India yang Raja Produsen Vaksin Saja Krisis Vaksin, Kok Bisa?


Rabu, 05 Mei 2021 - 01:30:26 WIB
India yang Raja Produsen Vaksin Saja Krisis Vaksin, Kok Bisa? Latihan Nasional Jelang Program Vaksinasi Corona Massal di India

HARIANHALUAN.COM - Gelombang infeksi Covid-19 di India nyatanya tidak diimbangi oleh pasokan dan stok vaksin yang mencukupi. Bahkan dilaporkan bahwa negara produsen vaksin terbesar dunia itu saat ini defisit vaksin untuk kebutuhan domestiknya.

Dikutip dari CNBC Indonesia, selama akhir pekan kemarin, lebih dari 600 juta orang India memenuhi syarat untuk mendapatkan vaksin virus corona dalam sebuah kebijakan yang diberlakukan setelah gelombang kedua mematikan yang melanda negara itu bulan lalu.

Baca Juga : Jepang Dihantam Gelombang 4 Corona, Hingga yang Meninggal di Rumah Meningkat

Namun, seperti yang telah diperkirakan banyak orang, kekurangan vaksin telah terbukti menjadi hambatan besar bagi peluncuran dan sejauh ini hanya 12 dari 36 negara bagian dan wilayah persatuan di India yang memiliki stok cukup vaksin untuk mulai memvaksinasi di atas 18 tahun, dan banyak yang hanya dalam jumlah kecil.

Hingga Minggu (2/5/2021), menurut kementerian kesehatan, hanya 86.023 orang berusia antara 18 dan 45 yang telah menerima vaksin pertama mereka. Negara bagian yang telah menginokulasi jumlah orang dewasa tertinggi adalah Gujarat, negara bagian asal perdana menteri, Narendra Modi, di mana dia adalah mantan menteri utama dan yang dipimpin oleh partai Bharatiya Janata (BJP).

Baca Juga : Warga Gunakan Kotoran Sapi Cegah Covid-19, Dokter India: Stop, Itu Bahaya!

Adar Poonawalla, kepala eksekutif Serum Institute, mengatakan bahwa kekurangan vaksin yang parah di India akan berlanjut "selama berbulan-bulan", mungkin hingga Juli, karena pemerintah Modi belum memesan tepat waktu sehingga mereka tidak meningkatkan kapasitas produksi sebelumnya. .

"Pembuatan vaksin adalah proses khusus. Oleh karena itu, tidak mungkin untuk meningkatkan produksi dalam semalam," ujarnya

"Kami juga perlu memahami bahwa populasi India sangat besar dan menghasilkan dosis yang cukup untuk semua orang dewasa bukanlah tugas yang mudah."

Sementara itu Delhi juga menolak mengizinkan Pfizer mendaftarkan vaksin di India beberapa bulan lalu, meskipun telah disetujui di AS dan UE. CEO Pfizer, Albert Bourla, mengonfirmasi pada hari Senin (3/5/2021) bahwa pihaknya sedang dalam pembicaraan dengan pemerintah India tentang persetujuan vaksin.

Selain dengan Pfizer, gelombang pertama dari 150.000 dosis vaksin Sputnik juga telah tiba di India.

Pemerintah India secara keseluruhan dianggap gagal dalam menangani pandemi Covid-19 yang menyerang negara itu Bahkan beberapa pihak meminta agar PM Modi untuk mundur. Permintaan ini dilandasi oleh sikap Modi yang terlihat tidak peduli dengan penyebaran Covid-19.

Bahkan pemerintahannya dianggap gagal dalam mengatasi mobilitas publik pada acara tradisi Kumbh Mela di Sungai Gangga. Di saat pandemi yang masih meluas di negara itu, tradisi ini masih tetap saja terjadi dengan mengumpulkan kerumunan sebanyak 5 juta orang. (*)

Editor : Heldi Satria | Sumber : CNBC Indonesia
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]