BBM Turun, Gas 12 Kg Naik, Kado Diambil Jokowi Lagi


Ahad, 04 Januari 2015 - 19:31:00 WIB
BBM Turun, Gas 12 Kg Naik, Kado Diambil Jokowi Lagi

Harapan masyarakat, turunnya harga BBM akan diikuti oleh harga-harga berbagai kebutuhan pangan, sandang dan papan. Begitu pula dengan ongkos transportasi, baik darat maupun laut. Sebab, naiknya harga BBM pada bulan Novemver 2014 silam, sudah diikuti oleh kenaikan ongkos angkutan kota (angkot), angkutan kota dalam provinsi (AKDP), angkutan kota antar provinsi (AKAP) dan juga angkutan laut dan penyeberangan.

Baca Juga : Soal Vaksin Nusantara, Tenaga Ahli Menkes Andani Eka Putra Bocorkan 'Rahasia' Terawan

Tapi memang, turunnya harga BBM belum otomatis menurunkan harga barang-barang pangan, sandang, papan dan ongkos transportasi. Karena ada mekanisme penurunan harga barang-barang dan biaya jasa tersebut, baik di tingkat perusahaan yang memproduksi, plus mekanisme pasar yang juga  sangat menentukan naik turunnnya harga.

Sesuatu yang dikhawatirkan berbagai kalangan adalah kebijakan Pemerintahan Jokowi-JK mematok harga BBM berdasarkan harga minyak di pasar dunia. Dengan kondisi geografis Indonesia yang begitu luas, belasan ribu pulau, berbukit dan berlembah, ada daerah maju dan daerah terisolir, mematok harga BBM berdasarkan harga minyak dunia sangatlah tidak cocok. Berbeda dengan Singapura, Brunai Darussalam dan Negara lainnya  dengan wilayahnya kecil. Di titik paling ujung distribusi BBM di Indonesia, bahkan ada yang memakan waktu satu minggu hingga 10 hari. Dalam kondisi yang seperti itu tentu keputusan mematok harga BBM berdasarkan harga minyak dunia yang fluktuatif menjadi masalah.

Baca Juga : Soal Vaksin Nusantara, DPR Tuding BPOM Bohongi Peneliti dan Masyarakat

Awal tahun 2015 juga diisi oleh keputusan Pemeritahan Jokowi-JK yang sangat ironi. Di satu sisi, harga BBM diturunkan, namun di pada sisi lain, harga gas tabung 12 kg dinaikkan 17 persen atau dari Rp114.900 menjadi Rp134.700 per tabung. Keputusan tersebut mulai berlaku 3 Januari 2014. Jelas saja keputusan menaikkan harga gas tersebut menjadi kado yang tidak mengenakkan bagi masyarakat di awal tahun. Pemeritahan Jokowi-JK tak ubahnya mengambil kembali kado yang diberikan pada tanggal 1 Januari 2015.

Harapan masyarakat akan terjadinya penurunan harga barang-barang pascaturunnya harga BBM jenis premium dan solar, bisa jadi sirna sudah. Karena secara subtantif, teknis dan psikologis, kenaikan harga gas tabung 12 kg, akan menyebabkan semakin naiknya harga berbagai kebutuhan pokok. Contohnya saja, rumah makan dan restoran yang menggunakan gas tabung 12 kg, tentu akan menaikkan lagi harga produknya, menyusul naiknya harga gas. Begitu juga dengan harga-harga barang produksi UKM lainnya juga dipastikan akan naik, karena naiknya biaya produksi.

Baca Juga : Waspada! Siklon Surigae Meningkat 24 Jam ke Depan, 9 Provinsi Diminta Siap Siaga

Masyarakat benar-benar dibikin kewalahan dan juga bingung oleh kebijakan Pemerintahan Jokowi-JK. Jika alasannya subsidi gas yang membengkak dari Rp500 miliar menjadi sekitar Rp50 triliun setelah program konversi minyak tanah ke gas diterapkan, maka semestinya yang dilakukan oleh pemerintah bukan menaikkan harga gas secara serampangan seperti saat ini. Karena keputusan menaikkan adalah keputusan yang tidak kreatif, tidak bekerja keras dan tidak adil. Keputusan menaikkan harga gas tabung 12 kg, demi untuk menutupi subsidi gas tabung 3 kg yang jebol total, sama juga artinya dengan memiskinkan masyarakat kelas menengah atau yang selama ini tidak mau mengaku miskin, meski hidup mereka juga belum sejahtera.

Semestinya untuk menjaga agar subsidi gas tabung 3 kg tidak bobol, pemerintah Jokowi mulai dari  yang tertinggi hingga ke tingkat terendah mengawasi distribusi dan penggunaan gas tabung 3 kg, apakah tepat sasaran atau tidak. Yang terjadi justru sudah hancur-hancuran mulai dari proses pembagian tabung dan kompor gas 3 kg. Yang menerima tabung dan kompor gas 3 kg, ternyata bukan hanya keluarga miskin, tetapi juga banyak keluarga menengah ke atas.

Baca Juga : Kabar Gembira Bagi PNS, THR Dipercepat & Bisa Lebih Besar dari Gaji Pokok

Pengguna gas tabung 3 kg juga banyak   rumah makan dan restoran kelas menengah dan atas. Jumlahnya sangat banyak dan sangat kasat mata. Belum lagi maraknya penyulingan gas tabung 3 kg ke tabung 12 kg ke atas. Mereka itulah yang menghisap subsidi gas dalam jumlah triliunan rupiah. Jika pemerintah Jokowi-JK ingin kerja, kerja, kerja dan kerja, urus masalah-masalah yang begitu. Bukan malah menciptakan masyarakat miskin baru dengan serampangan menaikan harga BBM dan gas. **

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]