Eksekusi Mati 6 Gembong Narkoba Sudah Tepat


Senin, 19 Januari 2015 - 19:44:06 WIB
Eksekusi Mati 6 Gembong Narkoba Sudah Tepat

Eksekusi mati itu merupakan bukti tegas Indonesia serius perang terhadap penyalahgunaan narkoba di tanah air. Masih terdapat 64 gembong narkoba lainnya yang menunggu dieksekusi mati. Hukuman eksekusi mati tersebut sesuai dengan aturan hukum dan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Selain sebagai bukti nyata perang terhadap narkoba, eksekusi mati itu juga merupakan bagian dari penegakkan wibawa hukum dan harga diri negara Indonesia di dunia internasional.

Baca Juga : Disebut Bak Musa Datangi Firaun, Amien Rais Ungkit Hukum Neraka ke Jokowi

Meskipun dua negara sangat reaktif atas eksekusi mati yang dikenakan terhadap dua warga negaranya dengan langsung menarik dua besarnya masing-masing, namun pemerintah Indonesia tidak bergeming, karena Indonesia dalam hal ini hanya melaksanakan aturan hukum yang berlaku di negara merdeka Indonesia. Dalam hal ini, sudah semestinya negara lain menghormati kedaulatan hukum yang berlaku di Indonesia.

Dua negara yang menarik duta besarnya adalah Belanda dan Brasil. Belanda menarik duta besarnya, karena  Menteri Luar Negeri Belanda Bert Koenders menilai eksekusi terhadap warga negara Belanda Ang Kiem Soe (52) merupakan pengingkaran terhadap martabat dan integritas kemanusiaan”.  Senada dengan itu, pemerintah Brasil menilai eksekusi hukuman mati terhadap salah satu warga negaranya di Indonesia karena kasus narkoba merupakan bentuk kekejaman.

Baca Juga : Catat! Pelanggar Larangan Mudik Bakal Diminta Putar Balik atau Ditilang

Dalam pernyataannya pemerintah Brasil mengatakan Moreira merupakan warga Brasil.

Kritik terhadap eksekusi hukuman mati juga disampaikan sejumlah organisasi Amnesty International dan pegiat Hak Azasi Manusia (HAM). Namun tekanan  tersebut  dianggap sepi oleh pemerintah Indonesia. Tentu kita perlu mengapresisi pemerintahan Jokowi-JK melalui institusi terkait yang bertugas di dalam menetapkan hukuman dan juga mengeksekusi mati enam gembong narkoba tersebut.

Baca Juga : JK-Surya Paloh Bisa Berkolaborasi untuk Anies Baswedan di Pilpres 2024

Masyarakat juga berharap, Pemerintah  Indonesia tidak ragu dalam melanjutkan eksekusi mati berikutnya kepada 64 gembong narkoba lainnya. Hukuman mati itu diharapkan menjadi jalan terakhir yang mesti dilaksanakan pemerintah Indonesia. Karena hanya dengan itu diharapkan lahir kesadaran efek jera di kalangan pemakai, pengedar dan pemasok. Kita sangat khawatir jumlah masyarakat yang mengkonsumsi narkoba dari hari ke hari terus meningkat. Bahkan 76 persen napi yang menyesaki lapas terdiri dari para napi kasus narkoba. Sebab itulah perang terhadap narkoba adalah agenda penting yang mesti dilakukan secara sungguh-sungguh, tanpa basa-basi dan pilih kasih.

Tentu saja upaya perang terhadap narkoba tidak cukup hanya berupa hukuman eksekusi mati saja pada napi yang menjadi gembong, tapi juga mesti dilakukan upaya-upaya lain seperti kampanye, agar menjauhi penyalahgunaan narkoba, penyadaran melalui pelatihan-pelatihan dan lain sebagainya. Kita juga perlu menjaga wibawa institusi kepolisian dan aparat keamanan lainnya. Jangan sampai yang menjadi pengguna, pengedar dan pemasok adalah oknum aparat. Bila itu yang terjadi, maka sama saja dengan pagar makan tanaman.

Baca Juga : Reshuffle Kabinet Jokowi, Nadiem Makarim Layak Diganti?

Agar dapat sedini mungkin mengetahui generasi muda terlibat dalam penyelahgunaan narkoba, maka ada baiknya dilakukan tes urine pada semua tingkat pend­idikan. Tes urine berkala juga perlu diberlakukan pada kalangan pejabat, aparat penegak hukum, pihak keamanan, anggota dewan dan lain sebagainya. Jika ada yang terbukti positif, maka mesti diambil langkah-langkah strategis berikutnya, sehingga bisa mengambil langkah antisipatif yang lebih cepat pula. Semoga saja dapat berjalan dengan baik. Semoga. **

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]