Jufri Arianto Tak Kapok Melaut


Ahad, 04 Januari 2015 - 19:38:26 WIB
Jufri Arianto Tak Kapok Melaut

“Ya, saya tidak mempunyai keahlian dan pekerjaan lain selain menjadi nelayan. Di sinilah nasib periuk beras keluarga kami disangkutkan. Tidak melaut maka dapur tidak bisa diasapi,” ungkapnya.

Disebutkan, kejadian ka­ram dengan kapal dan me­ngam­bang berhari-hari di te­ngah laut merupakan pelaja­ran dan peringatan dari Tuhan untuknya. “Ada pelajaran amat berharga dari kejadian itu, salah satu di antaranya ke­siapan melaut perlu menjadi perhatian bagi siapapun yang hendak melaut,” katanya.

Baca Juga : PPN Sembako dalam Pusaran Polemik

Jufri Arianto mengisahkan ia karam bersama kawannya Indro (21) dan Gusrianto (32) pada hari Sabtu tanggal 27 Desember 2014. Kapal itu karam akibat lambung depan bocor dihan­tam ombak setinggi 4 meter dan terhempas ke karang di kawasan Pulau Enggano.

Sebetulnya pada saat karam ia sudah pasrah dan merasa tidak akan mungkin lagi melihat tanah tepi. Hidupnya seolah sudah ditakdirkan ‘terkubur’ di laut. Sehingga saat keluarga ia telepon ia berpesan kepada istri dan mertuanya seki­ranya ajal sampai di sini kesala­hannya dimaafkan. Mohon anak dididik dan dibesarkan dengan baik.

“Sungguh pada saat itu kami tidak yakin bisa lolos dari maut. Di depan mata yang ada hanyalah bayangan kematian tragis. Tak mung­kin lagi bertemu anak dan istri yang sedang menunggu di rumah,” katanya.

Ia dan kedua temannya tetap berupaya menyelamatkan diri meng­gunakan peti dan hanyut mengikuti arus dan arah angin. Selama terom­bang- ambing di lautan ia dan dua teman lainnya menjilat air hujan dan air embun yang menggenang di pinggir peti.

Lalu di hari ketiga ia dan lainnya melihat sebuah pulau dan berenang menuju pulau yang mereka lihat tersebut. Saat berenang seekor hiu besar ingin memangsanya sehingga berupaya kembali masuk ke peti ikan.

Petaka itu akhirnya berakhir di Selat Sunda. Ia terdampar di pinggir Gunung Krakatau. Ia berupaya mencari makanan, namun tidak mendapatkan apa-apa, untuk minum dia mengumpulkan air mineral bekas yang hanyut ke pinggir pantai.

Setelah berjalan tiga kilo meter dia diselamatkan  Lengkai (60). Pak Lengkai kemudian memberikan makan dan minum untuk selan­jutnya menyeberang menuju Syah bandar Pelabuhan Pandeglang Jawa Barat.

Salah satu korban, Idro Wahyudi kemudian menghubungi kerabatnya di kampung. Informasi ini dari kerabat itu disampaikan kepada Walinagari Lakitan Utara Aprizal. Pemerintah nagari kemudian meng­hubungi perantau Pessel AKBP H Hendra Jhoni.

Menurut Aprizal, Hendra Jhoni kemudian menghubungi Syah­ban­dar Pelabuhan Pandeglang. Keti­ganya kemudian diselamatkan Hen­dra Jhoni. Ketiganya dipu­langkan dengan pesawat Garuda Sabtu (3/1). ***

 

Laporan :
HARIDMAN KAMBANG

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]