Muhasabah Perpisahan dengan Ramadan


Selasa, 11 Mei 2021 - 09:05:26 WIB
Muhasabah Perpisahan dengan Ramadan Afri Yendra

Oleh: Afri Yendra
Widyaiswara PPSDM Kemendagri Regional Bukittinggi.

________________________
‎"كيف لا تجري للمؤمن على فراق رمضان دموعُ وهو لا يدري هل بقي له في عمره إليه رُجوع !"
“Bagaimana mungkin air mata seorang mukmin tidak berlinang, _Manakala ia berpisah dengan bulan Ramadhan (bulan yg penuh berkah). Sementara ia tidak mengetahui, akankah tersisa dari umurnya untuk kembali bertemu dengannya.?!
(Alhafidz ibnu Rajab dalam Lathoiful Ma'arif, Hal : 217)
___________________________________________

Nabi Musa as. pernah bermunajat kepada Allah, “Ya Rabb, ratusan tahun aku dan kaumku beribadah dan mengabdi kepada-Mu. Setiap yang aku mintakan untuk kaumku Engkau berikan dan setiap kesulitan yang menimpa kaumku Engkau mudahkan. Sungguh, keistimewaan yang besar yang Engkau berikan kepadaku dan kaumku. Apakah ada yang lebih istimewa dari yang Engkau berikan ini, Ya Rabb?”.

Baca Juga : Tim Sapa Ramadan Akhiri Perjalanan ke-19 Kabupaten/Kota, Bagi-bagi THR pada Anak Yatim

Allah swt. menjawab munajat Nabi Musa as. itu, “Ada, Ya Musa, suatu saat nanti akan ada satu kaum yang Aku berikan keistimewaan yang melebihi seluruh keistimewaan yang Aku berikan kepada kaum-kaum sebelumnya.

Dalam hari-harinya Aku berikan kemuliaan, setiap pahala akan Aku lipatgandakan, pintu surga akan Aku buka, pintu neraka akan Aku tutup dan setan-setan akan Aku belenggu serta yang lebih istimewa lagi, di dalamnya akan ada satu malam yang lebih mulia dari seribu bulan, saat itulah ribuan malaikat-malaikat-Ku akan turun ke bumi.

Barangsiapa yang meminta ampun akan Aku ampuni, barangsiapa yang minta kebutuhan akan Aku turuti, barangsiapa yang bertaubat akan Aku terima dan barangsiapa yang berdoa akan Aku kabulkan. Dan umat yang diberikan bulan dan malam itu adalah umat Nabi Muhammad saw.”

Nabi Musa as. berkata “Sungguh beruntung umat Nabi Muhammad saw. yang mendapatkan keistimewaan bulan dan malam itu dalam keadaan beribadah kepada-Nya dan bisa memanfaatkannya dengan baik”.

Begitu dasyatnya kemulian bagi Ummat Muhammad dengan hadirnya Bulan Ramadhan. Disamping kemulian tersebut, ada lagi sebuah kemuliaan Agung bahwa Ramadhan adalah Bulan ini bak Jalan Tol mendapat derjat tertinggi disisi Allah SWT, yaitu Taqwa (Al-Baqarah 183), dan yang perlu kita fahami bahwa  amalan amalan seorang hamba yang Allah terima hanyalah amalan orang bertaqwa, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Ma-idah: 27)”
Sungguh amat malanglah kita, 
ramadhan pergi, taqwa tak kunjung kita miliki. 
Ramadhan telah usai, taqwa tak juga kita raih. 
Ramadhan berangkat, kita masih dalam maksiat, 

Suatu masa ‘Umar bin ‘Abdul Aziz berkhutbah pada hari raya Idul Fithri, “Wahai sekalian manusia, kalian telah berpuasa selama 30 hari. Kalian pun telah melaksanakan shalat tarawih setiap malamnya. Kalian pun keluar dan memohon pada Allah agar amalan kalian diterima. Namun sebagian salaf malah bersedih ketika hari raya Idul Fithri.

Dikatakan  kepada mereka, “Sesungguhnya hari ini adalah hari penuh kebahagiaan.” Mereka malah mengatakan, “Kalian benar. Akan tetapi aku adalah seorang hamba. Aku telah diperintahkan oleh Rabbku untuk beramal, namun aku tidak mengetahui apakah amalan tersebut diterima ataukah tidak.”

Adakah yang yakin amalannya di bulan ini diterima …Shalat tarawih yang dilakukan setiap malam, yakinkah diterima? Tilawah Al Qur’an setiap malamnya, yakinkah diterima? Sedekah dan buka puasa, yakinkah diterima? Jauh daripada itu apatah dosa-dosa kita telah Allah ampuni?? 

Duhai diri, yang didalam genggamanMu ya Robb, kuserahkan dan kupasrahkan kepadaMu. Seandainya segala kekurangan kiranya Engkau yang mencukupi, tatkala tarawih, tilawah, sadaqoh jauh dari kesempurnaan kiranya Engkau yang menyempurnakan, duhai Zat yang maha Sempurna.

Selanjutnya Pertanyaan yang besar yang harus kita tanyakan adalah “sudah bertaqwakah saya”?
Pertanyaan sudah bertaqwakah saya, adalah pertanyaan yang harus ditanyakan oleh setiap diri Insan beriman setelah melaksanakan Puasa bulan suci Ramadhan, karena berpuasa itu tujuan utama yang dicapai adalah “TAQWA” sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Quran Albaqaran 2: 183 : “ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Dalam Alquran perkataan Taqwa lebih delapan puluh kali disebutkan oleh Allah SWT karena ini penting merupakan maqam tertinggi. surat ali Imran ayat 133 Allah SWT memerintahkan kita  untuk betaqwa dengan  mengawali dengan kata “..dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,

Inilah balasan kepada orang yang Allah ajak bertaqwa, maka balasannya Subhanallah, sungguh amatbesar, sungguh amat mulia dari Allah yaitu Syurga dengan segala macam kenikmatan yang tidak dibandingkan dan disandingkan dengan kenikmatan dunia, syurga itu luas meliputi luas langit dan bumi.

Disamping itu Allah berjanji Allah terhadap orang Bertaqwa yaitu:  Pertama, Allah akan Keluarkan dari Kesulitan Hidup. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Kedua, Allah Mengampuni dosa-dosa Kita, sebagaimana FirmanNya dalam Surat Al-Anfal ayat 29 ‘Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. dan Kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. dan Allah mempunyai karunia yang besar”. dan yang ketiga adalah Keberkatan Negeri, Firman Allah Surah Al-A’raf ayat 96:  “Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Sebagai kaca, untuk bercermin diri pertanyaan sudah bertaqwakah saya diberikan oleh Allah SWT memberikan alat ukurnya yaitu Ciri dan Sifat orang bertqwa.

Ciri orang bertaqwa disebutkan oleh Allah SWT, Dalam Firman Allah Qs. Albaqarah 2:3-4 ada 5 (lima) ciri-ciri orang bertaqwa yaitu:
Ciri pertama, yu’minuuna bil ghaib, beriman terhadap yang ghaib. 
Menurut Ibnu ‘Abbas, yu’minuun artinya yushdiquun (membenarkan). Abu al-‘Aliyah menjelaskan makna yu’minuuna bil ghaib artinya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, Hari Akhir, surga-Nya, Neraka-Nya dan pertemuan dengan-Nya, serta beriman dengan kehidupan setelah kematian dan Hari Kebangkitan. ‘Atha menyatakan barangsiapa beriman kepada Allah maka sesungguhnya dia telah beriman kepada yang ghaib. Ibnu ‘Abbas menyatakan bahwa bil ghaib maknanya terhadap apa saja yang datang dari Allah.

Zaid ibn Aslam menyatakan bil ghaib artinya bil qadr (ketentuan Allah). Menurut Ibnu Katsir, semua yang disebutkan ulama salaf diatas adalah benar, dan makna ghaib mencakup semuanya (lihat tafsir Ibnu Katsir).

Dari ciri pertama ini bisa kita pahami bahwa ciri orang yang bertaqwa adalah orang-orang yang beriman terhadap semua hal ghaib yang diinformasikan oleh Allah ta’ala dalam al-Qur’an al-Karim dan as-Sunnah al-Mutawatirah.

Ciri kedua, yuqiimuunash shalah, mendirikan shalat.
Mendirikan shalat menurut Ibnu ‘Abbas maksudnya adalah mendirikan shalat dengan semua fardhunya. Sedangkan menurut Qatadah, mendirikan shalat artinya memelihara waktu-waktunya, wudhu, ruku’ dan sujudnya. Muqatil ibn Hayyan menjelaskan definisi mendirikan shalat adalah menjaga waktu-waktunya, menyempurnakan thaharah, menyempurnakan ruku’ dan sujudnya, membaca Al-Qur’an didalamnya, serta bertasyahud dan membaca shalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (lihat tafsir Ibnu Abi Hatim).

Dari penjelasan para mufassir diatas, bisa kita simpulkan bahwa yuqiimuunash shalah artinya mendirikan shalat dengan melaksanakan semua rukunnya dan menyempurnakannya dengan semua sunnah sejak thaharah sampai selesai shalat. Inilah ciri ke-2 orang-orang yang bertaqwa.

Ciri ketiga, mimmaa razaqnaahum yunfiquun, menafkahkan sebagian harta yang telah Allah rizkikan kepada mereka. 
Menurut Ibnu ‘Abbas maksudnya adalah zakat wajib, sedangkan menurut Ibnu Mas’ud maksudnya adalah Nafkah seorang laki-laki pada keluarganya, karena itu adalah afdhalun nafaqah.

Imam ang engkau nafkahkan untuk membebaskan budak, dinar yang engkau shadaqahkan kepada orang miskin, dan dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu, dari semuanya itu yang pahalanya paling besar adalah yang engkau nafkahkan untuk keluargamu.” (shahih Muslim: 995). Silakan lihat penjelasan hal ini dalam tafsir al-Qurthubi.

Menurut Qatadah, seperti dikutip oleh al-Baghawi dalam tafsirnya, makna yunfiquun adalah yunfiquuna fii sabiilillah wa thaa’atih. Tafsir Qatadah ini cukup luas dan menunjukkan semua nafkah atas harta yang berorientasi ketaatan kepada Allah ta’ala tercakup dalam ayat ini.

Berarti ini juga mencakup tafsir dari Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Mas’ud tanpa perlu mempertentangkannya. Inilah pendapat yMuslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dinar yang engkau nafkahkan fi sabiilillah (maksudnya perang di jalan Allah), dinar yang saya pegang. Wallahu a’lam bishshawwab.

Ciri keempat, alladziina yu’minuuna bimaa unzila ilayka wa maa unzila min(g) qablik, beriman terhadap kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kepada Rasul-rasul sebelum beliau. 

Apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Al-Qur’an, tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini. Sedangkan kitab-kitab yang diturunkan sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Qatadah menyebutkan ia adalah Taurat, Zabur dan Injil (lihat Tafsir Ibnu Abi Hatim). Ibnu ‘Abbas berkata tentang maksud dari alladziina yu’minuuna bimaa unzila ilayka wa maa unzila min(g) qablik, adalah membenarkan apa yang datang kepadamu (wahai Muhammad, yaitu Al-Qur’an) berasal dari Allah, dan membenarkan kitab-kitab yang ada pada Rasul-rasul sebelummu, mereka tidak membedakan kitab-kitab tersebut dan tidak mengingkari bahwa semua kitab tersebut datang dari rabb mereka.

Ciri kelima, bil aakhirati hum yuuqinuun, yakin dengan adanya akhirat. 
Menurut Ibnu ‘Abbas, maksud aakhirah adalah ba’ts, qiyaamah, surga, neraka, hisab dan mizan (lihat tafsir Ibnu Abi Hatim). Makna al-yaqiin adalah al-‘ilmu duuna asy-syakk (pengetahuan tanpa ada keraguan sedikitpun), demikian menurut al-Qurthubi.

Dari sini kita bisa pahami, orang yang bertaqwa adalah orang yang yakin 100% akan adanya hari akhir, hari kebangkitan kembali seluruh manusia dan hari perhitungan seluruh amal manusia di dunia, apakah seseorang akan berada di surga ataukah di neraka. Keyakinan ini tentu akan menghasilkan ketaatan kepada seluruh perintah Allah ta’ala.

Inilah 5 ciri orang yang bertaqwa yang disebutkan di awal surah al-Baqarah. Dalam ayat-ayat lain dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga disebutkan ciri-ciri lain dari orang yang bertaqwa, ayat ke-5 dari surah al-Baqarah. Dinyatakan oleh Allah Mereka (orang-orang yang disebutkan dalam al-Baqarah ayat 3 dan 4), tetap berada dalam hudan dari rabb mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. ‘Alaa hudan, artinya nuur, bayaan dan bashiirah dari Allah ta’ala, demikian menurut Ibnu Katsir.

Ke-Taqwaan seseorang dapat dilihat dari Sifat-Sifatnya  yaitu :
Sifat pertama: Takut. Dalam al-Quran terdapat 174 ayat yang membicara tentang Sifat takut ini diantaranya . Qs. Asy-Syu’ara 50 Artinya : Mereka berkata, tidak ada yang kami takutkan, karena kami akan kembali kepada Tuhan kami, berikutnya disebutkan dalam . Qs. Qaf 33 artinya : (Yaitu) orang yang takut kepada Allah Yang Maha Pengasih, sekalipun tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertobat,

Sifat Kedua : Harap. Dalam al-Quran terdapat 53  ayat yang membicara tentang Sifat harap ini diantaranya adalah : QS. At Taubah 59 Artinya : Dan sekiranya mereka benar-benar rida dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Allah dan Rasul-Nya, dan berkata, “Cukuplah Allah bagi kami, Allah dan Rasul-Nya akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya kami orang-orang yang berharap kepada Allah.”  

Qs. An-Nisa 104 “Dan janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka ketahuilah mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu rasakan, sedang kamu masih dapat mengharapkan dari Allah apa yang tidak dapat mereka harapkan. Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.  

Sifat Ketiga : Syukur. Dalam al-Quran terdapat 75  ayat yang membicara tentang Sifat Syukur ini diantaranya adalah : QS. Adh-Dhuha 11 ‘Dan terhadap nikmat Tuhan-mu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).’  

QS.  Al. Ahqaf 15  "Ya Tuhanku, tunjukilah Aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang Telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya Aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku.

Sifat Keempat :Sabar. 
Dalam al-Quran terdapat 94 ayat yang membicara tentang Sifat sabar diantaranya adalah : Qs. Albaqarah 153 “ Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.  Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Qs. Al-A’raf ayat 126” (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan matikanlah kami dalam keadaan Muslim (berserah diri kepada-Mu).”

Sifat Kelima : Tawakkal. Dalam al-Quran terdapat 35  ayat yang membicara tentang Sifat Tawakal, diantaranya adalah : Qs. Ali Imram ayat 159. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah Mencintai orang yang bertawakal.

Sifat Keenam adalah Mahabbah. (Mencintai) Sifat ini terdapat 34 ayat dalam alquran diantaranya Qs. Ali Imran ayat 31 Artinya : Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah Mencintaimu dan Mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Penutup. Semoga kita telah mampu menjadi hambaNya yang bertaqwa dengan Ciri dan Sifat seperti yang Allah sebutkan dalam Alquran, SWT. Akhirnya ketaqwaan kita akan dibalas oleh Allah SWT dengan balasan yang amat sangat mulia.(*)
 

Editor : Nova Anggraini
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]