Selamat Hari Puisi Nasional, Ini Ternyata Sejarahnya


Rabu, 28 April 2021 - 22:52:03 WIB
Selamat Hari Puisi Nasional, Ini Ternyata Sejarahnya Chairil Anwar.

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Hari ini (28/4/2021), 72 tahun lalu tepatnya 28 April 1949, penyair Chairil Anwar meninggal dunia. Setiap tanggal 28 April diperingati sebagai Hari Puisi Nasional di Indonesia. Hari Puisi Nasional Indonesia pada 28 April tiap tahun sekaligus mengenang wafatnya penyair Angkatan 45 Chairil Anwar. Mengenang hari Puisi Nasional berarti sama dengan mengenang Chairil Anwar. 

Dilansir dari Kompas .com, sosok Chairil Anwar Dalam buku "Chairil Anwar: Hasil Karya dan Pengabdiannya" karya Dri Sutjianingsih menjelang kematiannya, Chairil jatuh sakit. Dia sering pusing, muntah, dan sebagainya. Dia dibawa ke CBZ, yang sekarang adalah Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo. Chairil menderita beberapa macam penyakit yaitu paru-paru, infeksi darah kotor, dan usus. 

Lalu pada 28 April 1949 pukul 14.30 dia meninggal dunia dalam usia 27 tahun. Di saat-saat terakhirnya, dia mengigau saat panas tinggi dengan menyebut "Tuhanku, Tuhanku..." Sebuah sajak diselesaikannya menjelang kematiannya. Bahkan dia tak sempat memberi judul. 

Baca Juga : Yuk Bangun Pagi..!!!

Berikut sajaknya: 

Cemara menderai sampai jauh, 
terasa hari akan jadi malam, 
ada beberapa dahan disingkap merapuh, 
dipikul angin yang terpendam, 

aku sekarang orangnya bisa tahan, 
sudah berapa waktu bukan kanak lagi, 
tapi dulu memang ada suatu bahan, 
yang bukan dasar perhitungan kini. 

hidup hanya menunda kekalahan, 
tambah terasing dari cinta sekolah rendah, 
dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan, 
sebelum pada akhirnya kita menyerah. 

Chairil Anwar lahir pada 26 Juli 1922 di Medan dari pasangan Tulus dan Saleha. Chairil Anwar dilahirkan di tengah-tengah keluarga Minangkabau yang taat beragama. Meski begitu, dia merasa terkekang. Hal itu turut mempengaruhi kehidupannya dan juga karya-karyanya. Mula-mula Chairil Anwar sekolah di Hollandsch lnlandsche School (H.l.S) di Medan, kemudian melanjutkan ke MULO, juga di Medan, tetapi baru sampai kelas dua ia keluar dan pergi ke Jakarta yang waktu itu masih disebut Batavia. 

Suatu ketika Chairil pernah membacakan ibunya satu bagian dari buku "Layar Terkembang" karangan Sutan Takdir Alisyahbana dengan keras. Karena terdengar oleh polisi, dia dipanggil untuk diperiksa tentang macam-macam hal seperti filsafat, politik, kesusasteraan, agama dan lain-lainnya. Bagi bangsa Indonesia nama Chairil Anwar bukanlah suatu nama yang asing, terutama bagi sastrawan-sastrawan, guru-guru, pelajar maupun mahasiswa. 

Hal itu karena Chairil Anwar telah berhasil mengadakan pembaharuan dalam kesusasteraan terutama dalam puisi, sesudah Pujangga Baru. Pembaharuan itu meliputi penggunaan bahasa, pandangan hidup, dan sikap hidup. Chairil Anwar telah mempelopori lahirlah satu angkatan kesusasteraan baru yang disebut Angkatan 45. Secara garis besar, ciri-ciri angkatan 45 adalah penghematan bahasa, kebebasan pribadi, individualisme, berpikir lebih kritis dan dinamis. 

Dia membawa aliran baru yang disebut ekspresionisme, suatu aliran seni yang menghendaki kedekatan pada sumber asal pikiran dan keinsyafan. Chairil Anwar mendapat pengaruh dari penyair-penyair Belanda angkatan sesudah Perang Dunia I seperti Marsman, Du Perron dan Ter Braak. Gagasan-gagasan Chairil mengenai penciptaan dan sikap hidup masih terus merupakan inspirasi, juga bagi generasi-generasi penerusnya. 

Atas jasa-jasanya sebagai pelopor Angkatan 45, Pemerintah Republik Indonesia memberikan suatu Anugerah Seni kepada Chairil Anwar, dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 12 Agustus 1969, No. 071I1969. Anugerah Seni tersebut diterimakan kepada puteri Chairil satu-satunya yaitu Evawani Alissa. Kemudian hari wafatnya Chairil Anwar ditetapkan sebagai Hari Puisi Nasional. 

Di saat bersamaan, pemerintah Jepang melarang adanya perkumpulan (organisasi). Maka, beberapa seniman seperti Anjar Asmara dan Kamajaya menemui Soekarno membahas gagasan tentang mempersatukan kaum seniman dalam suatu wadah. Soekarno bersedia memprakarsai pendirian Pusat Kesenian Indonesia untuk menyatukan para seniman. Pusat Kesenian Indonesia berdiri pada 6 Oktober 1942 dengan Ketua Sanusi Pane. 

Salah satu karya Chairil Anwar yang terkenal adalah sajak Aku. Chairil Anwar mengatakan, penamaan Angkatan 45 harus berdiri sendiri, menjalankan dengan tabah dan berani nasibnya sendiri, menjadi pernyataan revolusioner. Chairil Anwar tak ingin bersifat sentimentil dan merendahkan diri secara berlebihan dalam menghadapi setiap persoalan. Ia ingin menjadi manusia wajar, merdeka mengeluarkan pendapat sendiri dan duduk sama rendah dengan sesama manusia di dunia ini. (*)

Editor : Agoes Embun | Sumber : Kompas.com
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]