Bukan Charlie Hebdo, Saya Ahmad


Ahad, 11 Januari 2015 - 19:33:25 WIB
Bukan Charlie Hebdo, Saya Ahmad

Apapun alasannya, pembataian kru media syarat sindiran Majalah Charlie Hebdo, Paris, Rabu 7 Januari 2015 lalu, adalah tindakan tidak masuk akal. Semua negara dan semua orang mengutuk.

Tetapi mengapa terjadi, bagi seba­gian opini tidak lagi penting. Sehingga begitu terfokus dan prihatinnya ter­hadap peristiwa itu, ribuan warga Prancis mengidentifikasi diri sebagai Charlie Hebdo. “Je Suis Charlie”. “Saya adalah Charlie”, kata mereka pada sepanduk dan banner yang dikibarkan.

Baca Juga : Mantan Pilot AU Israel Sebut Pemerintah Negara Yahudi Tersebut adalah Penjahat Perang

Akan tetapi tetap saja muncul kontroversi, polemik, per­bantahan, perdebatan, perselisihan dan silang pendapat. Mi­salnya, sehari setelah kejadian, pada tanggal 8 Januari 2015, di Koran The New York Time, seorang penulis opini mengatakan, “I am not Charlie Hebdo”. “Saya bukan Charlie Hebdo”.

David Brooks, penulis opini itu di dalam intro paragraf pertama tulisannya mengatakan begini, “Para wartawan di Charlie Hebdo kini telah dirayakan sebagai martir atas nama kebebasan ber­ekspresi, tetapi mari kita hadapi itu: Jika mereka mencoba menerbitkan koran satire mereka pada setiap kampus universitas Amerika selama dua dekade terakhir ini tidak akan berlangsung 30 detik. Mahasiswa dan kelompok fakultas akan menu­duh mereka mengkampanyekan kebencian. Pihak rektorat akan menghapus beasiswa mereka dan akan memberhentikan mereka.”

Baca Juga : Presiden Erdogan Serukan Negara Muslim Lawan Israel

Selebihnya, David Brooks, alih-alih dari mengaitkan peristiwa itu kepada aksi pihak tertentu apa lagi Islam, lebih banyak mengoreksi prilaku kelompok kritis kam­pung­nya sendiri. Di Amerika yang bebas mengeluarkan ekspresi, tetapi bila menyangkut sindiran terhadap lem­baga suci, agama dan kelompok serta orang-orang tertentu, tetap di­be­r­angus dan dilawan oleh mereka yang tidak senang. Hanya tentu tidak sampai membantai seperti yang terjadi di Paris kemarin lalu itu.

Kata David, “Reaksi masyarakat terhadap serangan di Paris mengung­kapkan bahwa ada banyak orang yang cepat untuk memperlakukan seperti orang penting dan me­nying­gung pandangan teroris Islam di Perancis. Tetapi jauh lebih sedikit toleran terhadap mereka yang me­nyinggung pandangan mereka sen­diri di negeri mereka.”

Selanjutnya penulis ini berkata, “lihat saja semua orang yang telah bereaksi berlebihan ke kampus mikro-agresi. The University of Illinois memberhentikan seorang profesor yang mengajar pandangan Katolik Roma tentang homo­seksualitas.”

Kembali ke Eropa, opini lain menyebut bahwa yang melakukan serangan teror itu ada yang menye­telnya dari belakang. Dan itu sudah jelas dengan adanya pengakuan dari ISIS di Yaman. Namun, teori kons­pirasi tetap subur. Tetapi di balik itu masih ada yang tidak percaya dengan pengakuan dari Yaman itu. Bahkan menuduh ada bendera lain yang bersembunyi di belakang.

Gilad Atzmon kolumnis Inggris di dalam tulisannya di dalam gilad. co.uk (9/1) mempertanyakan. Apa­kah benar pengakuan itu?. Siapa dan kelompok mana yang sebenarnya bermain? Tetap pertanyaan besar. Bahkan ada yang curiga, para teoris kali ini bukanlah kelompok profesional.

Mengapa seorang pemuda tang­gung usia 18, Hamyd Mour, yang dicurigai dari 3 pelaku dengan tenang­nya setelah namanya disebut di muka polisi, mengaku bahwa dia tidak ada hubungan dengan peris­tiwa itu.

Keanehan lain, sementara me­ng­anggap pembataian itu dilakuan oleh teroris profesional. Tetapi mengapa mereka meninggalkan identitas pribadi (ID), Padahal menurut para ahli, hampir mustahil seorang atau para teroris membawa ID.

Telepas dari itu, bagi kaum mi­noritas Muslim di Eropa, apapun alasannya peristiwa berdarah di Paris pastilah sangat mem­priha­tinkan. Bah­kan membuat mere­ka ketakutan. Bahwa perbuatan itu terkutuk dan tidak pernah diajarkan oleh Islam dan itu bukanlah dari kaum muslimin, semua sepakat. Akan tetapi tetap saja berakibat memperkokoh pencitraan buruk dan menyuburkan terus Islam­o­pobhia.

Muhammad Elvandi dari Man­chester, menulis dalam islamicgeo (7/1/15), tragedy Paris tanpa sadar telah mengkhianati Nabi. Di sini diulas betapa tidak Islami perbuatan itu, meskipun menghadapi orang yang mencaci dan menghina Nabi. Karena di dalam sejarah, tidak pernah Nabi membalas penghinaan terhadap orang yang mencaci dan menghinanya.

Yang paling dikhawatiri penulis ini adalah, akibatnya terhadap peme­luk Islam minoritas di Eropa. Pulu­han tahun, da’i, ilmuwan, sastrawan, seniman muslim berusaha menam­pilkan wajah rahmatan lil ‘alamin Islam, mulai dari kesantunan, inte­lek­tualitas, produktivitas, dan keter­bukaan mengajarkan Islam dengan semua cara yang elegan. Ia bukan tugas ringan, apalagi di Perancis, dimana Islamophobia sangat kental, tidak seperti di Inggeris yang ramah.

Kita salut dengan upaya dan kerja keras selama ini. Mereka sudah bersusah payah meletakkan dasar dan kerangka pikir Islam yang tepat sehingga banyak orang Eropa yang memeluk Islam terutama dari kala­ngan ilmuan, kalangan elit dan kelompok atas.

Pada sisi lain ada lagi yang patut direnungkan tentang korban kema­tian seorang Polisi Muslim Prancis korban peristiwa ini. Surat kabar the Daily Mail, BBC, The Guardian dan Washington Times (8 , 9, 10 & 11/1) melaporkan, Ahmed Merabet (42) sudah 20 tahun bangga menjadi polisi di Perancis. Almarhum meng­hidupi ibu dan saudara-saudaranya setelah ayah mereka wafat. Malik Merabet mengatakan kematian adiknya Ah­mad Merabet sia-sia jika masih ba­nyak orang beranggapan Islam itu sa­ma dengan ekstremis. Pembunuh itu adalah ‘orang gila’ dan ‘tak ber­aga­ma’. Mereka adalah teoris, katanya.

Ahmad Merabet berasal dari pinggiran utara-timur Paris, dulunya adalah imigran muslim dari Afrika Utara. Dia ditembak saat tengah bertugas, berpatroli di depan jalan kantor Charlie Hebdo. Ahmad dihabisi oleh pelaku meski sudah mengangkat tangan. Dia ditembak di bagian kepala.

Malik mengatakan sangat bang­ga pada adiknya telah mengabdi pada kepolisian Prancis dan berguna di mata masyarakat Ibu Kota Paris.

“Dia tulang punggung keluarga. Dia seorang ayah, saudara, dan satu lagi, saya mengatakan ini untuk para rasis, baik yang anti-Muslim atau anti-Semit. Kalian tidak bisa men­campur adukkan ekstremis dengan Muslim. Orang sinting pelaku pe­nem­bakan ini tidak punya agama. Jadi hentikan merusak, membakar, dan menyerang masjid atau sina­gog,” ujar Malik.

Ajaibnya, kematian Ahmad, entah kebetulan atau memang tak­dir-Nya, secara tersirat telah juga mengundang kampanye dukungan terhadap Muslim. Teriakan dan slogan pada banner yang semula hanya ‘Je Suis Charlie’ (Saya Char­lie), kini muncul ungkapan baru ‘Je Suis Ahmed’ (Saya Ahmad). Selan­jutnya mereka meneriakkan anti rasisme dan anti fasisme. Mere­ka mau bersatu. ***

 

SHOFWAN KARIM

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]