Malamang, Tradisi Lebaran yang Tak Dimakan Waktu


Kamis, 13 Mei 2021 - 00:49:56 WIB
Malamang, Tradisi Lebaran yang Tak Dimakan Waktu Masyarakat memasak lamang di Taluak Sikumbang, Kelurahan Lubuk Minturun, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Rabu (12/5/2021).

Hujan dengan intensitas sedang mengguyur Kota Padang pada Rabu (12/5/2021). Namun, antusiasme warga untuk memeriahkan Lebaran tidak surut. Terbukti, beberapa warga, terutama di kawasan Lubuk Minturun, Kecamatan Koto Tangah tetap keukeuh melakukan tradisi yang dari tahun ke tahun mereka lakoni, yakni, tradisi malamang. 

Agusmanto - Lubuk Minturun, Kota Padang

Memasak lemang atau yang disebut dengan 'malamang' ini adalah tradisi khas di Minangkabau. Lamang ini sendiri ada dua jenis, yakni, lamang putih yang terbuat dari beras pulut dan lamang hitam yang terbuat dari beras ketan (hitam). Tapi, di sejumlah wilayah ada yang mengkombinasikan lamang ini dengan pisang ataupun luo (kelapa campur gula aren). 

Baca Juga : Ternyata Gadis Minang, Suci Ramadhani Juru Bahasa Isyarat di Polres Karimun

Sejak pagi, warga di kawasan Lubuk Minturun ini sudah terlihat mempersiapkan semua kebutuhan untuk malamang. Berbagai peralatan yang digunakan mulai dari bahan-bahan pembuat lamang, bambu untuk memasak lamang dan kayu sebagai tempat berdiri lamang serta kayu untuk bahan bakar. Biasanya, saat memasak lamang, warga memilih ruang terbuka, namun karena cuaca buruk, warga terpaksa memasang terpal sebagai atap. 

Cara memasak lamang pun unik. Karena dilakukan diatas tanah, warga yang memasak lamang harus menaburkan sekam padi dahulu disekitar kayu bakar. Gunanya untuk memastikan api selalu hidup. Setelah memastikan tempat perapian selesai, barulah disiapkan bahan-bahan yang diperlukan untuk memasak lamang seperti bambu khusus untuk lamang, daun pisang, santan, kemudian bahan dasar lamang yang akan dibuat misalnya beras ketan, pisang dan sebagainya.

Salah seorang pembuat lamang di Lubuk Minturun, Elmi menjelaskan, lamang itu banyak jenisnya. Ada yang menggunakan beras ketan biasa, beras ketan hitam dan bisa dicampurkan dengan pisang. "Untuk bambunya, sudah disiapkan sekitar dua atau tiga hari sebelumnya dalam bentuk potongan, begitu juga dengan kelapanya," kata Elmi.

Ketika memasak lamang, santan kelapa yang akan digunakan sudah mulai diperas saat Subuh. Nanti, ketika mulai memasak, bambu yang sudah dibersihkan dan dilapisi daun pisang akan dimasukkan ketan serta campurannya. "Beras ketan yang sudah dicuci dimasukkan ke dalam bambu yang bagian bawahnya tertutup, jangan yang bolong. Selanjutnya baru santan dan siap untuk diletakkan di perapian," katanya.

Ketika lamang sudah ditempatkan di perapian, jangan diberi api besar. Jika sudah dibariskan, tinggal menunggu bambu tersebut matang atau membutuhkan waktu sekitar empat jam hingga mendidih dan matikan api, barulah lamang bisa disajikan. Lamang biasanya disajikan saat Lebaran dan dibawa ke rumah sanak keluarga atau ke rumah mertua. (*)

Reporter : Agoes Embun | Editor : Agoes Embun
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]