SETIAP DUA JAM

Perempuan Indonesia Alami Perkosaan


Kamis, 03 Oktober 2013 - 02:10:00 WIB
Perempuan Indonesia Alami Perkosaan

PADANG, HALUAN — Catatan komisi nasional (Komnas) perempuan dalam 15 tahun terakhir, setiap dua jam sekali, satu orang perempuan yang mengalami kasus perkosaan.

Kemudian dalam satu hari 20 orang perempuan di Indonesia mengalami kekerasan seksual. Demikian dikatakan Komisioner Komnas Perempuan Andy Yentriyani, Rabu (2/10) di Sekretariat WCC Nurani Perempuan.

Baca Juga : Kolaborasi dengan HR Academy dan Kemenkop UKM, YES Preneur Gelora Resmikan Program 'GEBER UMKM' 

Andy mengatakan, untuk permasalahan kekerasan seksual ini, banyak pihak yang berpikir, kekerasan yang dimaksud adalah hanyalah perkosaan. Sementara bentuk kekerasan seksual ini sendiri, bisa dikategorikan dalam 15 bentuk. Kejadian ini pun banyak dirasakan oleh perempuan namun tidak diketahui  sebagai bentuk kekerasan.

Andy menjabarkan, 15 bentuk kekerasan itu diantaranya, ancamana atau percobaan perkosaan dan serangan seksual lainnya, pemaksaan kehamilan, pemaksaan sterilisasi, kontrol seksual termasuk pemaksaan busana dan kriminalisasi perempuan lewat aturan diskriminatif beralasan moralitas dan agama, praktik tradisi bernuansa seksual yang berbahaya dan atau diskriminatif.

Baca Juga : Termasuk Bupati Novi Rahman Hidayat, KPK Tangkap 10 Orang dalam OTT di Nganjuk

“Jika kita lihat, bentuk kekerasan seksual ini tidak hanya terjadi di luar rumah tangga, tetapi juga bisa terjadi dalam rumah tangga. Seperti suami yang memaksa istrinya untuk tetap hamil. Seperti suami yang tidak mau menandatangani surat penggunaan alat kontrasepsi.  Ini banyak terjadi, tetapi tidak banyak perempuan yang mau mengungkap hal ini.  Begitu juga dengan hubungan suka sama suka yang dilakukan dua orang pasangan yang belum menikah yang akhirnya menjadi eksploitasi seksual. Seperti sang pria yang berjanji akan menikahi si perempuan, ketika mau diajak berhubungan seksual,” ujar Andy.

Kemudian kasus terbaru yang kita dengar, tambah Andy adalah, jihad seks yang dilakukan perempuan Tunisia. Dimana mereka diminta untuk melayani laki-laki yang sedang melakukan jihad untuk meredakan stress yang dialami di Suriah.

“Kami melihat masalah ini merupakan kekerasan seksual. Tidak jihad seperti yang dianggap orang kebanyakan. Hal-hal seperti inilah yang harus diwaspadai oleh perempuan,” jelas Andy.

Terkait penanganan kasus kekerasan seksual pada perempuan ini, Andy melihat korban masih kesulitan mendapatkan akses keadilan. Kemudian,  kekerasan seksual masih sangat sempit dikenali dan diatur dalam hukum pidana.

Masalah lain yang harus dihadapi korban adalah sikap aparat yang menyalahkan korban, proses hukum yang berkepanjangan, tidak tersedia bantuan hukum dan kerap hilang hak atas praduga tidak bersalah, termasuk komitmen politik beragam yang menyulitkan penyelesaian masalah ini.

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]