Batu Akik, Tak Lagi Sekedar Soal Keindahan


Selasa, 20 Januari 2015 - 19:42:24 WIB
Batu Akik, Tak Lagi Sekedar Soal Keindahan

“Dalam aktifitas ekonomi di balik batu akik, setidaknya terdapat beberapa profesi krusial agar ak­tifitas ekonomi itu terus ber­jalan. Profesi penting itu antara lain penambang, pe­ngumpul, pengrajin dan ten­tunya penjual. Di lapangan, kerap kali ditemukan pengu­saha batu akik yang merangkap beberapa profesi. Contoh, selain pengrajin, ia juga langsung menjual. Bahkan ada penambang yang lang­sung menjadi pengrajin dan menjual langsung hasil kerajinan tersebut,” ucap Rudi.

Baca Juga : Etika Politik Koalisi PKS dan PAN dalam Menentukan Wakil Walikota Padang

Dalam menjalankan bisnis batu akik, berbeda profesi tentu berbeda pula penghasilan yang didapatkan. Rudi menjelaskan, sejauh ini belum pernah terjadi pertentangan berarti antar profesi yang berbeda, seperti antara penambang dengan pe­ngum­pul.

Namun, ia me­nilai alang­kah baiknya ji­ka ada regulasi (aturan) tertentu yang dibuat oleh peme­rintah agar semua orang yang terlibat dalam bisnis ini, sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

Baca Juga : Politik dan Etika Berkelindan dalam Pengisian Jabatan Wawako Padang

“Penambang, biasanya masuk ke lokasi tambang untuk beberapa hari. Ke luar dari tambang biasanya sudah ada pengumpul yang menunggu. Namun tak semua penambang yang mau menjual bahan batu hasil tam­bangnya pada pengumpul, sebagian penambang memilih langsung ke Padang atau ke kota lain untuk menjual langsung pada pengrajin. Tentu dengan harapan agar men­dapatkan harga yang lebih bagus,” terang Rudi.

Bicara harga, penambang dan pengumpul tidak mempunyai pato­kan tertentu. Harga baru bisa diten­tukan setelah diketahui kualitas bahan yang akan ditransaksikan, ukurannya, dan yang paling penting adalah ketertarikan si pembeli pada bahan yang ditawarkan.

Baca Juga : Jangan Terlalu Bersedih Jika Kamu Dihinakan

“Bicara pendapatan, tentu kita tidak bisa memastikan rataannya. Karena setiap penambang dan pe­ngum­pul berbeda relasi dan nasib. Tapi sejauh pengamatan dan per­gaulan saya dengan para pelakon tersebut, jelas sekali batu akik sebagai anugerah alam dari Tuhan yang terbukti ampuh memperbaiki ekonomi mereka,” lanjutnya.

Sedangkan untuk profesi peng­rajin dan penjual batu akik, Nanang, pengrajin sekaligus pemilik galeri batu akik Nangna Gems yang belo­kasi di dekat Jembatan Siti Nurbaya mengaku mengalami peru­bahan drastis dalam hidupnya sejak mene­kuni bisnis batu akik.

Baca Juga : Mengapa Isu Presiden 3 Periode Kembali Berhembus?

“Dulu saya kerja di bengkel. Setelah demam batu akik datang, saya banting stir berbisnis batu akik. Dimulai dengan mempelajari cara mengasah dari teman, lalu saya beranikan membeli bahan batu untuk diasah sendiri dan dipasarkan sendiri lewat online. Setelah setahun berlalu, saya membuka galeri ini,” ucapnya penuh kenangan.

Nanang melanjutkan, biasanya seorang pengrajin juga berprofesi sebagai penjual. Jarang sekali ada yang berprofesi sebagai pengrajin saja, kecuali orang itu bekerja de­ngan orang lain di satu galeri. Meskipun demikian, Nanang me­nye­butkan, jadi pengrajin saja di saat kondisi tubuh sedang fit bisa me­nyelesaikan asahan bahan batu 20 hingga 30 butir dalam sehari.

“Untuk satu kali mengasah ba­han, upah dipatok berdasarkan jenis batu yang diasah serta bentuk apa yang diinginkan oleh pelanggan. Biasanya upah di kisaran 30 ribu per batu. Jika seorang pengrajin bisa menyelesaikan 30 batu, berarti jasanya sudah dihargai Rp900 ribu dalam sehari. Memang tidak setiap hari, tapi kalau sedang ramai-ra­mainya memang sebanyak itu,” terang Nanang.

Sedangkan untuk penjual atau pemilik galeri seperti dirinya, pe­netapan harga batu akik yang dijual tidak ubahnya seperti penetapan bahan batu yang belum jadi. Be­danya, selain kualitas, ukuran dan ketertarikan. Ring (cincin) tempat batu akik tertancap juga menjadi dasar patokan harga. Biasanya para pemilik memadukan semua keten­tuan di atas untuk menetapkan harga dengan harapan mendapatkan keun­tungan yang diharapkan.

“Kualitas batu dilihat dari air dan seberapa kristal batu tersebut. Uku­ran juga menjadi patokan. Begi­tu juga dengan ring, apakah ring perak asli, perak chrome, titanium, besi putih atau perak bali. Kalau yang saya jual di galeri, lebih fokus pada Bacan dan Lumuik Sungai Darek dengan ber­bagai ring. Karena me­mang dua jenis batu itu sedang ‘panas’ di pasaran. Harganya bera­gam, dari yang ratusan ribu, sampai puluhan juta. Selain itu saya juga menjual bahan yang belum jadi, seperti bahan bacan ini yang akan saya lepas di atas Rp100 juta,” lanjut Nanang seraya me­nunjukkan tiga bongkah bahan batu jenis Bacan Palamea.

Aktifitas Minim Aturan

Rudi Rasyid selaku Wakil Ketua Komunitas Batu Akik Mulia Suma­tera Barat sangat mengharapkan adanya aturan tertentu untuk kegia­tan bisnis batu akik. Mulai dari aturan penambangan, hingga aturan dalam penjualan. Karena jika tidak, dita­kutkan akan ada pihak yang merasa dirugikan oleh pihak lainnya.

“Untuk mengatur regulasi, tentu kita berharap ada campur tangan pemerintah dalam aktifitas bisnis yang menjanjikan ini. Karena jika tidak, kita resah akan terjadi perpe­cahan dan persaingan tidak sehat antar sesama pengusaha. Tentu sebaiknya kemungkinan tersebut dihalangi sedini mungkin dengan aturan,” ucap Rudi.

Rudi mencontohkan pada tinda­kan yang dilakukan oleh Peme­rintah Provinsi Aceh dan Kabupaten Garut dalam merumuskan aturan terkait bisnis batu akik. Dampak yang sangat terasa adalah kekompakan antar sesama pengusaha batu akik yang lahir dari keberadaan aturan tersebut. Karena tidak ada celah untuk ber­main curang seperti mem­ban­­ting harga asalkan batu laku terjual.

Sementara itu, pengamat ling­kungan yang juga Direktur Pusat Studi Lingkungan Hidup Univer­sitas Andalas (PSLH Unand), Busta­nul Arifin, mengingatkan agar ja­ngan sampai penambangan terha­dap batu akik malah merusak alam, untuk itu prakteknya harus terus dikawal.

“Bicara pencarian batu akik, tentu kita bicara bagaimana cara mengeksploitasi alam. Jika dila­kukan dengan skala besar seperti yang kerap terjadi di Pulau Jawa, tentu akan sangat merugikan dan merusak. Contohnya, mencari batu akik dengan melakukan pengerukan dengan alat berat, jika tanpa perhi­tungan tentu dapat merusak alam,” tutur Bustanul.

Ia melanjutkan, lakukanlah pe­nam­bangan namun dengan skala dan ketetapan tertentu yang tidak me­rusak alam. Karena tidak mung­kin hanya karena mencari batu akik, malah merusak sumber daya lain yang ada di sekitarnya. “Jika ada yang melakukan pengerukan dengan skala besar, harus ada aturannya dan dilengkapi berbagai dokumen seper­ti Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) yang harus dipenuhi,” tutup Bustanul.*(/habis)

 

Oleh :
JULI ISHAQ PUTRA

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]