Kenangan Bersama Bang Rusdi Lubis


Rabu, 28 April 2021 - 09:29:48 WIB
Kenangan Bersama Bang Rusdi Lubis Hasril Chaniago

KALAU bertemu Bang Rusdi Lubis, cerita bisa tak ada habisnya. Ada-ada saja pengalaman yang bisa dia ceritakan. Umumnya cerita pengalaman menarik, lucu, bahkan haru, dan ironi. Tentu tidak mengherankan, karena sebagai seorang pamong praja, Bang Rusdi mempunyai pengalaman sangat panjang. Mulai dari status ikatan dinas pada Kursus Dinas C (KDC) Bukittinggi tahun 1974, hingga pensiun sebagai Sekretaris Daerah Sumatra Barat tahun 2005, total ia berkarier sebagai birokrat pemerintahan di Sumatra Barat selama 41 tahun.

 

Baca Juga : Iedul Fithri: Geliat Ekonomi, Momentum Keluar Resesi

Oleh: Hasril Chaniago

(Wartawan Senior)

Baca Juga : Pembangunan dan Keadilan bagi Padagang Kaki Lima

 

Dilahirkan di Ujung Gadung, Lembah Malintang, Pasaman Barat, 13 Juli 1945, hingga usianya melewati 75, beliau tetap sehat wal afiat tanpa kurang satu apa pun. Belum pernah saya mendengar beliau sakit sehingga, misalnya, harus dirawat di rumah sakit. Oleh karena itu, sungguh mengejutkan pesan WA dari sahabat Eko Yanche Edrie, Selasa (27/4), sehabis sahur, menginformasikan bahwa Bang Rusdi meninggal dunia sekitar pukul 03.00 WIB di rumahnya, di Alai Parak Kopi, Padang Timur. Innalillahi wainna ilaihi raajiun. Semoga dan insya Allah husnul khatimah.

Kurang dari 20 jam sebelumnya, Senin pagi (26/4), saya masih membaca status Bang Rusdi pada akun FB-nya tentang pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Solok serta Solok Selatan, serta cerita singkat beliau pernah bertugas 11 tahun (1986-1997) di kedua kabupaten yang dulunya satu itu: Kabupaten Solok. Dan dua hari sebelumnya, Bang Rusdi, seperti biasa, masih memberikan komentar pada postingan facebook (FB) saya yang berjudul “Farid Prawiranegara dan Keteladanan Pemimpin Masa Lalu”. Dalam postingan itu Bang Rusdi menuliskan komentar sebagai berikut: “Senang sekali membaca kisah ini, sekarang sulit untuk terlaksana, karena hubungan itu selalu dikaitkan dengan kepentingan materi, bukan kekeluargaan dan kemanusiaan”.

Memang, sejak pandemi Covid-19 lebih setahun ini, “pertemuan” saya dan Bang Rusdi hampir setiap hari terjadi di media sosial FB. Kami berteman dekat. Beliau rajin memberi komen dan like hampir pada setiap unggahan saya, demikian pula sebaliknya. Saya membaca–memberi komen dan like–hampir semua unggahan beliau yang biasanya bercerita pengalaman atau pandangan atas sesuatu peristiwa. Isinya selalu bernas. Sebelum pandemi, mungkin sekali-dua-kali sebulan kami masih sempat bertemu fisik, misalnya dalam acara baralek, seminar, dan acara lain. Pertemuan kadang terjadi sewaktu sarapan pagi di hari Minggu di Restoran Soto Rajawali, biasanya setelah Bang Rusdi dan istri, Uni Risna Murti, selesai olahraga pagi Minggu di GOR Agus Salim.

Saya mengenal Bang Rusdi secara pribadi sekitar tahun 1991, ketika beliau menjadi Sekwilda Kabupaten Solok di bawah Bupati Ir. Nurmawan. Salah satu program unggulan Bupati Nurmawan adalah Gerakan Pengembangan Ekonomi Masyarakat yang disingkat “Gerbang Emas”. Kebetulan Pak Nurmawan meminta saya dan rekan Eko Yanche Edrie (waktu itu koordinator wartawan Singgalang di Solok) membantu menyusun “Gerbang Emas” menjadi sebuah buku. Otomatis, dalam proses menyusun buku tersebut, kami banyak “berurusan” dengan Pak Sekwilda yang tak lain adalah Bang Rusdi Lubis.

 Kesan saya, beliau adalah tipe birokrat pemerintahan yang profesional, sangat memahami tugas-tugasnya, mengerti masalah, serta pandai menempatkan dan membawakan diri: selaku anak buah bupati sekaligus sebagai kepala staf pemerintahan. Tak heran, beliau bisa menjadi Sekda selama tujuh tahun di bawah tiga bupati di Kabupaten Solok (dari Pak Arman Danau, Pak Nurmawan, hingga Pak Gamawan Fauzi). Setelah itu “bertambuah” pula menjadi Sekwilda Kabupaten Lima Puluh Kota tiga tahun berikutnya di bawah Bupati Aziz Haily, seniornya di APDN Bukittinggi.

Ir. Nurmawan dianggap Bupati Solok yang sukses, sehingga oleh Gubernur Hasan Basri Durin dinilai potensial menjadi salah satu calon gubernur pengganti beliau. Untuk itu, Pak Nurmawan cukup satu periode dan selanjutnya harus “diprovinsikan” sebagai Ketua Bappeda Sumbar. Siapa penggantinya? Saya mengusulkan kepada Pak Hasan agar Pak Gamawan–waktu itu Sespri Gubernur dan Kepala Biro Humas Pemda Sumbar, berusia 36 tahun– yang diberi kesempatan jadi Bupati Solok. Pak Hasan setuju. “Kondisikanlah,” kata beliau memberi lampu hijau. Maksudnya, mulai disosialisasikan dengan mengapungkana nama Pak Gamawan di media dan menggalang dukungan dari kelompok-kelompok masyarakat dan ormas di kabupaten Solok. Hal ini dimotori antara lain oleh sehabat kami Ir. Hendra Irwan Rahim, yang waktu itu Ketua KNPI Sumbar.

Dalam pada itu, ternyata nama Bang Rusdi Lubis juga mencuat sebagai calon bupati penerus Pak Nurmawan. Hal ini tentu karena kedekatan beliau dengan tokoh-tokoh dan masyarakat Kabupaten Solok sendiri. Dalam satu kesempatan, awal tahun 1995, Pak Hasan bertanya kepada saya, “Hasril, saya dengar Rusdi Lubis juga berminat jadi Calon Bupati Solok. Apakah dia yang menggalang dukungan?”

“Saya dengar iya, Pak. Tapi mungkin ada masyarakat yang mengusulkannya. Sebaiknya Bapak panggil saja Pak Rusdi,” kata saya menyarankan.

Setelah diminta Gubernur melalui Bupati, beberapa hari kemudian, Bang Rusdi menemui Pak Hasan di Gubernuran. Tak berapa lama setelah dengan Pak Rusdi, Pak Hasan meminta ADC Gubernur, Alwis (mantan Sekdaprov Sumbar) menyambungkan telepon ke saya. “Hasril, Rusdi Lubis sudah datang menemui saya,” kata Pak Hasan.

“Apa saran Bapak?” kata saya memburu.

“Saya tanya, berapa umurnya sekarang. Dia jawab 49 tahun. Berarti, kalau bisa eselon II (waktu itu Sekda masih eselon III), karier Rusdi masih ada 11 tahun. Saya sarankan Rusdi tidak usah ikut mencalonkan diri jadi bupati, berkarier sajalah sebagai pamong. Mungkin nanti akan dapat jabatan yang lebih baik,” kata Pak Hasan menjelaskan.

Tak lama kemudian, saya telepon Pak Rusdi ke rumah beliau di Alai, rumah yang ditempatinya sampai akhir hayat. Apa yang disampaikan Pak Hasan terkonfirmasi 100 persen. “Pak Gubernur menyarankan saya fokus berkarier sebagai pamong pemerintahan. Mungkin nanti ada posisi yang lebih baik untuk saya,” kata Pak Rusdi. Klir!

Bahwa karier Bang Rusdi terus berkibar terbukti kemudian. Sehabis jadi Sekda Solok (1997), sempat jadi Sekda Lima Puluh Kota, Asisten I Pemprov Sumbar, lalu jadi Pj. Wali Kota Bukittinggi, dan puncaknya jadi Sekda Sumbar (2002-2005). Pada hari beliau disetujui oleh DPRD sebagai Sekdaprov tahun 2002, Bang Rusdi langsung menelepon saya (waktu itu kami sudah pakai HP). “In, terimakasih dukungannya, ya. Ternyata apa yang dikatakan Pak Hasan tujuh tahun lalu, terbukti hari ini,” kata beliau.

Sejak Orde Baru, dan hingga tahun 2002 itu, posisi Sekda Provinsi dianggap lebih tinggi dan bergengsi dari pada bupati/kepala daerah. Contohnya, Pak Zainal Bakar meninggalkan jabatan Bupati Padang Pariaman untuk dipromosikan sebagai Sekda Sumbar.

Pertengahan 2005, Bang Rusdi pensiun dari PNS, bersamaan dengan Pilkada langsung pertama Sumatra Barat di mana beliau menjadi calon wakil gubernur mendampingi calon gubernur Leonardy Harmainy. Yang menang dalam Pilgub langsung pertama bulan Juni 2005 itu adalah pasangan Gamawan Fauzi–Marlis Rahman. Walaupun kalah, ikut dalam kontestasi Pilgub langsung itu bagi Bang Rusdi tetap dianggap ada hikmahnya.

“Paling tidak menambah catatan di kolom riwayat hidup,” katanya, disambung tawanya yang khas dengan mata menatap lawan bicara.

Tak lama setelah Pilgub langsung, Bang Rusdi dan saya sama-sama terpilih jadi Pengurus Muhammadiyah Sumbar. Kami diangkat menjadi pimpinan Lembaga Hikmah (Kebijakan Publik). Bang Rusdi sebagai ketua dan saya jadi sekretaris. Pertengahan tahun 2006, kami berdua diutus Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Sumbar mengikuti pertemuan nasional Lembaga Hikmah Muhammadiyah di Hotel Harris, Tebet, Jakarta. Di sana dua-hari-dua-malam kami dapat jatah satu kamar berdua, sehingga sangat banyak waktu untuk saling berbagi cerita dan pandangan.

Salah satu yang hangat waktu itu adalah rencana pendirian Partai Matahari Bangsa (PMB) yang diinisiasi kader-kader muda Muhammadiyah. Pendiri dan Calon Ketua Umum PMB adalah Imam Addaruqutni, kebetulan juga Ketua Lembaga Hikmah PP Muhammdiyah. Maka tak ayal, rapat Lembaga Hikmah tercampur aduk juga dengan promosi/sosialisasi PMB yang dalam persiapan pendirian. “Bagaimana pendapat Bang Rusdi, minat bergabung di PMB?” ujar saya bertanya.

“Kalau (menurut) ambo, ndak mungkinlah duo matoari (PAN dan PMB). Salah satu pasti tenggelam,” kata beliau. Terbukti kemudian, PMB yang juga mengusung basis massa Muhammadiyah, mirip dengan PAN, gagal lolos ke parlemen dalam Pemilu 2009. Ternyata memang hanya satu matahari yang bisa bersinar.

Walaupun sudah pensiun sebagai PNS dengan jabatan terakhir Sekdaprov Sumbar tahun 2005, Bang Rusdi sebenarnya tak pernah benar-benar pensiun. Malah kegiatannya tak pernah berkurang. Selain mengajar di IPDN Baso, ia juga menjadi tenaga ahli pimpinan DPRD Sumbar. Oleh para bupati/wali kota se-Sumbar, keahlian beliau hampir selalu dimanfaatkan sebagai panitia seleksi (pansel) pejabat eselon II (khususnya sekda) kabupaten kota. Kemana pun beliau pergi, hampir tak pernah luput dari unggahan pada akun FB-nya. Jadi, kita tahu semua perjalanan beliau.

Dalam perjalanan hidupnya, Bang Rusdi telah mencapai puncak karier dan pangkat tertinggi seorang birokrat. Mulai dari staf, ajudan bupati, kepala bagian, Ketua Bappeda, Sekda Kabupaten, hingga Sekda Provinsi. Beliau pernah mengaku kepada saya, satu cita-citanya yang tidak terwujud adalah menjadi camat. “Tamat APDN, dan kemudian IIP, saya ingin sekali menjadi camat. Tapi ternyata tidak pernah,” katanya.

Bang Rusdi adalah orang baik. Beliau pergi juga dalam keadaan baik, di bulan Ramadan dan di waktu yang baik tanpa mengalami sakit. Bang Rusdi, lebih 30 tahun kita bergaul, saya mohon maaf atas segala kesalahan dan kesilapan yang pernah terjadi. Juga mohon maaf, dengan berbagai pertimbangan, terutama masalah kesehatan, saya tidak bisa datang melayat dan mengantarkan Bang Rusdi ke peristirahatan terakhir. Selamat jalan Bang, insya Allah husnul khatimah. Hanya ini yang bisa saya berikan, tulisan kenangan selama pergaulan kita yang takkan terlupakan. Alfatihah untuk Bang Rusdi. Amin YRA. (*)

Editor : Heldi Satria
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]