Orkestra Simfoni di Ranah Minang


Senin, 19 Januari 2015 - 19:44:34 WIB
Orkestra Simfoni di Ranah Minang

Di negara kita Indonesia, musik memiliki ragam jenis seperti musik Keroncong yang khas dengan gitar ukulele, musik Karawitan Minang yang khas dengan dendang ber gari­nyiak, instrumen saluang dan talem­pong, musik Campur Sari se­perti yang dipopulerkan oleh Didi Kempot, dan musik Dang­dut yang khas dengan bunyi flute yang riang, men­dayu-dayu dan sangat populer di kalangan masyarakat di seluruh wilayah Indonesia. Fungsi dari musik-musik ter­sebut adalah sebagai hiburan masyarakat. Beberapa musik tersebut tidak hanya terdengar di Indonesia saja tetapi juga sukses diperkenalkan ke man­canegara. Seniman-seni­man tradisi kita yang berangkat dari sanggar, maupun sekolah seni seperti Institut Seni Indo­nesia (ISI) Padangpanjang me­nga­­­presiasikan kepada dunia ba­gai­­mana wujud seni musik tra­disi khususnya musik Minang. Terbukti dengan seringnya ke­gia­­tan seni musik tradisi minang terse­but menjelaskan kepada ki­ta bahwa musik kita sangat ekslu­sif dan dihargai diluar Indonesia.

Baca Juga : Menko Airlangga Apresiasi Dedikasi TNI dalam Penanganan Covid-19

ISI Padangpanjang adalah Institut Seni satu-satunya di Sumatera sebelum di­di­rikan­nya Institut Seni Budaya Indo­nesia (ISBI) Ac­eh yang laun­ching  pada 1-2 Desember 2014. ISI Padangpanjang me­mi­liki sembilan jurusan di antaranya, jurusan Seni Ka­rawitan, Seni Tari, Seni Musik, Seni Teater, Seni Kriya, Seni Murni, Seni Televisi dan Film, Seni Desain Komunikasi Vi­sual (DKV), dan Seni Foto­grafi. Jurusan-jurusan tersebut terbagi ke da­lam dua fakultas yaitu Fakultas Seni Per­tun­jukan dan Fa­kul­tas Seni Rupa. Seperti pem­bahasan seniman yang membawakan musik tra­di­si hingga ke luar Indonesia tadi, fenomena tersebut dapat kita temui pada jurusan Seni Kara­witan (Musik Nusan­tara). Jadi, apakah per­bedaan Ju­ru­san Seni Ka­ra­witan (Mu­sik Nu­san­ta­ra) de­ngan Ju­ru­san Seni Mu­sik?

Jurusan Se­­ni Ka­ra­wi­tan me­ru­pa­kan jurusan yang sa­­ngat le­kat de­ngan tra­disi mu­sik daerah khu­sus­nya mu­sik Mi­nang. Sifat me­lestarikan musik tradisi dipegang erat oleh jurusan ini. Dengan fe­no­mena masuknya pe­ngaruh glo­ba­lisasi seperti musik pop ba­rat, rock, me­tal dan lain-lain me­nye­babkan mu­sik tra­disi sedikit tergeser turun kedu­dukannya. Agar fenomena ini tidak terja­di, maka jurusan seni Kara­witan menuntut pada maha­siswanya untuk terampil ber­mu­sik tra­disi dan menga­presia­sikannya pada masya­rakat bahkan masya­rakat non Indo­nesia. Se­dangkan Jurusan Seni Musik mengaplikasikan seni musik konvensional atau seni musik barat (musik kla­sik), dan me­ngangkat seni musik melayu dengan me­makaikan teori musik barat di dalamnya. Mu­sik klasik se­perti karya Haydn, Wolfgang Amadeus Mozart, Ludwig Van Bee­thoven (me­rupakan kom­poser musik kla­sik dengan karya musiknya yang men­dunia) dipelajari oleh ma­hasiswa Jurusan Musik. Mere­ka mempelajari dan me­mainkan repertoar-repertoar klasik tersebut dengan instru­men yang mereka pilih sejak awal semester. Instrumen terse­but terdiri atas kelompok- kelompok besar yaitu alat musik String (dawai), alat musik tiup, alat musik pukul dan lain-lain. Mahasiswa dibe­rikan kebebasan dalam memi­lih satu instrumen untuk di­kua­sai selama memenuhi sya­rat seperti bersungguh-sung­guh dalam berlatih dan sesuai dengan fisik atau kondisi tu­buh. Mahasiswa harus terampil memainkan instrumennya se­suai dengan kaidah, jika ter­capai maka tahap setelah itu adalah memainkan instrumen musik ke dalam sebuah kelom­pok yang dinamakan Orkestra.

Baca Juga : Banyak Peninggalan Habibie yang Hilang, Mulyanto: Stop Dehabibienisasi

Orkestra merupakan ga­bungan pemain musik dengan beragam instrumen musik seperti instrumen dawai (s­tring), instrumen tiup, ins­trumen pu­kul dan lainnya yang me­main­kan beberapa repe­rtoar lagu, dipimpin seorang yang disebut konduktor. Or­kestra meru­pakan sebuah ke­satuan dari berbagai ragam instrumen yang masing- ma­sing memiliki ka­rak­ter ber­beda tetapi dapat menjadi padu, selaras dan kuat. Di dalam orkestra, selain me­miliki pe­nge­tahuan musik k­lasik, ma­hasiswa harus mene­rapkan ilmu kedisiplinan dan keber­samaan. Orkestra harus memi­liki aturan dan keilmuan dida­lamnya sehingga terbentuk­lah orkestra yang baik.

Orkestra Simfoni (Sym­phony Orchestra) merupakan product yang sedang dikem­bangkan ISI Padangpanjang di bawah Jurusan Seni Musik. Orkestra Simfoni diresmikan Gubernur Sumbar, didam­pingi Walikota Padangpanjang dan Rektor ISI Padangpanjang saat itu yaitu Prof Mahdi Bahar Jumat, 7 Februari 2014. Sym­phony Orchestra sangat didu­kung keberadaannya oleh ber­ba­gai pihak karena merupakan orkestra yang hanya terdapat di Sumbar. Kita sudah sangat familiar jika mendengar nama Erwin Gutawa Orchestra, Twi­light Orchestra, Magenta o­ches­tra, Jakarta Philharmonic O­rches­tra dan lain-lain. Or­kestra-orkestra tersebut sangat terkenal dengan pertunjukan musik klasiknya. Sama halnya dengan orkestra Simfoni ISI Padangpanjang, tetapi dari segi penilaian bagus dan benarnya permainan musik klasik, me­nurut penulis orkestra Simfoni ISI Padangpanjang masih ha­rus belajar dan apresisasi pada orkestra-orkestra klasik.

Sebuah kapal besar akan mampu mengarungi lautan atau samudra jika dipimpin nahkoda yang hebat, memiliki keteram­pilan dalam melaut dan me­mahami teori tentang ke­lautan. Begitu juga halnya de­ngan or­kestra, orkestra ha­rus memiliki pemimpin yang pa­ham ilmu musik, mem­pu­nyai kemampuan bermusik, me­miliki jiwa kepemimpinan, memiliki sifat simpatik dan kreatif. Orkestra Simfoni ISI Padangpanjang sangat dia­pre­siasi terutama pimpinan atau rektor ISI yang baru men­jabat beberapa bulan ini yaitu Prof Novesar Jamarun. Beliau sa­ngat mendukung sehingga ia me­ngundang komposer or­kestra musik tradisi ternama yang sekarang menetap di negeri tetangga, Malaysia. Komposer tersebut adalah Drs Yoesbar Djaelani. Yoesbar Djaelani sa­ngat terkenal de­ngan karya-karya tradisi mi­nang yang di compose ke da­lam bentuk or­kes­tra. Salah satu karya musik beliau yang po­puler berjudul Lang­kisau Si­marantang. Lang­kisau Sima­ran­tang merupakan karya mu­sik yang indah dengan instru­men musik orkestra yang dipa­dukan dengan instrumen tra­disi seperti talempong, ban­si dan saluang.

Pemain orkestra Simfoni ISI Padangpanjang terdiri dari mahasiswa musik, dan dosen-dosen musik pun terlibat di dalam orkestra. Sama halnya dengan pemimpin, pemain orkestra juga harus memiliki pengetahuan musik, kemam­puan baik dalam memainkan instrumen, disiplin dan bisa membaurkan bunyi instrumen dengan instrumen lain dan membaurkan diri dengan pe­main lain. Pemain harus me­miliki feel atau rasa bermain musik bersama, bukan me­nonjolkan kepandaian skill individu saja. Ada saatnya penonjolan masing-masing instrumen dilakukan sesuai dengan bentuk orkestrasi.

Sebuah kelompok akan ber­hasil jika kelompok ter­sebut diikat dengan aturan yang dibuat bersama dan dilak­­sanakan. Ke­sa­daran akan hal itu dapat men­ciptakan che­mistry pe­mim­pin dengan pe­main mau­­­pun antar pe­main. Or­kes­tra Simfoni ma­sih harus lebih bekerja lagi demi terwu­judnya cita-cita un­tuk menjadi or­kestra yang benar dan ter­kenal. Dimulai dari latihan yang di­dukung dengan sarana yang lengkap dan du­kungan sikap dari lem­baga ISI Pa­dang­pan­jang. Pada kegiatan laun­ching atau pe­resmian Orkes­tra Sim­foni ini, sekitar seratus ma­ha­siswa musik dengan do­sen musik  ber­partisipasi dengan bermain musik or­kestra. Sung­­­­­guh se­buah pe­rtunjukan besar dan meriah yang dilak­sanakan di Gedung Per­tun­jukan Hoe­ridjah A­dam. Ge­dung tersebut dapat me­nam­pung sekitar tuj­uh ratus pe­nonton dan pada acara pe­resmian orkestra Sim­­foni tersebut, gedung per­tun-jukan dipenuhi penonton. Penuhnya kursi penonton me­nan­dakan masyarakat ha­us un­tuk apre­siasi musik orkestra. (*)

 

HAFIZ TISYAN

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]