Meraut Lembut, Melelakikan Kefeminiman


Senin, 19 Januari 2015 - 19:49:50 WIB
Meraut Lembut, Melelakikan Kefeminiman

Perempuan dan perhiasan, ibarat dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Karena hampir sebagian besar kaum perempuan, memang sangat identik dengan perhiasan. Baik itu berupa kalung, cincin, anting, gelang, bros, gasper dan sebagainya. Semua, rata-rata berhiaskan batu, dan sporadis kita temui perhiasan wanita yang dalam keadaan polos. Salah satu contoh kecilnya, adalah cincin pernikahan.

Baca Juga : Blunder Jokowi Berulang

Bagi kaum wanita, khu­susnya bagi mereka yang ber­asal dari kalangan berduit, nilai sebuah batu bahkan dapat dijadikan sebagai indikator yang menunjukkan status so­sial dan taraf kemapanan eko­nomi mereka. Semakin mahal dan berkelas batu cincinnya, semakin bergengsi pula diri­nya. Semakin besar bentuk batu, akan semakin glamour­lah terlihatnya. Semakin indah dan seksi bentuknya, maka akan terlihat anggun dan sema­kin seksi pulalah pemakainya.

Susi Mayangsari, salah seorang ibu rumahtangga yang mengaku telah menggemari perhiasaan ber­tah­takan batu sejak 1998 lalu kepada Haluan mengatakan, hobi dan ke­sukaannya itu bermula dari kete­r­pesonannya begitu melihat kein­dahan pancaran batu yang ter­pa­jang di salah satu gerai toko emas.

Baca Juga : Investasi Tumbuh, Indonesia Maju

“Ya, saya masih ingat betul kejadian di toko emas tahun 1998 itu. Awalnya berniat beli cincin biasa, namun begitu melihat batu safir yang diikat emas, hati saya langsung kepincut,” kisah Susi memulai perbincangan.

Susi yang turut didampingi re­kan­nya Novita Weka Puri dan Roza Nanda, memang terlihat menawan dengan dua cincin berbatu yang melingkar di kedua jari manisnya. Selain batu permata jenis safir berikat emas yang sudah sejak 17 tahun lalu menjadi penghuni jari tangan sebelah kiri, sebuah cincin emas bertahtakan batu giok hijau pudar berukuran sedang, juga tam­pak melingkar di jari manis tangan sebelah kanannya. Pemandangan itu, tampak semakin sempurna dengan seuntai kalung emas, yang juga berhiaskan safir berkelas mengikat lehernya.

“Ini juga ada anting berbatu giok dan batu delima untuk cincin. Tapi belum diikat,” ujar Susi sembari memperlihatkan bungkusan plastik kecil berisikan beberapa buah batu dan anting-anting.

Diakui Susi, selain pilihan akan material pembuatan perhiasan, seperti tembaga, perak, emas ku­ning, atau emas putih, persoalan batu yang akan diikatkan, oleh sebagian besar wanita juga menjadi hal pri­mer, terutama saat akan memilih dan membeli perhiasan. Khusus perhiasan berbentuk cincin sebut­nya, perpaduan atau pengawinan antara cincin dengan jenis atau warna batu yang akan diikat, diakui sangat menentukan terhadap keindahan dan keserasian antara perhiasan dengan pemakai.

“Meski senang juga melihat-lihat batu akik yang banyak beredar sekarang, namun saya sendiri me­mang lebih naksir pada batu dengan jenis dan warna seperti ini (safir dan giok). Kalau soal ukuran, saya suka yang sedang dan tidak terlalu besar. Setidaknya masih bisa terlihat jelas, menonjol dan berharap bisa dilirik-lirik jadi pusat perhatian. Hehe..,” ujar Susi.

Meski kebanyakan dari kaum perempuan memang lebih terpikat dengan kemilau berbagai jenis batu permata dan batu-batu mulia lain­nya, namun Novita Weka Puri justru memiliki ketertarikan dan pan­dangan tersendiri soal fenomena batu akik yang kini tengah menjadi perhatian dunia. Di mata Novi, demikian wanita berparas cantik ini dipanggil, batu akik, baik yang termasuk kategori batu mulia atau biasa, merupakan simbol dari keka­yaan alam nan memancarkan berjuta pesona keindahan.

“Bagi laki-laki, batu akik itu ibarat simbol kejantanan. Laki-laki akan terlihat gagah dan berwibawa jika memakainya. Sedangkan bagi perempuan, menggunakan batu akik itu ibarat meraut kesan lembut dan feminimisme. Itu menurut saya lho,” kata Novi yang juga mengoleksi beberapa buah batu akik jenis lu­muik suliki dan lavender itu.

Salah seorang pecinta batu akik yang sudah lama malang melintang di dunia perbatuan Sumbar, Yudi Edmund mengatakan, batu-batuan yang digunakan kaum perempuan untuk mainan perhiasan, terutama cincin, ada baiknya disesuaikan antara jenis batu dan kepriadian si pemakai. Jika si perempuan adalah orang-orang ekstrovert dan berse­mangat, maka pilihan lebih diarah­kan pada batu berwarna berani, seperti merah. Karena batu akik merah seperti halnya ruby imbuh Yudi, sering diidentikkan sebagai simbol energi dan kegairahan.

“Batu-batu seperti blue topaz, blue safir, giok hijau, merah mawar, merah siam dan merah delima, juga bisa menjadi pilihan alternatif bagi para perempuan. Warna-warna lem­but seperti ini cocok untuk perem­puan yang menjadi simbol feminitas dan kelembutan,” terang Yudi.

Meski tidak mengherankan so­sok perempuan dengan aneka pili­han jenis dan warna batu akik, namun jika menggunakan batu permata yang agak besar dan me­nonjol, Yudi menyarankan untuk mencari pengikat atau cincin yang tidak terlalu banyak detil dan varia­sinya. Ini akan memberikan efek langsing pada perhiasan yang dipa­kai. Sedangkan untuk memak­simal­kan kesan mewah pada batu cincin, bisa mengikatkan dengan logam dari emas atau perak.

“Batu akik memang bisa dipakai oleh semua kalangan. Khusus bagi kaum perempuan, selain akan sedi­kit menghilangkan atau meraut kesan lembut, batu akik juga akan terlihat menjadi lebih menawan ketika melingkar di jari wanita. Setidaknya, akan sedikit mele­lakikan kefeminiman sosok hawa itu. Tapi ya itu tadi, semua tergan­tung pilihan jenis batu, ikat dan warnanya,” tandas Yudi. (*)

 

Laporan: RYAN SYAIR

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]