Sukar Inyiek Rajo Suleman Satu-satunya Pucuk Pimpinan Adat Persukuan Caniago Gasing


Jumat, 11 Juni 2021 - 17:00:09 WIB
Sukar Inyiek Rajo Suleman Satu-satunya Pucuk Pimpinan Adat Persukuan Caniago Gasing Dokumen milik persukuan Caniago Gasing.

PADANG ARO, HARIANHALUAN.COM - Tokoh masyarakat dari Suku Caniago, Gasing, Nagari Lubuk Ulang Aling Selatan, Sangir Batang Hari, Solok Selatan, Sumbar, Darlis menegaskan, bahwa tidaklah ada seorangpun yang berhak memegang gelar Inyiak Rajo Suleman dari persukuan Caniago Gasing, sebagai "Tiang Panjang Nan Sabatang", pucuk pimpinan adat di "Bagian Nan Duo Baleh Dikato", dalam Nagari Lubuk Ulang Aling Selatan, selain dari Sukar Inyiek Rajo Suleman. 
 
Alasannya menegaskan ini, karena ada terkesan selentingan selama ini orang yang mengaku-aku selaku Inyiek Rajo Suleman dengan berbagai dalih. Sedangkan yang sudah dilewakan secara resmi atau yang sudah dinobatkan secara adat oleh Rajo Lubuak Tarok di hadapan Datuak Nan Duo Baleh Dikato beserta anak kemenakan dengan memotong seekor sapi beberapa waktu yang lalu, ialah Sukar Inyiek Rajo Suleman, yang memegang gelar itu sekarang ini. 

Demikian Darlis mengemukakan kepada Haluan.com dalam suatu wawancara, Jumat (11/6-2021).

Simak Terus Berita Sumbar Hari Ini di harianhaluan.com
     
Lebih jauh dikemukakan Darlis, jika ini dibiarkan akan membuat anak kemenakan bingung dan terkesan ada dua matahari dalam kepemimpinan secara adat di Tiang Panjang, Inyiek Rajo Suleman.

Baca Juga : Denda Tak Patuh Prokes di Sumbar Capai Puluhan Juta Rupiah, Untuk Apa Ya?

"Ini tidak boleh terjadi. Jangankan ada Inyiek Rajo Suleman selain Sukar Inyiek Rajo Suleman, wakil Inyiek Rajo Suleman pun tak ada sampai sekarang", tegasnya. Sukar Inyiek Rajo Suleman menerima gelar ini dari M. Rasyat Inyiek Rajo Suleman yang sudah meninggal dunia. 

Dikatakan Darlis selanjutnya, dahulu pada tahun 1984, seiring dengan adanya pernyataan kuasa kepada Sutan Syahrilis, salah seorang anak kemenakan suku Chaniago Gasing dari Bujang Taladan Inyiek Rajo Suleman (alm.) untuk mengurus pengembalian pengelolaan goa sarang walet Gasing dari CV. Sinar Harapan Pimpinan Acong, bersama-sama dengan M. Rasyad dan Abdul Muthalib, sekaligus juga diberikan pula kuasa Wakil Inyiek Rajo Suleman kepada Sutan Syahrilis.

Simak Terus Berita Sumbar Terkini di harianhaluan.com

Namun setelah pengelolaan goa sarang walet kembali ke kaum semenjak berdiri KUD Lubuk Ulang Aling sebagai wadah pengelolaan usaha sarang walet ini, tanggal 4 November 1989,  kuasa itu telah dicabut dan tidak berlaku lagi. 

Surat pernyataan tersebut dibuat oleh M. Rasyad, Inyiak Rajo Suleman selaku Tiang Panjang Na Sabatang di Bagian Nan Duo Baleh Dikato, yang menggantikan Bujang Taladan karena telah wafat, Na'abat Dt. Bgd. Nan Putiah selaku Pucuk Adat Suku Piliang Gasing, Abdul Mutalib Dt. Rajo Kayo selaku Pucuk Adat Suku Caniago Gasing, dan turut ditandatangani seluruh anak kemenakan, tertanggal 11 Desember tahun 2000.

Adapun bunyi poin 1 surat pernyataan tersebut, adalah bahwa surat pernyataan almarhum Bujang Taladan Dt. (Inyiek) Rajo Suleman untuk mengurus dan mengelola sarang burung layang-layang Gasing,  Talantam kepada St. Syahrilis dengan didampingi  Abd. Mutalib dan M. Rasyad, atas nama Kaum Inyiek Rajo Suleman suku Caniago, melalui Surat Pernyataan ini dinyatakan bahwa semenjak terbentuk KUD Lubuk Ulang Aling pada tanggal 4 November 1989, telah tidak berlaku lagi. 
     
Sedangkan pada poin 2 dinyatakan, bahwa tambahan Wakil Dt(Inyiek) Rajo Suleman di belakang nama St. Syahrilis, dinyatakan tidak berlaku lagi. 
     
"Ada lagi poin lain ke bawahnya di surat pernyataan ini. Tak perlulah saya kemukakan di sini", kata Darlis. 
    
"Dengan ini, semua kita tentu sekarang telah paham bahwa sudah sejak lama St. Syahrilis tidak lagi sebagai pemegang kuasa kaum goa sarang walet Gasing," ujarnya lagi. 
     
Menyangkut Hj. Tirabaa  menjadi pewaris tunggal pusaka tinggi goa sarang walet Gasing, menurut Darlis, berhubung karena adat Minangkabau memberikan garis keturunan bukan kepada ayah atau laki-laki tetapi kepada ibu atau perempuan, tepat sekali Hj. Tirabaa selaku seorang perempuan tertua dan yang pertama pindah kembali ke Kampung Gasing memperjuangkan eksistensi atau keberadaan goa walet Gasing ini bersama ibu dan dua orang kakaknya sejak tahun 1970 silam jadi pewarisnya.
     
Selaku "umbun puro," menurut Darlis, Hj. Tiraba tepat sekali menjadi penerima waris atau pewarisnya, sebab laki-laki di Minangkabau hanya sebagai pengawas (panganono) harta pusaka tinggi, sedangkan pemiliknya perempuan.    
     
Darlis  menambahkan bahwa kalau ada yang mengaku-aku pula merambah ladang tahun 1984 di Gasing, itu sudah jauh di belakang kepulangan Hj. Tirabaa beradik kakak tinggal di Gasing. 
     
Darlis juga meminta pengertian kepada semua pihak di kaumnya tentang keharusan adanya regenerasi kepemimpinan yang mesti diterima dengan lapang ada.

"Sama seperti saya, karena merasa sudah termasuk tua, dengan lapang dada saya sekarang tak ngotot lagi harus jadi ini jadi itu. Biar yang muda-muda maju memimpin lagi. Kita cukup mengawasi atau menasehati saja. Kalau jabatan gelar pusaka memang ketentuannya seumur hidup. Seperti gelar Dt. Rajo Kayo pucuk adat Suku Caniago yang sekarang dipegang Ongku Lidin.  Malu kita kalau berebut kepemimpinan pula dengan anak kemenakan yang muda-muda. Ini juga pesan Ongku H. Usman dan Ongku Lidin Dt. Rajo Kayo, dua orang tokoh ninik mamak dan tokoh masyarakat dari suku Caniago pada saya," tutup Darlis mengakhiri. (*)

Editor : Nova Anggraini | Sumber : rilis
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]