Memilih Prodi di PT Harus Bijak


Rabu, 07 Januari 2015 - 18:44:38 WIB
Memilih Prodi di PT Harus Bijak

Menghadapi ujian se­ha­rusnya sudah merupakan pe­ris­tiwa biasa ba­gi warga se­kolah. Namun kaitannya de­ngan UN, se­ba­gian besar warga sekolah di Tanah Air me­mo­si­si­kan­nya sebagai pe­ris­tiwa luar biasa. Bah­kan, tidak mus­tahil ada sementara ka­langan yang me­man­­­dangnya se­ba­gai pe­ris­tiwa angker.

Baca Juga : Ini 7 Fakta di Balik Rencana Reshuflle Kabinet, Posisi Menteri Investasi akan Jadi Rebutan Partai Politik

Perhatikanlah kesibukan SMA/MA dan yang se­derajat bulan-bulan terakhir men­jelang UN dilangsungkan. Kegiatan mereka pada umum­nya me­ningkat drastis. Alokasi waktu ke­giatan belajar/me­ngajar mereka di­tambah secara sig­nifikan. Terutama terkait mata-mata pelajaran yang akan di-UN-kan, biasanya diadakan “pengayaan” ter­sendiri.

Kegiatan “pe­ngayaan” ter­sebut jelas-jelas me­nun­jukkan bahwa war­ga sekolah telah terjebak pada pro­ses pem­belajaran ins­tant. Buk­tinya, hampir seluruh wak­tu yang disediakan untuk “pe­ngayaan” itu digunakan untuk menger­jakan soal-soal UN yang per­nah digunakan pada tahun lalu (2014) dan yang sebelumnya.

Baca Juga : Hilangkan Pancasila dan Bahasa Indonesia sebagai Makul Wajib, Ketua MPR: PP 57/2021 Cacat Hukum

Setelah beberapa kali per­temuan, siswa diharuskan me­ngikuti latihan mengerjakan soal (try out) untuk semua mata pelajaran yang akan di-UN-kan. Hasilnya? Entah dia­nalisis atau tidak, hanya pihak sekolah dan Tuhan yang paling tahu. Tentu saja, Anda berhak mempertanyakan manfaat “pe­­ngayaan” seperti itu dalam jangka panjang.

Selain di sekolah-sekolah, sejumlah lembaga bimbingan belajar juga disesaki siswa. Mereka juga melakukan hal yang sama. Menggenjot siswa yang akan UN beberapa bulan ke depan agar dapat menger­jakan soal-soal UN secara instant. Iro­nisnya, sejumlah lembaga bim­bingan belajar yang nota­bene berbayar mahal itu lebih di­percaya oleh siswa kita.

Baca Juga : Protes PP No 57 Tahun 2021, Alirman Sori: Pancasila Seharusnya Masuk Kurikulum Wajib!

Menghadapi UN dengan mengikuti “pengayaan” di sekolah dan bimbingan “bela­jar” di lembaga bimbingan belajar sebutlah masih masuk akal. Oleh sebab itu, hemat saya, belum perlu ada larangan khusus. Se­pan­jang kegiatan itu tidak mengebiri hak-hak siswa.

Tetapi kalau siswa kita (apa pun alasannya) pergi ke paran ormal, ke kuburan para wali, ke hutan belantara, dan lainnya untuk meminta “bantuan” agar dimudahkan dalam meng­hadapi UN maka hal itu mesti dilarang. Pasalnya, dalam pers­pektif Islam hal tersebut dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam kesyirikan. Sangat me­ngerikan kalau karena akan UN siswa kita tiba-tiba men­jadi pelaku dosa besar.

Baca Juga : Tak Cantumkan Pancasila dan Bahasa Indonesia Makul Wajib PT, Jokowi Didesak Batalkan PP 57/2021

Berbeda dengan tiga deka­de lalu, tamatan SMA/MA dan yang sederajat makin banyak yang bercita-cita mela­jutkan studi di PT. Bukan hanya tamatan SMA/MA dan yang sederajat di perkotaan, ta­matan SMA/MA dan yang sederajat di perdesaan pun tak jauh berbeda. Maka, selain disibukkan dengan “pe­nga­yaan”, sekolah juga disibukkan dengan layanan pencarian PT yang diidamkan siswa.

Terutama se­ko­lah-sekolah de­ngan kategori besar, men­jelang akhir tahun pelajaran seperti sekarang ini “ramai” didatangi PT guna menjaring (calon) mahasiswa. Siswa SMA/MA dan yang sederajat harus ekstra hati-hati dalam hal ini. Lan­taran praktis semua PT mena­warkan PT-nya laksana mena­warkan produk dagang pada umumnya. Maka, bila tidak berhati-hati bisa menga­ki­batkan siswa salah memilih program studi (prodi).

Kesalahan memilih prodi di PT sebetulnya bisa dian­tisipasi sejak dini. Guru Bim­bingan dan Konseling (BK) di sekolah masing-ma­sing, diha­rapkan dapat memberikan penjelasan yang utuh dan me­nyeluruh tentang langkah-lang­kah memilih PT yang sesuai dengan kebutuhan siswanya.

Pertama, siswa didorong untuk memahami potensi diri­nya dengan baik. Mereka seku­rang-kurangnya paham akan kemampuan dirinya secara umum. Dalam konteks ini gambaran kemampuan siswa jangan semata-mata dilihat dari angka-angka yang ter­cantum di dalam rapot siswa. Maaf, lantaran angka-angka dalam rapot siswa belakangan ini pada umumnya tinggi-tinggi. Ini juga sebagai imbas adanya UN. Jelasnya, sekolah sengaja memberikan angka-angka rapot siswanya tinggi-tinggi agar lebih mudah lulus UN.

Kedua, siswa didorong un­tuk memahami minat dirinya dengan baik. Mereka seku­rang-kurangnya paham akan minat dirinya secara umum, ambil contoh, bidang kese­hatan. Lalu, mengingat bidang kesehatan itu telah berkem­bang demikian pesat, bacalah brosur-brosur yang biasanya dikeluarkan PT penye­leng­gara. Informasi dimaksud lazim­nya sudah memuat jenis prodinya, visi dan misinya, dan seterusnya. Pada titik ini, siswa diharapkan sudah bisa mem­bayangkan arah dari prodi yang akan dipilihnya.

Ketiga, siswa didorong un­tuk “mencatat” akreditasi prodi yang dipilihnya. Apakah akreditasi prodinya itu A, B, atau C. Perhatikan pula sampai kapan batas ka­da­luarsa akre­ditasi prodinya itu. Bah­kan, akhir-akhir ini PT-nya juga diak­reditasi. Anda sebaiknya mendahulukan PT yang pro­dinya berakreditasi A dan PT-nya juga berakreditasi A. Jika ada, kategori yang Anda pilih sekurang-kurangnya ber­akre­ditasi B. Dalam konteks ini PT bersangkutan biasanya layak dipilih oleh (calon) maha­siswa.

Keempat, siswa didorong untuk “mencatat” kemam­puan orang tuanya. Memang, hingga saat ini fakultas kedok­teran dan ilmu kesehatan ter­go­long banyak peminatnya. Oleh sebab itu, PT swasta pun berlomba-lomba mendirikan salah satu fakultas terfavorit ini. Meski pun Anda benar-benar berminat studi di fakul­tas ini, Anda “harus” terlebih dahulu tahu berapa biaya stu­dinya. Sebagai gambaran, biaya studi pada prodi Kedokteran Umum di PT swasta saat ini sekitar 50 juta rupiah per semester. Biaya studi pada prodi Kedokteran Gigi di PT swasta saat ini sekitar 30 juta rupiah per semester.

Kelima, siswa didorong untuk “mencatat” lapangan kerja yang akan ditujunya setelah lulus. Katakanlah, sejumlah prodi di Tanah Air ini banyak yang sudah jenuh.

Pokoknya, sedapat mungkin memilih prodi di PT itu jangan sampai latah. Alias sekadar ikut-ikutan orang lain. Atau, sekadar mengikuti tren.***

 

MAHMUD YUNUS
(Tenaga Pengajar STIT Muhammadiyah Banjar Jawa Barat)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]