salat. Maka sewajarnya ketika takbir diangkat hati merasakan hubungan langsung dengan Allah sehingga memperoleh kenikmatan ibadah dan puncak kebahagiaan. Ali bin thalib mengungkapkan Ketika takbir shalat dimulai maka aku akan meninggalkan dunia sesaat untuk merasakan kebahagiaan bertemu dengan Allah. Kiranya tulisan ini menggugah hati dan jiwa kita untuk memperbaiki shalat dan mendapatkan kebahagiaan yang sesungguuhya. Allahu ‘alam 
 

Editor : Rahma Nurjana
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]