Mari Meyakinkan Investor ke Sumbar


Selasa, 08 Maret 2011 - 01:42:00 WIB
Mari Meyakinkan Investor ke Sumbar

Kemarin Sumbar menerima tamu asal negara bagian Bavaria, Jerman. Kunjungan rombongan yang dipimpin Mr.Gerhard Merkel ini merupakan kunjungan balasan setelah Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mempromosikan Sumbar pada ajang Bussiness Day di Munchen, 5 November 2010 lalu.

Singkat cerita, utusan pemerintah negara bagian Bavaria itu bermaksud hendak melihat dari dekat apa yang dipaparkan oleh Gubernur Irwan Prayitno ketika datang berkunjung ke Jerman Oktober 2010 lalu. Waktu itu dalam acara Indonesia Business Day, Gubernur Irwan mengekspose sejumlah potensi Sumatera Barat yang layak ditanami investasi oleh para pemodal Jerman.

Baca Juga : PLN Peduli Salurkan Dana CSR/TJSL Rp 388 Juta untuk Sarana Umum di Padang

Diantara potensi yang dipaparkan gubernur kepada pihak Jerman adalah sektor pariwisata yang meliputi pembangunan cable car di Maninjau, Ngarai Sianok dan Lembah Anai, pembangunan resort di kawasan Mandeh Kabupaten Pesisir Selatan dan di kawasan Danau Diatas dan Danau Dibawah Kabupaten Solok.

Tawaran investasi juga meliputi pembangunan infrastruktur shortcut jalan Kereta Api Padang-Solok dan investasi di bidang eksploitasi panas bumi (geothermal) dan air (hidro) sebagai sumber energi listrik Sumbar.

Baca Juga : Pemkab Solsel Targetkan PAD Rp336 Juta dari Sewa Kios dan Los Pasar di 2021

Tawaran investasi ini disampaikan mengingat Jerman adalah salah satu negara maju di Eropa yang telah kuat dari sisi ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi. Kita berharap pertemuan hari ini berlanjut dan dapat direalisasikan.

Bahwa sudah beberapa kali daerah ini kedatangan ‘peminat’ untuk berinvestasi memang iya. Ada yang dari China, ada yang dari Dubai, Thailand dan kemarin itu adalah dari Jerman. Kita menganggap ini bagus-bagus saja. Sebab tidak mungkin orang langsung saja berinvestasi tanpa melihat dari dekat dan berihitung dengan cermat. Apalagi tawaran investasi itu tidak dengan angka-angka yang kecil, pastilah dengan anggaran yang besar. Sebab kalau kecil buat apa mesti ditawarkan ke orang asing, kenapa tidak kepada pengusaha lokal saja? Karena volumenya yang besar itulah maka ditawarkan ke pemodal yang lebih besar pula.

Baca Juga : Kota Pariaman Berpotensi Kembangkan Bawang Merah, Tumbuh sangat Baik dan Subur

Yang terpenting bagi kita adalah bagaimana kedatangan demi kedatangan peminat investasi itu tidak hanya datang dan pergi. Hari ini datang seorang investor atau serombongan pemodal, lalu pulang dan besoknya datang lagi rombongan investor dari negara yang lain pula dan kemudian pulang. Setelah itu sepi. Tak ada kabar lagi.

Kita paham bahwa tak gampang meyakinkan orang berinvestasi di satu daerah. Selain pemodal sangat berhati-hati dengan kondisi lingkungan dan penerimaan masyarakat setempat, juga tidak semua peminat investasi itu dapat kita terka berapa isi kantongnya.

Baca Juga : Bupati Padang Pariaman Serahkan Bantuan Sembako ke Beberapa Panti Asuhan

Namun, investasi dari luar sangat penting jika kita ingin mengejar pertumbuhan yang disebut-sebut di atas 6 persen. Tanpa investasi, target capaian pertumbuhan di atas 6 persen itu hanya bualan saja.

Kunjungan-kunjungan antarnegara ini merupakan kesempatan emas bagi pemerintah kita untuk meningkatkan realisasi investasi di daerah ini. Apa yang dapat dimaknai terkait kunjungan tersebut adalah pemerintah harus memanfaatkan hasil kunjungan tersebut dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan peningkatan ekonomi daerah.Tinggal lagi sekarang bagaimana Pemerintah Provinsi Sumatera Barat bisa mengeluarkan segenap keahliannya untuk meyakinkan investor Jerman yang datang kemarin.

Dalam konstelasi hubungan ekonomi Indonesia-Jerman, Sumbar dapat memanfaatkan semangat yang kini berkembang di tengah para investor Jerman yang ingin meningkatkan kapasitas produksi di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan lokal dan Asia Tenggara. Kerja sama ekonomi Jerman-Indonesia pun terus bertumbuh, terutama di sektor pemanfaatan energi ramah lingkungan yang berkait dengan isu pencegahan pemanasan global. Perkumpulan Ekonomi Indonesia-Jerman (Ekonid) memang pernah mengingatkan bahwa pengusaha Jerman tidak seaktif investor asing lain di Indonesia dalam mengembangkan perusahaan.

Hal ini lebih dikarenakan industri Jerman terkenal berteknologi tinggi dan ramah lingkungan.Namun pengusaha Jerman sudah siap mengambil momentum yang ada. Mereka malah bersiap untuk membangun Indonesia sebagai pusat manufaktur di region (kawasan Asia Tenggara). Saat ini ada sedikitnya 250 perusahaan asal Jerman di Indonesia yang sudah beroperasi puluhan tahun seperti BASF dengan nilai perdagangan kedua negara tahun 2009 mencapai 4,6 miliar dollar AS. Industri otomotif Jerman juga kini mulai melirik Indonesia sebagai basis produksi yang akan segera diwujudkan oleh Volkswagen (VW) dan sebagainya. Jadi, mari meyakinkan orang Jerman di Sumatera Barat.***

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]