Memaknai 'Nilai Lokal' Seni Rupa Sumatera


Ahad, 16 Desember 2012 - 01:04:00 WIB
Memaknai 'Nilai Lokal' Seni Rupa Sumatera

Perhelatan akbar Bienalle Sumatera 2012 baru saja digelar menampilkan 31 perupa dari berbagai propinsi di Sumatera. Bienalle yang berlangsung sejak 5 Desember 2012 hingga 5 Januari 2013, kemarin, di galeri seni rupa Taman Bu­daya Sumatera Barat (TBSB), dengan keragaman bentuk, penggayaan dan penjelajahan kreativitas karya dan seka­ligus tindak lanjut dari perhe­latan pra bienalle Sumatera yang telah berlangsung lebih setahun lalu, ujar kurator Kuss Indarto.

Menurut Kuss Indarto, Bienalle Sumatera 2012 yang mengusung tema “Self Disco­vering” (pecarian diri) menjadi ruang bersama untuk menilik dan membicarakan lebih lanjut ihwal akar imajinasi dan identitas ke Indonesiaan hingga orientasinya ke depan. Artinya, lanjut Kuss Indarto, bukan perkara bombastis kalau kemudian para perupa (sebagai bagian penting dari negara ini) melakukan pem­bacaan, pemetaan, penyi­kapan dan pelontaran komit­men personal atas fakta-fakta tersebut dxengan bahasa visual yang menjadi perangkat uta­ma para perupa di tengah-tengah peta seni rupa Indo­nesia.

Baca Juga : Antisipasi Curanmor saat Ramadan, Ini Imbauan Polda Sumbar

Sementarta Suwarno Wi­se­t­rotomo, dosen pascasarjana ISI Yogyakarta yang menjadi nara sumber diskusi Bienalle Sumatera 2012 di aula mu­seum Adytiawarman Suma­tera Barat, Kamis 6 Desem­ber 2012 lalu, menuturkan bienalle Sumatera 2012 lebih melihat seni rupa Sumatera dan seni rupa Indonesia diu­dasari peta kreativitas, peta seniman, peta ideologi dan peta aktivitas yang pada giliran diketahui perihalk “identitas” misalnya sebagai tanda, penanda atau ciri khusus yang dapat digunakan sebagai modal kuat paling tidak muatan “nilai lokal” yang dapat diunggulkan.

Karena itu, tambah Suwar­no Wisetrotomo, sekaitan makna akar dan identitas seni rupa Sumatera, bienalle ini juga harus mampu mem­baca dan memposisikan sosok-sosok pendahulu maestro seni rupa Indonesia yang berbasis dari Sumatera, khususnya Sumatera Barat seperti M. Syafei, Oesman Effendi, Waki­di, Nashar, Mukhtar Apin, Itji Tarmizi, Syamsul Bahar ditunjang kehadiran lembaga pendidikan INS Kayutanam, SSRI/SMSR (SMK N 4 Pa­dang) dan berbagai komunitas seni rupa yang ada yang menghubungkannya sebagai titik sambung dengan generasi muda sekarang, baik komu­nitas Jendela, Sakato maupun personal yang ada di i Yogya­karta dengan sejumlah nama yang cukup berpengaruh cukup kuat tidak hanya di Indonesia tetapi di banyak negara di dunia seperti Yunizar, Rudi Mantovani, Alvi, Stevan Buana dan beberapa nama lain hingga ke perupa yang bermu­kim dan berkarya di Sumatera Barat misalnya Amrianis, Herisman Tojes, Zirwen Hazry, M. Zikri, Ibrahim dan lainnya.

Baca Juga : Berkunjung ke Sumbar, Doni Monardo Minta Perantau Lebaran Virtual

Maka beralasan, jelas Suwarno Wisetrotomo, kalau dari bienalle sumatera ini adalah bagaimana persoalan memobilisasi gerak sentri­fugal, kekuatan lokal masuk panggung wacana nasional, global tanpa harus terjebak pada gerak memusat, apalagi sekedar aktivitas berpameran di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia di luar Sumatera, justru yang menjadi pemikiran bersama bagaimana kedepan bienalle Sumatera dapat dipikirkan dan dirancang dengan serius menjadi even bienalle sumatera ini memiliki gema luas yang memang pantas disuarakan secara luas.

Mengusung Isu-isu Ke­kinian

Baca Juga : Pengurus DPD Ikadin Sumbar Dilantik, Siap Lahirkan Hotman Paris dari Minang

Dari beragam karya yang dimunculkan pada bienalle Sumatera 2012 ini setidaknya terdapat beberapa cabang seni rupa yang kini tengah trend di masyarakat luas, seperti lukisan, patung, disain grafis bahkan seni instalasi sebagai identitas seni rupa kontem­porer yang melaju cepat diluar seni murni lainnya.

Perupa Zirwen Hazry (Sum­bar), guru SMK N 4 (SSRI/SMSR) Padang yang juga peraih peringkat pertama Festival Internasional For Teacher Award Indonesia tahun 2010 lalu di Yogyakarta dalam 2 tahun terakhir telah mampu mengubah kecendru­ngan realis simbolis dari obyek potret-potret ke obyek lingku­ngan sosial.

Baca Juga : Diburu Waktu, Wagub Sumbar Perintahkan Dinkes Kejar Target Vaksinasi Lansia

Lihat karyanya di bienalle Sumatera ini, berjudul “No Think Voice Nothing Words”/akrilik/145x200 cm/2012 me­nun­jjukkan perubahan sig­nifikan dari karya-karya ter­da­hulunya. Sosok dialog gadis kecil dengan rambut dikepang dan boneka mainan dalam sebuah komunikasi bisu ber­backround bunga-bunga yang dikerjakan secara apik dan telaten mempersoalkan multi makna, diantaranya ruang bermain bagi anak yang kini makin sempit dalam pertum­buhan dan perkembangannya dimuka bumi ini, alat bermain yang tidak memiliki nilai lokal dan sentuhan budaya estetik dan artistik leluhur dan lainnya memberi perta­nyaan kepada kita, inilah kondisi realitas yang sedang dihadapan anak-anak di ta­nah air.

Herisman Tojes juga dari Sumbar juga mengusung kon­disi kekinian perihal “harmoni” melalui karyanya “Harmoni”/akrilik/3 panel/2012 paling tidak dapat disidik sebagai suatu perasaan kesepakatan, kelegaan suasana hati, suatu yang menyenangkan dari kombinasi unsur dan prinsip yang berbeda, namun me­miliki kesamaan dalam be­berapa unsurnya. Semua unsur, semua bagian dikom­promikan, bekerja sama satu dengan lainnya dalam suatu susunan yang memiliki kesela­rasan. Dikaitkan dalam pers­pektif hidup di tengah-tengah masyarakat maka kondisi seperti ini kian terma­jinalkan di era globalisasi dan moderen ini.

Penerapan prinsip Har­moni karya Herisman tojes secara simbolis non figuratif dengan bentuk dan warna dasar hitam mengikat unsur warna yang berbeda, dan dikompromikan, diarahkan oleh prinsip yang memusat sehingga harmoni dan kesa­tuan dapat dicapai. Kontras terjadi dengan adanya sedikit lingkaran dan bentuk segi empat hitam dan putih. Perbe­daan tersebut juga diikat dengan warna hitam. Keuni­kannya terletak pada adanya empat pusaran bentuk yang membuat empat pusat perha­tian, namun, tiga pusaran itu memiliki kesamaanyang diim­bangi oleh pusaran bentuk hitam pada latar belakang.

Beberapa karya lain yang juga mengusung kondisi ke­kinian, lihat karya Budi Sia­gian berjudul “Pejantan”, /cat minyak/120x120 cm/2012, karya Herwandi (Bengkulu) melalui karyanya “Introspeksi”/mixed media/80x120 cm/2012, Bambang Soekarno (Lampung) dalam lukisannya berjudul “dua sejoli” menampilkan sosok Bung Hatta dan Soe­karno /akrilik/135x270cm/2012 dan beberapa nama lain mengusung perihal kondisi realitas yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Karya-karya mereka bukan terpaut pada tematik penca­rian jati diri (self discovering), tetapi juga memunculkan aktualitas bermuatan nilai estetik dan artistik.

Perihal kolaborasi merujuk seni rupa kontemporer juga terlihat kentara direp­resen­tasikan perupa Stevan Buana asal Sumbar yang kini ber­mukim dan berkarya di Yogyakarta melalui karyanya “Padang Bengkok”, bahan kawat berduri/celana randai/2012 secara simbolik-analitik menggugat imej penafsiran Padang Bengkok sebagai sesuatu ketidakadilan yang dulu sempat menjadi isu negatif perihal perilaku urang awak diluar Sumatera Barat harus segera diluruskan hing­ga Padang Bengkok tak lagi diwacanakan menjadi kon­sumsi politis.

Sejumlah karya dalam kecendrungan abstrak ,eks­presionis dan simbolis dengan mengusung isu-isu kekinian juga ditampilkan Yasrul Sami Batubara, “Restorasi”/akrilik/180x180cm/2012, Irwandi, “Mencari Ben­tuk”/akrilik/180x200cm/2012 Irwandi, “Mencari Bentuk”/akrilik/180x200cm/2012 kedu­anya dari Sumbar.

Karya-karya lain dalam Bienalle Sumatera ini juga ditampilkan oleh Amrizal Salayan (urang awak kini bermukim dan berkarya di Bandung), Doni Fitri (Yogya­karta) Yatim Mustofa (Me­dan), Bambang Suroboyo, Syahrizal Pahlevi (Palem­bang) dan lainnya. Dari Sumatera Barat tercatat diantaranya Amrianis, Evelyna Dianita, Edo Pop, Hamzah, Iswandi, Kamal Guci, Nasrul, Rajudin, Syahrial Yan, dan Komunitas Seni Rupa Saureh Padang Panjang. (h/*)

 

FAIZAL RAEFAHUWA
(Mahasiswa Seni Rupa/DKV UNP Padang dan devisi artistik majalah pendidikan “meAkar” APSI Padang)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]