Pasaman Tak Dapat Lagi Minyak Tanah Subsidi


Ahad, 11 Januari 2015 - 19:28:56 WIB
Pasaman Tak Dapat Lagi Minyak Tanah Subsidi

Meski demikian, Peme­rintah pusat belum menge­luarkan surat tertulis bahwa Pasaman sudah tuntas jalan­kan program konversi terse­but.

Baca Juga : Menara Masjid Raya Sumbar jadi Daya Tarik Baru Wisatawan

“Kita dapat tenggang wak­tu sampai dua bulan pertama tahun ini, untuk mendata kembali keluarga miskin yang mungkin saja tercicil, untuk diajukan kembali men­dapatkan bantuan tabung gas 3 kg,” kata Asril.

Dia menyebutkan, Kabu­paten Pasaman yang memiliki 12 kecamatan, secara berta­hap sudah menjalankan pro­gram konvensi minyak tanah ke gas.

Baca Juga : Antisipasi Penyebaran Covid-19 Saat Lebaran, Nagari Sinuruik Pasaman Barat Dirikan Posko dan PPKM Mikro

Pada tahun 2013, ada tiga kecamatan yang menjadi mo­del membudayakan pema­kaian gas elpiji itu. Yaitu, Kecamatan Lubuksikaping dapat bantuan 5.221 tabung, Kecamatan Bonjol 4962 ta­bung, dan Kecamatan Pa­dang­gelugur 7224 tabung.

“Setelah dibagikan ta­bung-tabung gas tersebut, awal 2014 tiga kecamatan itu lang­sung dihapus sebagai pene­rima minyak tanah bersubsidi. Di lain sisi, memang pangkalan gas elpiji 3 kg pun sudah tersedia,” kata Kabid Asril itu.

Selanjutnya, 9 kecamatan yang tersisa, melaksanakan program peralihan penggunaan minyak tanah ke gas itu pada tahun 2014.

Asril menyebutkan, 9 kecamatan yang dimaksud adalah Kecamatan Tigonagari 2945 tabung, Simpati 2311 tabung, Duokoto 4400 tabung, Rao Selatan 4132 tabung, Rao 4445 tabung, Mapattunggul 636 tabung, Mapattunggul Selatan 869 tabung dan Rao Utara 2044 tabung.

“Program konversi ini pun sudah berjalan lancar dan atas dasar itulah Pasaman nantinya tidak dapat lagi minyak tanah bersubsidi,” jelasnya.

Dia menambahkan, saat ini di Pasaman, dengan jarak geografis yang berbeda-beda, maka harga gas 3 kg pun ada yang menjual beda. Untuk di Lubuksikaping, isi ulang gas tabung 3 kg berkisar dari Rp20 ribu- Rp22 ribu, sedangkan isi ulang gas 12 kg mencapai Rp160 ribu- Rp165 ribu.

Kondisi menguntungkan masya­rakat dialamiu oleh Kota Padang, Kota Pariaman dan sawahlunto. Meski sudah selesai konversi mi­nyak tanah ke gas, namun tetap men­dapat jatah minyak tanah bersubsidi.

Dalam aturannya, daerah yang telah dinyatakan close tidak berhak lagi mendapat jatah minyak tanah bersubsidi, hanya boleh mendapat jatah minyak tanah dengan harga ekonomi. Namun Kepala Biro Perekonomian Setdaprov Sumbar Wardarusmen mengatakan, belum menerima surat dari Migas terkait daerah yang dinyatakan su­dah clo­se ini. Sehingga tiga daerah ini tetap mendapat jatah minyak tanah bersub­sidi.

Masih terdaftarnya tiga daerah yang sudah close ini sebagai pene­rima minyak tanah bersubsidi terli­hat dalam Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 93 tahun 2014 tentang Harga Eceran Tertinggi (HET) minyak tanah untuk pang­kalan. (h/col)


Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]