Menekan Kasus Cerai di Padang


Kamis, 22 Januari 2015 - 19:41:39 WIB
Menekan Kasus Cerai di Padang

Akad nikah adalah sebuah perjanjian sakral yang ikatannya amat kokoh dan kuat. Akad nikah telah mengikatkan suami dan istri dalam sebuah perjanjian syar’i, dimana perjanjian itu wajib dipenuhi hak-haknya. Perjanjian agung menyebabkan halalnya kehormatan diri untuk dinikmati pihak lainnya. Perjanjian kokoh yang tidak boleh dicederai dengan ucapan dan perbuatan yang menyimpang dari hakikat perjanjian itu sendiri.

Baca Juga : Antisipasi Arus Balik Lebaran, Polda Metro Siapkan 12 Titik Pos Pemeriksaan

Namun sayang, banyak ikatan perkawinan berantakan di tengah jalan. Kedua pasangan dengan berbagai alasan tak mampu lagi mempertahankan bahtera rumah tangga mereka sehingga berakhir dengan kata cerai. Kondisi inilah yang banyak terjadi di Kota Padang.

Menurut data di Pengadilan Agama Kota Padang, hingga tiga pekan Januari 2015 ini saja sudah 110 kasus gugat cerai. Mereka yang sudah resmi bercerai 97 kasus,dan pemohon sebanyak 11 kasus.

Baca Juga : Satu Korban Luka Kebakaran Pertamina Balongan Meninggal, Total Jadi Empat Orang

Artinya, dalam satu hari  terjadi 5-6 pasangan yang sudah dan ingin mengakhiri kelangsungan rumah tangga mereka. Sementara tahun 2014 lalu, perkara cerai yang masuk ke Pengadilan Agama Padang mencapai 1.450 perkara.

Menurut Ketua Panitera Muda Hukum PA Padang, Yelti Mulfi, faktor yang paling dominan penyebab perceraian yakni ketidakharmonisan dalam keluarga. Kasus tersebut didominasi oleh pekerja atau buruh. Penyebab perceraian juga hal yang sepele  seperti cemburu, ekonomi, tidak ada tanggung jawab, gangguan pihak ketiga. Dari kasus tersebut paling banyak istri yang menggugat cerai suami. Sedangkan  untuk kasus perceraian kategori cerai talak, yakni suami yang menceraikan istri tidak terlalu banyak dan rata-rata alasannya pihak istri berselingkuh dengan laki-laki lain.

Data tahun 2014, penyebab perceraian  paling tinggi adalah tidak harmonis sebanyak 548, tidak ada tanggungjawab 342, krisis akhlak 18 perkara, cemburu 18 kasus, ekonomi 39 kasus, dan tidak ada tanggungjawab sebanyak 169 kasus. Sedangkan dari jenis pekerjaan menurut Yelti didominasi oleh buruh atau swasta sebanyak 635 kasus, PNS/ Polri/ TNI / Pensiun sebanyak 131 dan tidak ada pekerjaan sebanyak 355 kasus. Usia paling dominan bercerai dari tahun ke tahun umur 21-40 tahun.

Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Padang  Duski Samad  menyayangkan tingginya angka perceraian ini. Ia berharap kepada orang tua sebelum menikahkan putra putri mereka harus bertanya dulu, apakah sudah serius membina rumah tangga.

Perceraian memang tidak dilarang, namun sebaiknya perceraian adalah langkah terakhir penyelesaian kusut rumah tangga. Soalnya,  perceraian adalah satu perkara yang rnmemiliki konsekwensi jauh ke depan. Tidak hanya bagi suami istri itu sendiri, akan tetapi juga menyangkut hak anak dan keluarga kedua belah pihak. Oleh karena itu, selayaknyalah bagi suami istri untuk bersikap hati-hati dan bijaksana ketika menghadapi prahara besar yang mengancam kelanggengan dan keutuhan rumah tangga. Terdapat dalam sebuah hadits,  ‘’Perkara halal yang sangat dibenci Allah adalah perceraian’’ (HR Abu Dawud, HR Ibnu Majah, namun didhaifkan Syaikh Al-Utsaimin)

Karena itu, harus ada upaya bersama untuk menekan jumlah perceraian ini. Para dai dalam dakwahnya di masjid-masjid perlu kiranya menyampaikan betapa pentingnya membina keharmonisan dalam rumah tangga.

Selain itu, peran Pelayanan Badan Penasehat Pembinaan Pelestarian Perkawinan (BP4) perlu dioptimalkan untuk menciptakan keluaga sakinah, sekaligus menekan tingginya kasus perceraian. Mudah-mudahan ke depannya angka perceraian ini bisa kita tekan jumlahnya.***


Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]