Masyarakat Solsel Keluhkan Seringnya Mati Listrik


Ahad, 18 Januari 2015 - 19:10:03 WIB
Masyarakat Solsel Keluhkan Seringnya Mati Listrik

“Habis magrib itu waktu untuk belajar bagi anak-anak sekolah. Kalau listrik sering mati, maka kemajuan pendi­dikan akan berjalan lamban. Kemudian, sehabis magrib warga menggunakan waktu untuk menonton televisi seba­gai sarana hiburan, setelah lelah bekerja di siang hari. Menonton televisi juga meru­pakan sarana pendidikan bagi warga untuk menambah pe­nge­tahuan tentang berbagai hal,” tuturnya saat dihubungi Haluan, Minggu (18/1).

Baca Juga : Wagub Sumbar Bakal Perjuangkan Normalisasi Sungai Batang Sumani ke Pusat

Sebagai anggota Komisi II DPRD Solsel, Dede berharap kepada PLN Rayon Muaro­labuah sebagai instansi verti­kal yang merupakan mitra Komisi II, untuk mem­perha­tikan masalah ini. Pihaknya berharap PLN mendorong Pembangkit Listrik Tenaga Mini (PLTM) yang dikelola oleh PT Selo Kencana Energi (SKE) di Teluk Air Putih, Sangir, untuk bisa mandiri, agar bisa menyuplai kebu­tuhan listrik bagi masyarakat Solsel.

Hal yang sama juga dike­luh­kan Dodi Nofrial, warga Kecamatan Sangir Ju­juan.­”Tak ada hujan dan badai, listrik tetap mati. Kalau ada pemadaman, tolong beri tahu masyarakat kapan jadwal pe­ma­daman, agar masyarakat bisa menyiapkan peralatan untuk menghadapi pemada­man. Kalau tak diberi tahu, masyaralat tidak siap, sehingga mengakibatkan kerugian. Misal­­nya, kerusakan alat-alat elektronik,” ujar Dodi yang juga anggota Komisi II DPRD Solsel itu.

Baca Juga : Berprestasi, 31 Personel Polres Dharmasraya Dianugerahi Penghargaan

Menurut Dodi, seringnya mati listrik mengakibatkan kerugian bagi masyarakat yang berwiraswasta seperti rumah makan, jasa foto kopi, studio foto, tukang perabotan dan sebagainya, karena usaha-usaha demikian bergantung kepada listrik.

Mati listrik juga terjadi di Kecamatan Sangir Batang Ha­ri­ (SBH). Camat SBH, Gur­hanadi berujar, mati lis­trik di kecamatan itu tak hanya terjadi pada malam hari, tetapi kadang sejakpagi, hingga malam hari. Padahal masyarakat mem­butuhkan listrik tidak hanya pada malam hari saja, tetapi juga pada siang hari. Misalnya, untuk mencuci pakaian de­ngan mesin cuci. Sementara banyak masyarakat yang tak lagi mencuci pakaian ke su­ngai.

Gurhanadi sering men­dengar keluhan masyarakat terkait mati listrik tersebut.

Demikian juga di Keca­matan Sungai Pagu, KPGD dan Pauh Duo. Camat Pauh Duo, Surya Nurabantani yang berdomisili di Sungai Pagu mengatakan, di tiga kecamatan Muarolabuah tersebut, sering terjadi mati listrik, terutama mulai magrib hingga malam.

“Mati listrik sudah menjadi rutinitas di Solsel. Sudah 3 hari belakangan, listrik mati bertu­rut-turut. PLN harusnya me­nyelesaikan masalah ini,” ucap­nya.

Keluhan seringnya mati listrik tak hanya dirasakan masyarakat biasa, tetapi juga dirasakan Bupati Solsel, Muz­ni Zakaria, yang berdomisili di rumah dinasnya di KPGD.

“Di rumah dinas saya juga sering mati listrik. Bedanya, di rumah saya ada genset untuk menyalakan listrik jika terjadi pemadaman. Keluhan masya­rakat terkait mati listrik, juga merupakan keluhan bupati,” sebutnya.

Muzni menjelaskan, pihak­nya sering menyampaikan keluhan masyarakat tersebut kepada PLN rayon Muaro­labuh, sebab mati listrik sudah menjadi perhatian Pemkab Solsel sejak lama. Namun, pihaknya menunggu perbaikan layanan yang dilakukan oleh PLN, yang berkaitan dengan PLTMTeluk Air Putih.

“Saya mendukung investor pemasok listrik seperti PT SKE dan Supreme Ener­gi­untuk mencukupi kebutuhan listrik di Solsel. Namun, ma­sya­rakat harus bersabar me­nung­gu langkah yang diambil oleh para investor, untuk mem­­perbaik masalah mati listrik di Solsel,” ungkap Muzni.

Sementara itu, Menejer PLN Rayon Muarolabuh, Ru­di Hamiri membantah mati listrik setiap hari yang terjadi mulai magrib hingga malam hari. Katanya, mati listrik malam hari hanya terjadi pada Kamis (15/1) dan Sabtu (15/1) karena ada gangguan.

“Pada Kamis, jaringan di gardu hubung Lubuk Gadang terbakar. Kami langsung turun ke lapangan untuk mem­per­baikinya. Memang cukup la­ma listrik mati pada hari itu, sejak pukul 21.00 WIB hingga keesokan harinya. Jumat ma­lam, listrik baru menyala sete­lah kami selesai memperbaiki jaringan di sana. Sedangkan pada Sabtu, jaringan terganggu di Sungai Lambai, karena ada masyarakat menebang pohon, yang menimpa jaringan listrik di sana sehingga meng­akibat­kan jaringan lepas dari kedu­dukan. Sejak pagi hingga ma­lam hari kami memper­baiki­nya, sampai listrik menyala pada malam hari,” ungkapnya.

Rudi menegaskan, mati listrik yang terjadi di Solsel pada dua hari tersebut bukan­lah pemadaman bergilir, me­lain­kan karena kasus gang­guan. Kata Rudi, kalau pema­daman bergilir, mati listrik hanya dua jam. Sebelum pema­daman bergilir dilakukan, akan disosialisasikan kepada masyarakat.

Mengenai mati listrik se­bentar yang terjadi pada malam hari, kata Rugi, adalah karena pihaknya melepaskan penyu­lang untuk sementara, agar PLTMTeluk Air Putihbisa beroperasi.

“Kalau malam hari, terjadi beban puncak pemakaian lis­trik, yakni sebesar 15 KB. Untuk mengatasi beban pun­cak itu, diambil tegangan dari Solok sebesar 17,5 KB. Untuk memindahkan tegangan terse­but ke PLTMTeluk Air Putih, tidak bisa langsung, sebab dari 14 hingga 17,5 SKE, dibutuh­kan pelepasan penyu­lang. Oleh karena itu, PLN Rayon Muarolabuh sebagai penyu­lang, mematikan listrik untuk sementara, agar PLTMTeluk Air Putih bisa beroperasi,” jelas Rudi.

Pihaknya sejak awal men­dorong PLTM Teluk Air Putih agar bisa mandiri, tanpa ber­gantung tegangan lagi dari sumber di Solok yang berjarak 170 km sumber tegangan me­le­wati kawasan perbukitan dan hutan. Karena kalau masih bergantung kepada sumber di Solok, jika sumber tersebut mati, maka PLTM Teluk Air Putih juga tak bisa beroperasi.

“Kalau PLTM Teluk Air Putih yang berkapasitas 8 Megawatt (MW) bisa ber­operasi mandiri, maka bisa mencakup kebutuhan listrik di Kecamatan Sangir, Sangir Jujuan, Sangir Balai Janggo dan Sangir Jujuan. Sementara untuk beban di Kecamatan KPGD, Sungai Pagu dan Pauh Duo, bisa ditanggung oleh PLN Rayon Muarolabuh. Artinya, bila PLTMTeluk Air Putihbisa beroperasi mandiri, maka tak akan terjadi beban puncak di Solsel kalau malam hari, sebab ditanggung oleh PLN dan PLTM Teluk Air Putih.

Saat ini, Kata Rudi, beban listrik di Solsel yang tercatat di PLN Rayon Muarolabuh sebesar 7,5 MW. Kebutuhan beban ke depan tergantung kebutuhan ekonomi di Solsel.

Rudi menambahkan, pi­hak­nya memahami keluhan yang diutarakan oleh masya­rakat Solsel terkait masalah mati listrik di kabupaten itu. Namun, hal itu bukanlah karena kehendak pihaknya, namun karena kondisi keter­batasan ketersediaan tegangan dari jalur pusat.

“Ketersediaan tegangan untuk Sumbar berasal dari pusat pengaturan beban yang kantornya di Pekanbaru, yang tak hanya mencakup beban untuk Sumbar, melainkan beban untuk Sumatera Selatan dan beberapa provinsi tetang­ga.Dari pusat pengaturan be­ban, tegangan dialirkan ke Padang, kemudian ke gardu induk di Solok, lalu ke penyu­lang, yakni PLN Rayon Mua­ro­labuah, yang dilan­jutkan ke dua gardu hu­bung di Solsel, yakni di Balun dan Lubuk Gadang. Dari gardu hubung, tegangan dilan­jutkan ke trafo-trafo, hingga pelanggan PLN, yakni rumah-rumah masya­rakat.  “Masya­rakat jangan serta merta me­nya­lahkan kami. Jangan me­ngang­gap kami ti­dak bekerja. Kami juga punya tanggung jawab moral untuk melayani masyarakat,” tutup­nya. (h/dib)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]