Apel AS Tercemar, Jangan Dikonsumsi


Selasa, 27 Januari 2015 - 19:23:40 WIB
Apel AS Tercemar, Jangan Dikonsumsi

“Kalau ada importir buah di Sumbar tentu masuknya buah apel ini akan bisa terdeteksi,” paparnya.

Ditambahkannya, beredarnya buah impor di Sumbar berasal dari perda­gangan antarprovinsi. “Ma­suknya buah impor dari provinsi tetangga, tidak ada yang langsung ke Sumbar karena kita tidak termasuk salah satu pintu impor nasional,” tegasnya.

Baca Juga : Hadiri Wisuda TK dan SMP Adz-Zikra, Wako Padang Hendri Septa Beri 'Reward'

Namun demikian, ditegaskan Rahmat Syahni, kepada warga Sum­bar yang agar tidak mengonsumsi apel AS jenis Granny Smith dan Gala. “Menteri Perdagangan pun telah mengimbau kepada importir buah untuk menarik kembali apel jenis ini,” ujar Rahmat Syahni.

Buah Impor Diawasi

Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumbar yang menangani bidang pereko­nomian meminta  Dinas Perin­dustrian dan Perdagangan (Dis­perindag) Sumbar meningkat­kan pengawasan atas masuknya buah impor yang dikirim ke daerah ini.

Hal itu disampaikan pihak DPRD Sumbar seiring adanya peri­nga­tan United States Department of Agri­culture (USDA) kepada peme­rintah Indonesia, untuk menarik produk apel Granny Smith dan Gala yang diduga mengandung bakteri berbahaya.

“Jika Badan Karantina Kemen­terian Pertanian (Kementan) saja sudah menetapkan siaga satu untuk masalah ini, Sumbar memang harus waspada,” ujar Ketua Komisi II DPRD Sumbar, Sabar AS saat dihubungi Haluan Selasa (27/2).

Dikatakan Sabar, Dinas Perin­dustrian dan Perdagangan diminta untuk meningkatkan pengawasan atau memonitoring kedatangan buah impor. Tak hanya terhadap apel  Granny Smith dan Gala yang diduga berbahaya, namun untuk mencegah beredarnya buah impor lain yang tidak memenuhi standar kesehatan, Komisi II juga meminta agar penga­wasan terhadap buah impor lainnya terus ditingkatkan.

Buah Lokal Berkualitas

Produk buah-buahan asal Sum­bar mutunya tak kalah dengan pro­duk impor sejenis. Hanya saja pen­dapat keliru yang berkembang di tengah masyarakat yang menyebut kualitas buah lokal tidak bagus, menyebabkan masyarakat lebih suka membeli produk impor.

Sementara di luar Sumbar, justru buah lokal asal daerah ini mem­banjiri pasar, seperti Pekanbaru (Riau) dan Batam (Kepulauan Riau) yang dikonsumsi masyarakat menengah ke atas. Untuk menaik­kan posisi tawar buah lokal ini, Dinas Pertanian Tanaman Pangan Sumbar dengan gencar terus menso­sialisasikan proses budidaya dan penanganan pasca panennya, dianta­ranya dengan menerapkan teknologi budidaya yang baik atau Good Agriculturer Practise (GAP) dan benar-benar sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) spesi­fik komoditi dan spesifik lokasi.

“Produk buah asal Sumbar ada juga yang diberi label khusus dan kemudian dikemas (packaging) layaknya produk impor, seperti jeruk. Namun produk ini tidak dipasarkan di Sumbar melainkan dikirim ke propinsi tetangga seperti Pekanbaru dan Batam,” terang Djoni, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Sumbar.

Sedangkan soal keuntungan petani, menurutnya memang tergan­tung pada kualitas buah. Hasilnya lumayan besar asalkan petani buah mau bersusah payah dan berusaha lebih keras lagi. Misalnya saja buah yang dijual petani ketika masih di batang tentu harganya murah. Paling tinggi keuntungan diperoleh sekitar 20 persen saja. Begitu pula ketika buah dijual dengan tidak disortir, bercampur saja yang besar dengan kecil dan yang bagus dan rusak maka petani hanya mendapatkan keun­tungan paling tinggi 30 persen.

Tetapi bagi petani yang mau melakukan sortasi atau grading buah-buahan tersebut, memisahkan yang besar dan kecil, yang kualitas bagus dan yang kurang kemudian memberinya label, maka keuntungan yang diperoleh sekitar 60 persennya. Apalagi jika dikemas (packaging) maka keuntungannya makin besar lagi, mencapai 80 persen.

Dinas Perta­nian Tanaman Pangan Sumbar terus men­dorong dan memfasilitasi peta­ni untuk melakukan sortir, grading, pemberian label serta proses packaging.

Kembangkan GAP dan SOP

Dikatakan Djoni, produk buah unggulan Sumbar selain jeruk, terdapat jenis lain yaitu manggis, markisah, pisang, durian dan salak. Pola pengembangannya dengan menerapkan teknologi budidaya yang baik atau Good Agriculturer Practise (GAP) dan benar-benar sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) spesifik komoditi dan spesifik lokasi.

Sekitar 1.000 kebun milik petani di Sumbar sudah menerapkannya. Sebagai tandanya lahan pertanian akan diregistrasi, lengkap dengan alamat kebun, nama petani, nama kelompok taninya, komoditi yang ditanam dan luas arealnya. Pihaknya akan terus memantau aktifitas peta­ninya. Sistem GAP ini telah dite­rapkan sejak 2010 lalu.

Untuk jeruk, daerah penghasil adalah Gunung Omeh (Kabupaten Limapuluh Kota), Palupuh (Agam) dan Pekonina (Solok Selatan). Se­dangkan manggis difokuskan di Bukit Barisan (Kabupaten Lima­puluh Kota), Kamang (Agam), Parit Malintang (Padang Pariaman), Tanjung Ameh (Tanah Datar), Ku­pitan (Sijunjung), Sangir (Solok Selatan), Pauh (Padang) serta Pesi­sir Selatan. Markisah identik terda­pat di Solok. (h/mg-isr/mg-len/vie)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]