Padang yang Tak Lagi ‘Nyaman’


Selasa, 13 Januari 2015 - 19:46:48 WIB
Padang yang Tak Lagi ‘Nyaman’

Topik kami beralih persoalan layanan publik di Kota Padang. Kami yang sama-sama berjuang datang menjadi mahasiswa  ke kota Padang tahun 1995,  amat merasakan betapa bedanya Padang 20 Tahun lalu dengan Padang sekarang.

Baca Juga : Disebut Bak Musa Datangi Firaun, Amien Rais Ungkit Hukum Neraka ke Jokowi

Kota Padang sekarang memang sudah semakin padat penduduknya. Pertumbuhan orang kaya dan kelas menengahnya sudah semakin  besar sehingga orang yang bermobil dan berkendaraan pribadi  semakin tinggi pula. Mal dan tempat perbe­lanjaan modern di jalan-jalan utama semakin bertambah yang berakibat semakin tidak cukupnya jalan-jalan raya bagi kendaraan bermotor. Kondisi ini diperburuk dengan perilaku warga Kota Padang ketika pelaksanaan acara pesta. Ruas jalan sering dipakai full sehingga tidak disisakan bagi pengguna kendaraan lewat yang berakibat pada terjadinya “kemacetan buatan”.

Jalan raya “By Pass” tidak lagi benar disebut “By Pass”, mungkin lebih tepat disebut “By Load, By Mac, dan seterusnya. Dalam masa hari kerja, Senin sampai Jumat, titik-titik kemacetan itu terbentuk aki­bat mobilitas warga kota di pagi dan sore hari. Ruas jalan By Pass, An­dalas, Khatib Sulaiman, Air Tawar dll menjadi menjadi titik simpul kemacetan di Kota Padang.  Di titik simpul kemacetan itu tidak jarang pula kami bersua dengan “anak jalanan” yang meminta disu­guhi uang recehan. Memang begitu terasa tidak terurusnya Kota ini,” kata saya spontan.

Baca Juga : Catat! Pelanggar Larangan Mudik Bakal Diminta Putar Balik atau Ditilang

Setelah dengan sabar kami mela­lui simpul kemacetan itu, akhirnya sampai di tempat pesta. Sekali lagi di tempat pesta yang dituju, kembali kami menyaksikan betapa warga terkesan dengan mudahnya dapat menutup “mati” ruas jalan umum menuju Pantai Padang.

Selesai di pesta dengan memutar mobil kembali menuju Jalan Vete­ran dan mengambil jalan Purus yang lain menuju Pantai Padang. Udah cukup lama juga kami tidak melihat pantai yang kononnya semakin ramai saja dengan alternatif wisata kulinernya, dengan sajian berbagai ikan laut segar dengan menu bakar yang “khas” Padangnya. Namun selera kita menjadi agak terganggu dengan pemandangan ‘pondok ce­per’ dan tenta-tenda dan pondok-pondok ala kadarnya yang berdiri tanpa aturan di sepanjang pantai. “Aroma di wisata pantai Padang ini semakin tidak enak terasa keluar dari sela-sela pondok ceper, dan pondok-pondok itu seiring dengan perjalanan matahari yang mem­benamkan dirinya di batas ujung la­ngit sana, sebuah momen yang amat disukai oleh kaula muda yang ma­buk cinta. Sungguh sebuah ironi ter­jadi di daerah yang katanya  me­megang kuat tradisi adat dan agama.

Baca Juga : JK-Surya Paloh Bisa Berkolaborasi untuk Anies Baswedan di Pilpres 2024

Minggu paginya saya dan keluar­ga mengunjungi GOR Haji Agus Salim untuk berolahraga pagi. Ra­mai juga warga kota berolah raga pagi di GOR. Saya mengira kera­maian ini bukan karena daya tarik GOR yang menyediakan sarana publik yang menyenangkan untuk berolah-raga, akan tetapi perasaan saya lebih dise­babkan tidak adanya pilihan lain. Saya merasakan seakan-akan di kawasan GOR berjalan apa adanya sehingga kita akan menyak­sikan parkiran boleh di mana saja, berdagang juga kelihatan begitu. Penilaian sabjektif saya, tidak ada perubahan yang nyata bagaimana usaha peme­rintah untuk mengelola dan menata GOR itu menjadi lebih baik.

Kota Padang semakin tak bersa­habat jika hujan dan panas meng­hampirinya. Jika curah hujan tinggi, maka dapat dipastikan tiga jam setelah itu banjir sudah mengan­cam Kota Padang. Begitu pun sebaliknya kalau cuaca cerah maka warga Padang merasakan betapa gerahnya Kota Padang sehingga pemakaian kipas angin di tempat tinggal dan tempat kerja semakin tinggi. Dalam konteks ini tidak terlihat usaha yang serius Pemerintah Kota untuk menciptakan “hutan kota” sehingga Kota Padang semakin tidak diting­galkan orang.

Baca Juga : Reshuffle Kabinet Jokowi, Nadiem Makarim Layak Diganti?

Tidak terkecuali soal pasar dan sampah yang sampai sekarang belum terurus dengan maksimal. Sejak gempa 2007 hingga sekarang Pasar Raya Padang masih tetap belum berubah. Kumuh, lusuh, sembraut dan sumpek. Tidak nyaman untuk para pedagang dan pembeli. Begitu juga soal kebersihan. Sangat mudah bagi kita untuk menemukan tum­pukan sampah berserakan di sepan­jang ruas jalan di kota Padang.

Saya merasa Padang terasa tidak nyaman dan bersahabat lagi. Hal ini karena pemimpin dan warganya. Pemimpinnya yang sering ‘lalai’ dan berdampak terhadap pembentukan mentalitas warganya yang ‘abai’ (tidak peduli). Warga Padang se­sung­guhnya mengimpikan “pemim­pin” yang selalu hadir dalam mengu­rai per­soalan publik yang semakin hari semakin kompleks. Jangan cepat menyalahkan warga/rakyat. Jangan salahkan warga/rakyat ketika ia lebih memilih seorang presiden, gubernur, walikota dan bupati yang di luar aqidah mayoritas pemilih di negeri ini. Hadirlah untuk mengurus mere­ka, bukan mengurus kepen­tingan kelompok tertentu. Siaplah ‘berpa­sang badan’ mengurus kepen­tingan umum jika ingin menjadi ‘pemimpin disanjung’ oleh warganya. Semoga

 

HARY EFENDI ISKANDAR
(Dosen FIB Unand/ Pemerhati Sosial-Budaya)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]