AirAsia Digugat Rp50 Milliar


Rabu, 07 Januari 2015 - 19:06:20 WIB
AirAsia Digugat Rp50 Milliar

“Kami menggugat kepada PT AirAsia untuk memberikan kompensasi kepada setiap keluarga korban Rp 50 miliar,” kata Said Utomo.

Baca Juga : Terjun ke Politik, Athari Gauthi Ardi: Ingin Kampung Seperti Jakarta

Menurutnya, AirAsia telah melanggar perlindungan konsumen tentang Perbua­tan Melanggar Hukum (PMH) pelaku usaha dalam undang-undang no 8/1999 tentang perlindungan konsumen (UUPK).

Dalam gugatan bernomor 12/ PDTG/ 2015/ PN. SBY, YLPKI Jawa Timur juga menuntut AirAsia agar membayar pengembalian tiket atau refund pada penumpang yang tertinggal dalam penerbangan di 28 Desember 2014 itu.

Baca Juga : Ada Gerakan Mau Kudeta Cak Imin dari Kursi Ketum PKB, Benarkah?

“Kami juga meminta agar Air­Asia menyampaikan permohonan maaf secara terbuka melalui media massa kepada keluarga penumpang dan seluruh masyarakat Indonesia,” ungkap dia.

Ia berharap gugatan yang diaju­kan bisa segera mendapat penetapan tanggal sidang dari Pengadilan Negeri Surabaya.

Baca Juga : Survei IPO: AHY Masuk Lima Besar Tokoh Potensial di Pilpres 2024, Anies Teratas

Dua penyelam Pelopor Serma Marinir Bovlen Sirait dan Serka Marinir Oo Sudarna berhasil menye­lam hingga kedalaman 34 meter untuk mencari ekor pesawat AirAsia QZ8501. Keduanya berhasil mere­k­a­m gambar beberapa penampakan pesawat nahas tersebut.

Foto ini ditunjukkan oleh para penyelam dan Komandan Gugus Keamanan Laut Barat Laksma Ab­dul Rasyid di KRI Banda Aceh. Ada 10 foto yang menggambarkan kon­disi ekor pesawat yang terbelah dua. Sebagian lagi menunjukkan huruf-huruf di bodi pesawat berpe­num­pang 155 orang tersebut.

Baca Juga : Pakar Analisis Ucapan Moeldoko 'Diperintah Jokowi': Tak Ubahnya Unjuk Kekuatan

Sebatang Kara

Chiara Natasya Tanus, gadis 15 tahun yang menjadi sebatang kara menyusul tragedi AirAsia QZ8501, kini setidaknya sudah menemukan sedikit kepastian. Satu dari sekian banyak jenazah yang sudah dite­mukan di lautan, ternyata adalah ibunya yang bernama Indah Julian­dsih (44) dan kakaknya Nico Giovanni (17).

Penemuan jenazah kakak laki-laki Chiara itu diumumkan oleh Kabiddokes RS Polda Jatim Kom­bes Pol Dr Budiyono di RS Bhayang­kara, Surabaya, Rabu (7/1) sore, bersamaan dengan pengu­muman tujuh jenazah lainnya.

Nico dikenal sebagai siswa Ang­lo-Chinese School, Singapura. Nico memang anak pintar yang menerima beasiswa Menteri Pendidikan Singa­pura untuk belajar di sana.

Teman Nico bernama Michael mengenang sosok tersebut sebagai pribadi pekerja keras dan sangat menghormati semua orang. “Nico adalah seorang pekerja keras dan sangat dikagumi,” ujarnya sambil menambahkan bahwa Nico juga brilian di mata pelajaran matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.

Chiara juga bersekolah di Singa­pura. Ketika tragedi AirAsia terjadi pada 28 Desember 2014, dia sedang menunggu kedatangan keluarganya yang terdiri dari kedua orangtua, kakak dan adiknya, di Terminal 2 Bandara Changi, Singapura. Jenazah sang ayah bernama Hermanto Tanus dan sang adik, Justin Giovanni, belum ditemukan.

Peti mati yang membawa jenazah Indah dan Nico disemayamkan di Adi Jasa ruang VIP B. Jenazah mereka disandingkan di dalam satu ruangan. Saat jenazah datang, tidak banyak keluarga yang datang. Ciara sendiri lebih banyak tepekur dan terus memandangi peti mati kelua­r­ganya. (h/met/dtc)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]