Seribu Harapan Yang Tercecer


Kamis, 22 Januari 2015 - 19:48:42 WIB
Seribu Harapan Yang Tercecer

Kepada Haluan suami Yu­lia Marlina (36) itu mengung­kapkan, air matanya berlinang menyaksikan ratusan ma­syarakat yang dianggap ber­penghasilan rendah itu, ber­bonding-bondong me­ngambil dana segar dari pemerintah pusat ter­sebut.

Baca Juga : Iedul Fithri: Geliat Ekonomi, Momentum Keluar Resesi

“Saya bukan me­na­ngis, saya hanya terharu melihat kebahagiaan war­ga yang diklaim miskin saat menerima bantuan Program Simpanan Ke­luar­ga Sejah­tera (PSKS) lalu itu. Padahal, saya yang juga tidak mampu ini tidak dapat apa-apa,” sebut pria paruh baya itu.

Sawali yang menetap di Padangsarai itu, berprofesi sebagai tukang ojek. Peng­hasilan yang didapat dari hasil me­ngojek, hanya berkisar Rp500 ribu per bulan. Di sisi lain, istrinya Yulia Marlina hanya sebagai ibu rumah tangga.

Baca Juga : Pembangunan dan Keadilan bagi Padagang Kaki Lima

“Saya di kampung saya memang diakui juga sebagai warga miskin, Pak. Itu pula alasannya saya diberi bantuan beras miskin (raskin), tetapi saya tidak dapat kartu per­lindungan sosial untuk me­ngambil bantuan kenaikan minyak, Pak,” curhat Sawali, ayah dua anak itu.

Sawali memiliki tanggungan keluarga satu istri dengan dua orang anaknya yang masih bersekolah dasar. Tentu saja penghasilan Rp500 ribu per bulan tidak mencukupi asupan gizi untuk keluarganya.

Harapan suami Yulia Marlina ini, pemerintah memperhatikan kondisi keluarganya dengan mem­berikan peluang sebagai penerima bantuan-bantuan dari pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

“Saya tidak punya petak-petak sawah yang bisa ditanami padi, hidup hanya membeli beras sepanjang tahun. Melihat para tetangga men­dapatkan bantuan dari pemerintah, memang membuat hati saya bersedih sedangkan saya pun orang miskin,” gumamnya dengan mata memerah karena linangan air mata yang tak bisa dibendungnya.

Potret kemiskinan juga diung­kapkan Siti Aisyah (32) warga Mapun Kecamatan Panti. Ibu dua anak ini mengaku sulit kehidupan rumah tangganya. Dia hanya IRT sedangkan suami buruh kebun.

Lain halnya dengan Melini (29), dia rela menggendong anaknya dan antri berjam-jam saat memasukan proposal bantuan hibah untuk ke­luarga miskin. Ibu tiga anak itu berharap namanya tercantum seba­gai penerima bantuan hibah, guna membantu biaya sekolah anak sulungnya yang baru kelas 2 SD.

Syafri warga Lubukhijau Keca­matan Rao Utara pun sangat sum­ringah bahagia ketika mendapatkan bantuan bedah rumah dari Pe­me­rintah daerah. Rumah lama yang dihuninya hanya berukuran 3x4 rumah kayu berjenjang itu, kini sudah direnovasi menjadi rumah semi permanen.

“Kami tinggal di gubuk kecil itu istri dan anak-anak 7 orang. Anak kami yang paling tua sudah pandai mencari penghidupan sendiri di rantau orang. Sedangkan saya di rumah, banting tulang hidup sebagai tukang kebun,” ujar ayah tujuh anak itu.

Di balik cerita keluarga miskin ini, masih banyak tersimpan kisah sedih dan haru dari keluarga ber­penghasilan rendah lainnya. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pasaman, angka ke­miskinan mencapai 12,47 persen. Kondisi ini selalu menurun sejak kepemimpinan Benny Utama- Da­niel. Pada 2010, angka kemiskinan turun ke angka 10,97 persen. Atau turun sekitar 1,50 persen. Pada 2011, kembali turun angka kemiskinan sebesar 0,55 persen (10,42 persen), dan terakhir pada 2012, angka kemiskinan kembali turun ke 9,31 persen. ***

 

Laporan:
ICOL DIANTO

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]