Profesi Pelayanan Publik, Harus Jadi 'Role Model' Pelaksanaan Protokol Kesehatan


Rabu, 05 Mei 2021 - 16:28:19 WIB
Profesi Pelayanan Publik, Harus Jadi 'Role Model' Pelaksanaan Protokol Kesehatan dr. Wendra Saputra

Kasus COVID-19 di Indonesia dalam beberapa hari belakangan ini terus menunjukkan peningkatan. Jauh berbeda dengan beberapa bulan yang lalu yang sudah melandai turun. Data terakhir yang dihimpun pada hari minggu, 2 Mei 2021 tercatat kasus COVID-19 baru sebanyak 4.394 kasus, sehingga sampai saat ini kasus covid aktif di Indonesia adalah 100.760 Orang.

Oleh: dr. Wendra Saputra - Kepala Puskesmas Bawan Agam

Dari jumlah kasus baru tersebut, Sumatera Barat (Sumbar) menduduki posisi ke-4 dari seluruh provinsi di Indonesia. Tercatat 270 kasus baru yang muncul di bumi para ulama ini di hari minggu, 2 Mei 2021 kemaren.

Baca Juga : Membangun Warga Terlatih dalam Memperkokoh NKRI

Peningkatan kasus COVID-19 di Indonesia dan khususnya di Sumbar tentu tidak bisa kita abaikan begitu saja. Tentu kita tidak mau kasus ‘tsunami’ COVID-19 yang terjadi di India juga terjadi di negeri kita tercinta.

Cukuplah kejadian di India menjadi pelajaran penting bagi kita bahwa mengabaikan pandemi COVID-19 ini akan berakibat fatal dan berujung bencana besar.

Sedikit gambaran penanganan pandemi COVID-19 di India yang sudah mengalami kelebihan beban perawatan, sebagaimana dilansir dari halaman kompas.com, Selasa (4/5/2021), digambarkan situasi yang terjadi di India, pasokan tempat tidur, oksigen, dan tenaga medis terbatas.

Bahkan beberapa pasien COVID-19 meninggal di ruang tunggu atau diluar klinik yang sudah kewalahan menampung pasien. Pasien terduga COVID-19 itu bahkan ada yang meninggal sebelum dilakukan pemeriksaan oleh dokter.

Gambaran nyata COVID-19 di India, tentulah harus kita jadikan pelajaran karena tidak mustahil itu terjadi di negeri kita. Kondisi di India bukanlah sebagai kabar pertakut atau sebagai intimidasi, namun kondisi India diatas perlu kita jadikan sebagai bahan evaluasi.

Sejauhmana usaha pencegahan dan penanggulangan yang sudah kita laksanakan sekarang?

Kira-kira mampukah kita menghindar dari suasana mencekam seperti yang dialami India saat ini?

Tentu yang bisa menjawab keadaan diatas adalah diri kita sendiri.

Salah satu penyebab peningkatan kasus di Sumbar adalah protokol kesehatan tidak berjalan. Dalam banyak jurnal penelitian, disimpulkan bahwa penggunaan masker telah terbukti mengurangi penyebaran COVID-19, masker terbukti mencegah ‘droplet’ masuk ke dalam sistem pernapasan manusia, sehingga menyebabkan tidak adanya proses penularan.

Nah, apakah hubungan antara peningkatan kasus COVID-19 di Sumbar dengan penggunaan masker?

Peningkatan jumlah kasus COVID-19 di Sumatera Barat disinyalir dikarenakan semakin abainya masyarakat terhadap pelaksanaaan protokol kesehatan terutama pemakaian masker.

Sebagian besar masyarakat masih beranggapan bahwa memakai masker hanya untuk terhindar dari razia dan operasi yustisi pelanggaran masker saja, atau memakai masker agar bisa diberikan pelayanan publik saja, seperti kesehatan di rumah sakit dan Puskesmas, pelayanan perbankan di Bank, dan sebagai syarat pelaksanaan pelayanan publik lainnya.

Artinya masih sedikit masyarakat yang berpandangan bahwa pemakaian masker memang berguna untuk mencegah diri dari penularan COVID-19.

Pengalaman penulis mengamati kondisi di daerah tempat tinggal, di Pasar yang beroperasi setiap hari Jumat, dengan daya tampung ribuan lebih pembeli dan penjual.

Masyarakat memang hanya menggunakan masker ketika ada team gabungan datang, tetapi ketika team berbalik, dua jam kemudian masyarakat juga sudah tidak ada yang memakai masker.

Begitu juga disaat memberikan pelayanan kesehatan di puskesmas, pasien dan keluarga hanya menggunakan masker untuk kepentingan masuk ke ruangan pemeriksaan sebagai syarat untuk dilayani.

Fenomena diatas tentu membuat kita risau, upaya pencegahan dengan pemberlakuan 3 M hanya dianggap sebagai kewajiban bukan dianggap sebagai keperluan.

Fenomena yang lebih menyedihkan lagi, mungkin tertuju kepada pelayanan publik, terutama tenaga kesehatan, banyak kita liat penerapan protokol kesehatan pada tenaga kesehatan hanya digunakan saat melayani pasien, setelah tidak dalam tugas pelayanan atau kembali ke masyarakat, masker tidak dipakai lagi, ini juga jamak kita temukan pada pejabat publik, petugas satpol PP, kepolisian, aparatur sipil negara, aparatur desa dan petugas lain yang terlibat dalam penegakkan protokol kesehatan di masyarakat.

Profesi pelayanan publik, pejabat publik sebaiknya menjadi contoh pelaksanaan protokol kesehatan

Profesi pelayanan publik, seperti tenaga kesehatan, tenaga kependidikan, aparatur desa, satuan polisi pamong praja, dan kepolisian, serta pejabat publik harus mampu menjadi contoh pelaksanaan protokol kesehatan ditengah masyarakat; karena jika itu tidak terlaksana, maka jangan salahkan masyarakat juga tidak patuh dengan himbauan yang sudah kita lakukan.

Profesi pelayanan publik juga harus mampu menjadi ‘role model’ di lingkungan tempat tinggalnya.

Khususnya dalam menjalankan protokol kesehatan, baik saat di pasar, di tempat ibadah, dan pusat pusat keramaian lain.

Jika ini bisa diterapkan, insyaallah pelan-pelan masyarakat umum juga akan ikut dengan pelaksanaan protokol kesehatan.

Sehingga apa yang kita takutkan dan sudah terjadi di India tidak terjadi di negeri kita tercinta ini.

Cukuplah kasus di india menjadi guru terbaik bagi kita. (*)

 

Reporter : Endrik Ahmad Iqbal | Editor : Rahma Nurjana

BERITA TERKINI Index »

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]