Pemprov Tak Memiliki Data Base Perantau


Ahad, 11 Januari 2015 - 19:20:03 WIB
Pemprov Tak Memiliki Data Base Perantau

Pengakuan dari Kepala Biro Administrasi Pembangunan dan Hubungan Rantau Muhammad Yani, Provinsi Sumbar yang menyebutkan pihaknya hingga saat ini tidak memiliki data base tentang perantau tentu sangat mengejutkan dan sekaligus mengkhawatirkan. Salah satu pertanyaan penting yang perlu dialamatkan ke biro tersebut adalah ‘jadi selama ini, apa saja pekerjaan Biro Hubungan Rantau? Jika memang sama sekali tidak punya data.

Baca Juga : Akal-akalan Pemudik Kelabui Petugas Penyekatan Larangan Mudik

Padahal sudah sangat diketahui potensi yang dapat memajukan Sumbar lebih banyak berada di tangan masyarakat Minang yang ada di rantau ketimbang yang ada di kampung halaman. Jumlah masyarakat  Mi­nangkabau di perantauan justru lebih banyak ketimbang yang ada di Sumbar sendiri.

Menurut A.A. Navis sebagai dikutip dari Wikipedia.org, Minangkabau lebih kepada kultur etnis dari suatu rumpun Melayu yang tumbuh dan besar karena sistem monarki serta menganut sistem adat yang dicirikan dengan sistem kekeluargaan melalui jalur perempuan atau matrilineal, walaupun budayanya sangat kuat diwarnai ajaran agama Islam.

Baca Juga : Puluhan WN China Masuk Indonesia, Publik: Warga Sendiri Dilarang Mudik!

Thomas Stamford Raffles, setelah melakukan ekspedisi ke pedalaman Minangkabau tempat kedudukan Kerajaan Pagaruyung, menyatakan bahwa Minangkabau adalah sumber kekuatan dan asal bangsa Melayu, yang kelak penduduknya tersebar luas di Kepulauan Timur.

Masyarakat Minang bertahan sebagai penganut matrilineal terbesar di dunia. Selain itu, etnis ini telah menerapkan sistem proto-demokrasi sejak masa pra-Hindu dengan adanya kerapatan adat untuk menentukan hal-hal penting dan permasalahan hukum. Prinsip adat Minangkabau tertuang dalam pernyataan Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah (Adat bersendikan hukum, hukum bersendikan Al-Qur’an) yang berarti adat berlandaskan ajaran Islam.

Baca Juga : Fraksi PKS DPR RI: Setop Eksperimen Kelembagaan Ristek

Orang Minangkabau sangat menonjol di bidang per­niagaan, sebagai profesional dan intelektual. Mereka merupakan pewaris dari tradisi lama Kerajaan Melayu dan Sriwijaya yang gemar berdagang dan dinamis. Lebih dari separuh jumlah keseluruhan anggota masyarakat ini berada dalam perantauan. Minang perantauan pada umumnya bermukim di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Pekanbaru, Medan, Batam, Palembang, dan Surabaya. Di luar wilayah Indonesia, etnis Minang terkonsentrasi di Kuala Lumpur, Seremban, Singapura, Jeddah, Sydney, dan Melbourne. Masyarakat Minang memiliki masakan khas yang populer dengan sebutan masakan Padang yang sangat digemari di Indonesia bahkan sampai mancanegara.

Hasil sensus penduduk Sumbar tahun 2010 menyatakan jumlah masyarakat Sumbar lebih 8 juta orang. Sebagian di antaranya hidup di Sumbar dan sebagian lainnya hidup di perantauan. Begitulah, merantau yang menjadi ciri khas dan kultur budaya masyarakat Sumbar atau yang dikenal juga dengan  masyarakat Minangkabau.

Baca Juga : Segera Daftar, Kompetisi Inovasi PLN Berhadiah Satu Miliar Ditutup 24 Mei

Jumlah masyarakat Sumbar di Indonesia 6.462.713 orang; di  Sumatera Barat 4.281.439 orang,  di Riau 624.145 orang, di Sumatera Utara 345.403 orang,  DKI Jakarta 305.538 orang, di Jawa Barat 202.203 orang, di Jambi 168.947 orang, di Kepulauan Riau 156.770 orang, di Banten 86.217 orang, di Bengkulu 73.333 orang , di Sumsel 69.996 orang, di Lampung 69.884 orang,  di Malaysia 548.000 orang dan di berbagai daerah lainnya.

Jika Pemprov Sumbar melalui Biro Administrasi Pembangunan dan Hubungan Rantau mau bekerja mendata perantau terkini melalui organisasi rantau yang ada di seluruh daerah seperti di atas dipastikan pengumpulan data base yang dibutuhkan akan banyak terbantu. Bahkan potensi pada perantau juga bisa dipetakan, sehingga berbagai pekerjaan besar yang tidak tertangani selama ini, bisa menjadi agenda bersama. **

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]