Gaji Rp500 Ribu untuk Biaya 5 Anggota Keluarga


Ahad, 25 Januari 2015 - 19:12:30 WIB
Gaji Rp500 Ribu untuk Biaya 5 Anggota Keluarga

“Penghasilan saya sebagai petugas kebersihan di kampus sekitar Rp500 ribu dalam sebulan. Pekerjaan ini patut saya syukuri, masih banyak warga setempat lain yang ingin juga bekerja sebagai petugas kebersihan,” ucap Ita yang dikunjungi Haluan di lokasi kampus tempat ia bekerja.

Baca Juga : Politik dan Etika Berkelindan dalam Pengisian Jabatan Wawako Padang

Sebagai petugas kebersihan dengan gaji Rp500 ribu sebu­lan, tentu akal sehat kita tidak akan menerima bahwa ia mam­­pu menghidupi keluar­ganya yang terdiri dari dirinya dan suami yang sedang me­nganggur dan belum kun­jung mendapatkan pe­ker­jaan baru, serta membesarkan ti­ga orang anaknya yang masih sekolah di tingkatan berbeda.

“CV berjanji akan menaikkan gaji menjadi Rp700 ribu, semoga saja benar-benar menjadi kenyataan. Uda (suami) saya dulunya bekerja, tapi sekarang sedang menganggur. Se­men­tara ini ia hanya di rumah sambil menjaga salah satu kos-kosan dengan bayaran jasa yang dicukup-cukupkan untuk makan dan jajan anak,” sambung Ita.

Baca Juga : Jangan Terlalu Bersedih Jika Kamu Dihinakan

Ita melanjutkan, selain gaji seba­gai petugas kebersihan dan penjaga kos-kosan, ia juga sering diberi uang tip dari dosen-dosen. Meskipun jumlahnya tidak besar, tapi Ita berusaha hidup hemat demi ketiga anaknya yang sedang haus-hausnya menuntut ilmu pendidikan.

“Ketiga anak saya masih sekolah. Anak yang paling besar di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Anak kedua di Sekolah Menengah Per­tama (SMP) dan si bungsu di Sekolah Dasar (SD). Ketiganya butuh biaya transportasi ke sekolah setiap hari. Kalau saya keluar dari pekerjaan ini tanpa ada pekerjaan baru, dengan apa anak-anak saya pergi ke sekolah. Bagi saya sekolah mereka itu nomor satu,” tegas Ita.

Baca Juga : Mengapa Isu Presiden 3 Periode Kembali Berhembus?

Sebelumnya Ita merasa ada harapan baru setelah menjabatnya presiden baru, Ita juga mengakui presiden sekarang adalah yang ia pilih dengan mengikuti kata hatinya. Namun, sampai saat ini Ita belum merasakan adanya perubahan me­nuju perbaikan ekonomi bagi orang kecil seperti dirinya.

“Saya hanya bisa menunggu pak presiden benar-benar memikirkan nasib orang-orang kecil dan susah seperti kami. Sejauh ini belum ada perubahan yang saya rasakan. Mala­han banyak harga kebutuhan pokok yang melonjak. Bagaimanapun juga saya harus akali kenaikan harga. Jika sedang kosong benar terpaksa pin­jam kiri kanan, selain itu saya juga kredit beberapa barang kebutuhan rumah tangga. Meskipun bunganya cukup besar, tapi kalau tidak dikre­dit entah kapan saya bisa membeli beberapa barang pokok rumah tang­ga,” jelas Ita.

Baca Juga : Perang Inovasi dalam Era Disrupsi

Ita juga mengakui, kecintaannya pada kampus tempat ia bekerja adalah alasan lain ia tetap bertahan pada profesinya saat ini. Seringkali ia mengutarakan keinginan hati untuk keluar dari pekerjaannya kepada mahasiswa. Namun, setiap kali keinginan itu disampaikan, setiap itu pula mahasiswa me­nahannya untuk tidak ditinggalkan.

“Mahasiswa banyak yang dekat dengan saya, banyak yang baik-baik. Mahasiswa sudah saya anggap se­perti adik sendiri, mereka malah tidak mau saya berhenti kerja di sini. Karena selain membersihkan area kampus, saya juga sering membantu mereka menyiapkan bahan-bahan ujian\, memberitahu jadwal kuliah yang ditunda dosen, membantu proses administrasi mereka seperti fotokopi dan lain sebagainya,” ucapnya dengan raut wajah bangga.

Saat ini ita tinggal di rumah sangat sederhana,  pemiliknya juga pemiliki kos-kosan yang ia jaga. Positifnya Ita hanya perlu menge­luarkan biaya listrik setiap bulannya. “Nantilah memikirkan rumah pri­ba­di, bisa tinggal di rumah yang seka­rang saja sudah Alhamdulillah. Yang paling penting sekarang adalah pendidikan anak-anak,” ucap Ita tegas.

Ke depan, Ita hanya berharap pemerintah lebih mempertegas keberpihakan pada orang-orang kecil, terlebih kepada golongan buruh seperti dirinya dengan gaji bulanan yang masih jauh di bawah standar upah minimum tingkat manapun juga. Ita juga berharap pihak-pihak terkait lainnya lebih memperhatikan nasib orang susah, seperti para petugas kebersihan kampus yang datang ke kampus paling awal dan pulang dari kampus paling akhir.

“Untuk pekerjaan dengan gaji Rp500 ribu ini saja banyak warga setempat yang mau. Menurut saya itu sudah cukup membuktikan pahitnya hidup di masa sekarang. Sebenarnya saya juga takut keluar dari pekerjaan ini, karena belum tentu saya akan mendapatkan pekerjaan baru nanti­nya. Saya sangat takut nasib anak-anak saya jadi terlantar karena saya berhenti bekerja, terlebih suami juga belum kunjung mendapatkan peker­jaan,” tutup Ita. ***

 

Oleh :
JULI ISHAQ PUTRA

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]