Sopir Angkot Ngotot Pakai Tarif Lama


Ahad, 04 Januari 2015 - 19:30:30 WIB
Sopir Angkot Ngotot Pakai Tarif Lama

“Setahu saya, kalau ongkos sudah naik tidak pernah tu­run. Pemerintah dan sopir pura-pura tidak tahu saja, kami yang tidak punya kendaraan lain terpaksa naik angkot ya harus membayar sesuai yang dimin­ta. Malunya ketika sopir me­nge­luarkan kata-kata kasar, masak uang Rp1.000 saja dipersoalkan,” ucap Dini ke­cewa.  Salah seorang sopir angkot jurusan Tabing-Pasar Raya Padang, Indra menu­turkan kepada penumpang alasan me­min­ta ongkos yang sama yakni pe­num­pang tidak banyak yang komentar. Se­bagai seorang sopir resiko kerugian tidak mungkin diam­bil, ketika pe­num­pang sepi.

Baca Juga : Di Tengah Guyuran Hujan, Wako Hendri Septa Jemput Keluarga Penerima Bedah Rumah

“Isu penurunan BBM tidak segencar pas kenaikan yang kemarin. Makanya saya masih meminta ongkos yang sama, penumpang tidak banyak yang komentar. Apalagi banyak yang harus saya bayarkan, setoran, beli bensin dan untuk gaji sen­diri,” tandas Indra. Ia menam­bahkan, apalagi saat ini penum­pang sepi karena anak kuliah dan sekolah libur. Untuk mengan­tisipasi keru­giannya, dia tetap mem­per­lakukan ongkos yang sama sebelum ada kepas­tian dari Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Padang serta PemkoPadang.

Tarif yang sama masih di­pungut oleh sopir jurusan Lubuk Buaya-Pasar Raya Pa­dang yakni Rp6.000. Wardana, sopir angkot dari jurusan Lu­buk Buaya menjelaskan, dia tidak meminta ongkos kepada penumpang sebesar Rp6.000, namun penumpang saja yang membayarkan seperti biasa­nya. Apalagi, menurutnya pe­num­pangnya merupakan peda­gang langganan yang jualan di Pasar Raya Padang dan bebe­rapa penumpang yang lainnya yang sudi naik angkot bututnya.

Baca Juga : Hendri Septa: Masyarakat Langgar Prokes Akan Ditindak Tegas

“Angkot saya ini sudah tua, jadi hanya orang-orang lang­ganan saja yang mau naik, makanya mereka tidak mau komentar, mereka membayar dengan tarif yang sama,” jelas Wardana.

Begitu juga yang dilakukan oleh sopir Pasar Raya-Siteba, mereka beralasan ketika tidak ada masyarakat yang komen­tar, buat apa ongkos ditu­runkan. Bagi mereka yang banyak komentar biasanya anak kuliah dan anak sekolah.

”Saat ini saya masih me­mu­ngut ongkos yang lama yakni Rp4.000, lagian tidak ada yang komentar. Apalagi, penurunan BBM ini tidak banyak masyarakat yang tahu. Kalau sudah ada ketetapan dari Pemda dan Organda baru nanti kita samakan sesuai dengan ketentuannya,” ulas Yuslam, sopir Siteba.

Sementara itu, Ketua Organda terpilih periode 2014-2019 Syofyan kepada Haluan menjelaskan kepu­tusan sopir untuk memungut ongkos dengan tarif yang lama karena belum ada kejelasan dari Pemda dan Organda serta DPRD Kota Padang.

“Penetapan tarif angkot ini atas persetujuan DPRD Kota Padang, dan Pemda. Tidak bisa kita tetapkan sendiri saja,” tutur Syofyan. Apalagi saat ini banyak keluhan dari sopir di Kota Padang perubahan rute secara hukum alam yang tidak dibela oleh Pemda, sehingga ketika sopir menambang tidak maksi­mal pendapatan yang diperoleh.

“Malah tukang ojek seka­rang ini ada di berbagai sudut, ini juga mematikan pengusaha angkutan. Atau kita buat saja ojek sebagai transportasi di Kota Padang ini,” jelasnya.

Kabid Angkutan Dishub­kominfo Padang, Jovi menjel­askan keputusan merubah tarif harus didudukan dengan ang­gota dewan. Untuk sem­en­tara, tarif angkot masih berlaku tarif yang lama.  (h/ows)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]