DKP Pantau Penggunaan Bahan Pengawet Ikan


Kamis, 15 Januari 2015 - 18:50:44 WIB
DKP Pantau Penggunaan Bahan Pengawet Ikan

“Jadi tidak hanya berfungsi memfasilitasi nelayan untuk menjual dan menangani hasil tangkap, akan tetapi juga un­tuk memantau dan meng­hindari penggunaan bahan berbahaya untuk pengawetan ikan,” ungkapnya.

Baca Juga : Antisipasi Karhutla, Sumbar akan Tambah Alat Gurdian

Dia menjelaskan, Pessel merupakan salah satu daerah pemasok ikan laut, oleh sebab itu mutu ikan yang ditangkap nelayan perlu terjaga dengan baik. Penggunaan bahan ber­baya dapat menimbulkan ke­racunan bagi konsumen.

Dikatakan, daerah ini me­mi­liki potensi lestari pe­ri­kanan  laut mencapai 100 ribu ton pertahun. Namun potensi itu tidak sebanding dengan kemampuan tangkap nelayan setempat dan kalah bersaing dengan peralatan nelayan luar daerah. Potensi besar dan le­mah­nya kemampuan tangkap menyebabkan nelayan se­tem­pat sulit hidup sejahtera.

Baca Juga : Kualitas Udara di Sumbar Masih Kategori Sangat Baik

Dia mengakui, Pessel baru bisa menggarap seperempat  dari potensi lestari perikanan laut tersebut. Ada sejumlah persoalan mendasar yang di­hadapi Pesisir Selatan selama ini sehingga produksi peri­kanan tangkap hanya rata rata 25  ribu ton setahun.

“Misalnya masih ren­dah­nya sumber daya manusia ma­sya­rakat yang bergerak di­sektor perikanan laut, sehingga sulit menjangkau dan mengi­kuti perkembangan tekhnologi perikanan. Sementara nelayan luar yang menangkap ikan di laut Pessel memiliki SDM relatif bagus dengan peralatan tangkap lebih baik,” katanya.

Baca Juga : Komunitas Bonsai Terbentuk, Solsel Miliki Tanaman Endemik Khas

Dikatakannya, nelayan Pe­s­sel masih ada yang me­nangkap ikan dengan peralatan se­der­hana, misalnya menggunakan sampan dayung dan jaring ala kadarnya.

Yoski W menyebutkan, produksi ikan tangkap di da­e­rah itu bisa berfluktuatif. Hal ini dapat dilihat melalui hasil tangkapan pertahun. Pada ta­hun 2005 produksi ikan sekitar 24 ribu ton, tahun 2006 se­banyak 26 ribu ton, 2007, hingga 2009 sekitar 25 ribu ton. Tahun ini diperkirakan paling banyak sekitar 29 ribu ton

Baca Juga : Cuaca Besok di Sumbar Cerah hingga Berawan, Namun Ada Potensi Hujan Ringan

Pembangunan perikanan Pesisir Selatan pada beberapa tahun lalu memang pernah mengalami masa - masa tran­sisi.  Misalnya terjadinya pe­nurunan produksi perikanan laut, terutama untuk nelayan dengan alat tangkap tra­disional.

Namun menurutnya, se­telah mengalami masa transisi, Pesisir Selatan telah berupaya untuk mengembalikan, paling tidak keposisi normal, dimana produksi perikanan bisa nor­mal kembali.

Misalnya terjadinya pe­nurunan armada dan alat tang­kap dari tahun ketahun. Lima tahun lalu berdasarkan catatan Dinas Kelautan jumlah ar­mada penangkapan sekiatar 2.392 unit berupa mesin tonda, kapal payang, dan perahu de­ngan menggunakan mesin. Namun kini berkisar sekitar 1.900-an. “Ini berpengaruh terhadap produksi ikan di perairan Pesisir Selatan,” ujarnya.

Untuk itu menurutnya, pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan semenjak rentang wak­tu 2007 sampai sekarang mencoba melakukan upaya intervensi dengan membantu nelayan dengan mesin long tail.

“Dari pantauan kita, sejumlah nelayan yang telah dibantu dengan peralatan telah menunjukan perkembangan posisitf. Selaian hasil tangkap memadai, mesin ini bisa dikembangkan untuk nelaya lainnya. Namun jika dibandingkan dengan potensi lestari ikan di sini memang masih jauh dari harapan,” ujarnya lagi. (h/har)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]