Kereta Gantung yang Membawa Harapan


Rabu, 07 Januari 2015 - 19:03:00 WIB
Kereta Gantung yang Membawa Harapan

Ini yang dialami puluhan warga di Batu Badanguang, Taratak, Sungai Lundang, Pe­sisir Selatan. Mereka setiap hari harus berjuang menyem­berangi sungai dengan meman­faatkan kereta gantung untuk mem­bawa hasil buminya demi me­nyambung kebutuhan hi­dup.

Baca Juga : Iedul Fithri: Geliat Ekonomi, Momentum Keluar Resesi

Pagi itu cerah, sinar surya memantulkan biasnya dari atas motor matik berwarna putih milik Burhan (65). Ia menutup motornya dengan terpal plastik bertujuan agar tidak rusak akibat ditempa panasnya matahari. Membawa beberapa meter kawat yang dilingkarkan di tubuh kecilnya, ia pun berjalan menuruni bukit lereng melewati sawah dan menuju pondok berukuran tak lebih dari meja pimpong.

Di dalamnya dua orang wanita dan seorang balita duduk dalam pondok dan melempar senyum ke arah burhan. “ Pai ka ladang lai pak,” ujar Raab (60) istri dari Burhan. Raab bersama putrinya Vina (33) dan seorang cucunya selalu setia mene­mani sang suami saat berkebun.

Baca Juga : Pembangunan dan Keadilan bagi Padagang Kaki Lima

Raab pun berjalan diiringi istri, anak dan cucunya menuju sungai yang hanya berjarak beberapa meter dari pondoknya. Tak memakai alas kaki, Burhan berjalan menulusuri rumput hijau yang selalu menggesek kakinya setiap hari.

Bantuak iko lah kalo ka pai ka ladang. Naiak kereta supayo sampai ka subarang,” terang pria dengan lima orang anak ini. Rabu (7/1).

Menurut Burhan, kereta gantung dibangun sejak dua tahun lalu dengan swadaya masyarakat. Sebe­lum­nya masyarakat harus menye­berangi sungai membawa hasil bumi seperti getah karet, dan gambir.

Karajo bantuak iko lah puluhan tahun ambo lalui. Kalo aia gadang tapaso kami indak ka ladang. Bagi yang nio ka ladang juo tapaso manampuah jambatan yang ado di ateh, tapi jauhnya sakitar lapan kilometer,” ungkapnya.

Dia menambahkan, dengan ada­nya kereta gantung sangat membantu warga yang akan menjul hasil bumi­nya. Meskipun belum ada bantuan dari pemerintah warga tetap ber­juang demi memenuhi kebutuhan keluarganya.

Warga disekitar ko kebanyakan petani. Disabarang ko, ado sekitar 30 hektar ladang para petani, Tapa­so wak wak tampuah lai. Kalo indak, tu baa makan anak jo bini,” papar­nya.

Riak sungai semakin deras me­mecah disela bebatuan besar. Ma­tahari pun semakin menampakan garangnya. Dengan cekatan, Burhan pun menarik tali tambang yang sudah tersambung dengan katrol dari seberang sungai ke tempat yang ia naiki. Tali yang ia tarik itu membawa kereta gantung berukuran kursi sekolah atau hanya dapat dinaiki untuk satu orang saja.

Seolah ingin menaiki wahana bermain, ia pun meluncur tanpa rasa cemas menyeberangi sungai yang lebarnya sekitar 20 meter dengan ketinggian sekitar 10 meter. Dengan penuh harap, sang istri dan anaaknya melihat pria tua itu dengan cemas. Burhan pun terus menarik tali yang berada di atasnya agar kereta yang ia naiki berjalan menuju seberang.

Setelah sampai di seberang, Raab pun menarik tali agar kereta yang membawa suamianya ke seberang kembali ke tempat semula. Ia pun akan menaiki kereta, berbeda de­ngan sang suami, garis-garis wajah Raab kembali tegang, perlahan ia pun meluncur sambil menarik tali agar kereta gantung yang dinaiki berjalan.

Ditengah penyebarangan, tangan yang berkulit gelap itu terus menarik tali. Beratnya beban membuat otot dibalik tangannya seakan keluar menembus kulit. Matanya tajam menatap tali, sesekali mata itu melihat derasnya air yang siap melumat apapun yang ada dida­lamnya.

Tidak ingin melihat ibunya yang letih menarik tali, sang anak Vina, membantu mearik tali agar sang ibu sampai ke seberang.

Angek tangan maegang tali ko mah. Apo lai talinyo ko ketek. Tangan ko bisa malapuah di­buek­nyo mah,” jelas Vina.

Vina mengatakan,sejak kereta gantung tersebut dibangun, pernah satu kali tali yang membawa kereta putus. Namun beruntung saat itu tidak ada korban jiwa. “Kini kami cameh juo, walau pun kereta ko bisa mambaok ciek urang samo bahan bumi bantuk gambia puluhan kilo. Tapi kami cameh juo karano tali ko kan ndak batahan lamo doh,” terangnya.

Bahaya yang dialami warga meng­­gunan kereta gantung cukup banyak. Selain tali yang rawan putus, kereta gantung juga tidak dilengkapi pengaman, seperti sabuk pengaman selayaknya standar keselataman olahraga ekstrem. Bahkan, saat hujan deras arus sungai sampai menyentuh kereta gantung tersebut.

Perjuangan masyarakat setempat dalam memenuhi kelangsungan hidupnya begitu besar, bahkan dengan limpahan kekkayaan alam­nya yang luar biasa. Namun di balik kerasnya perjuangan dan kayanya alam ranah pesisir, masyarakat sekitar seperti pepatah tikus mati di lumbung padi.

Meski di tengah alam yang kaya dan penuh perjuangan, mereka tidak dapat berbuat lebih bahkan berte­riak meminta tolong. Meski di tanah tempat ia dilahirkan dipimpin oleh pejabat, seperti walinagari, camat, dan bupati seakan tak lagi men­dengar dan melihat. Tidak salah jika musisi Ebiet G Ade menulis judul lagu Berita Kepada Kawan yang liriknya bertulis “Tetapi semua diam Tetapi semua bisu Tinggal aku sendiri Terpaku menatap langit.”

 

Laporan:
RIVO SEPTI ANDRIES

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]