Bahasa Melayu Riau Satukan Ribuan Pulau


Rabu, 28 Januari 2015 - 19:13:23 WIB
Bahasa Melayu Riau Satukan Ribuan Pulau

Meski Indonesia terdiri atas banyak suku, namun de­mikian masing-masing suku tersebut dapat dengan mudah dikenali dari bahasa dan c­a­ranya bertutur kata.

Baca Juga : Soal Vaksin Nusantara, Tenaga Ahli Menkes Andani Eka Putra Bocorkan 'Rahasia' Terawan

Misal, ketika orang Batak mengharapkan sesuatu, me­reka akan tanpa segan me­ngung­kapkannya. Berbeda de­ngan orang Minang yang lebih senang berbasa-basi.

Ketika merasa sangat lapar setelah bepergian jauh, maka orang Batak yang sedang berta­mu misalnya tanpa segan dan tedeng aling-aling, akan lang­sung mengatakan apa yang dirasakannya.

Baca Juga : Soal Vaksin Nusantara, DPR Tuding BPOM Bohongi Peneliti dan Masyarakat

Sebaliknya orang Minang akan lebih memilih kata sin­diran kepada tuan rumah de­ngan mengatakan bahwa per­jalanan begitu jauh, berharap pemilik rumah langsung pa­ham dan menyuguhkan hida­ngan.

Begitulah, melalui bahasa, seluruh aspek kehidupan ma­nusia baik secara personal maupun komunal dapat diba­ca. Di sinilah pepatah “Bahasa menunjukkan bangsa” itu me­nemukan relevansinya.

Baca Juga : Waspada! Siklon Surigae Meningkat 24 Jam ke Depan, 9 Provinsi Diminta Siap Siaga

Ibarat cermin, bahasa mam­­pu memperlihatkan se­gala sesuatu yang ada di de­pannya dengan sempurna. Dengan kata lain, bahasa meru­pakan potret diri penggunanya.

Betapa bahasa dapat men­cerminkan karakter dan iden­titas dari penggunanya. Sese­orang misalnya, bisa dinilai dari bagaimana ia bertutur kata.  Dalam masyarakat kita ada istilahnya bahasa orang terpelajar atau sebaliknya bahasa preman. Ketika ba­hasanya terstruktur dan san­tun, maka orang itu dikatakan terpelajar/berpendidikan.

Baca Juga : Kabar Gembira Bagi PNS, THR Dipercepat & Bisa Lebih Besar dari Gaji Pokok

Sebaliknya bila kata-kata­nya kasar, si yang empunya kata-kata bisa-bisa dicap tak berpendidikan, sebab yang keluar dari mulutnya tak lebih dari sumpah serapah yang biasanya hanya keluar dari mulut preman pasar.

Jelas lah bahwa bahasa tak hanya sekedar ‘bunyi yang memiliki sistem’ yang ke­mudian berkembang menjadi alat komunikasi seperti yang diungkapkan para ahli li­ngui­stik struktural,Sumarsono (2011). Namun lebih dari itu bahasa sebenarnya merupakan produk sosial-budaya sebuah bangsa tak terkecuali dalam Bahasa Indonesia dengan ma­teri dasarnya dari bahasa Me­layu tepatnya Melayu Riau (Sumatera).

Kenapa bahasa Melayu Riau terpilih sebagai materi dasar pem­ben­tukan ba­h­a­sa In­do­ne­sia karena be­berapa alasan uta­ma. Diantaranya adalah merupakan ba­hasa ke­budayaan.  Ba­hasa ini sudah menjadi lingua franca atau ba­hasa pe­ngantar di ber­­bagai wila­yah di In­do­nesia dan Asia Tenggara se­men­jak ribuan tahun lalu.

Bahasa ini telah me­m­­­punyai peranan yang sangat pe­n­ting di berbagai bidang atau ke­giatan di In­donesia pada masa la­lu. menjadi alat ko­mu­ni­kasi di­bi­dang e­ko­no­mi (perdagangan).

Bahasa ini juga ber­peran banyak di bidang ko­munikasi massa dan politik (perjanjian antar kerajaan). Surat-me­nyurat an­tar­pe­mim­pin kera­jaan pada abad ke-16 juga diketahui meng­gunakan ba­hasa Melayu.

Tapi menggunakan bahasa Melayu yang “dise­derha­na­kan” dan telah mengalami percampuran dengan bahasa setempat, yang lebih populer sebagai bahasa Melayu Pasar (Bazaar Malay)

Alasan lainnya kenapa bahasa ini yang jadi pilihan adalah karena lebih sederhana sehingga sangat komunikatif. Juga tidak mempunyai ting­katan-tingkatan bahasa seperti yang dimiliki oleh bahasa lain.

Bandingkan dengan Bahasa Jawa yang berjenjang. Mulai dari Jowo Ngoko (bahasa Jawa kebanyakan) sampai Kromo Inggil (bahasa Jawa sangat sopan untuk yang lebih tua atau lebih tinggi status so­sialnya).

Kalau ditimbang dari jum­lah pemakainya di Indonesia, sebenarnya bahasa Melayu bukan bahasa terbesar. Bahasa Jawalah yang merupakan ba­hasa terbesar dari segi pe­makainya pada saat itu.

Namun sekali lagi, bahasa Melayu dipilih sebagai bahasa Indonesia karena bahasa ini sudah menjadi lingua franca atau bahasa pengantar di wila­yah Indonesia dan Asia Teng­gara sejak ribuan tahun lalu.

Salah satu buktinya adalah catatan inskripsi di Sojomerto, Jawa Tengah yang menggu­nakan bahasa Melayu kuno. Inskripsi ini tidak bertahun, tetapi menurut estimasi ahli dibuat pada pertengahan abad ke-7.  Hal ini menunjukkan bah­wa bahasa Melayu pun sudah dikenal di Pulau Jawa sejak ribuan tahun lalu. Apa­lagi suku lainnya di tanah air juga  menerima bahasa Melayu sebagai bahasa nasional.

Ketika bangsa Eropa per­tama kali datang ke Indonesia, bahasa Melayu sudah mem­punyai kedudukan yang luar biasa di tengah-tengah bahasa daerah Indonesia yang banyak itu.  Pigafetta yang mengikuti Magelhaen mengelilingi dunia untuk pertama kali, ketika kapalnya berlabuh di Tidore tahun 1521, menuliskan daftar kata-kata melayu yang pe­r­tama.

Bahasa Melayu yang ber­asal dari bagian Indonesia sebelah barat, pada zaman itu telah tersebar sampai kepada bagian Indonesia yang sejauh-jauhnya di sebelah timur.

Sikap orang Belanda yang pada waktu itu tidak suka apabila orang pribumi meng­gunakan bahasa Belanda juga menyebabkan bahasa Melayu menjadi semakin populer.

Proses bahasa Melayu Riau jadi bahasa pemersatu di Indo­nesia akhirnya berujung de­ngan pengakuan atas bahasa tersebut sebagai Bahasa Indo­nesia pada 28 Oktober 1928 saat Sumpah Pemuda diikrarkan.

Namun ‘akte kelahiran’nya baru terbit pada 18 Agustus 1945 ketika UUD’45 disahkan sebagai landasan kons­titu­sional RI, tepatnya dalam Bab XV, Pasal 36; yang seleng­kapnya berbunyi, “Bahasa negara adalah bahasa In­donesia”.

Selanjutnya pemerintah pun berupaya mengem­ban­g­kannya sebagai bahasa pe­ngantar kegiatan belajar-me­ngajar di lembaga pendidikan mulai dari sekolah dasar sam­pai dengan perguruan tinggi.

Pemerintah pun secara simultan juga mela­kukan ber­bagai upaya seperti kebijakan pem­bakuan bahasa, pedo­man per­isti­la­han, pedoman penye­rapan, dan sebagainya.

Menurut ahli etnologi dan filologi, bahasa Melayu ter­masuk bahasa Aus­tro­nesia berasal dari Kepu­lauan Riau. Mula-mula bahasa ini hanya di­percakapkan ter­batas oleh penuturnya di Riau dan se­ki­tarnya.

Tetapi karena dae­rahnya stra­tegis di jalur per­dagangan yang ramai di Selat Malaka serta mu­­dah dipahami dan komunikatif, maka ba­hasa ini kemudian dengan mu­­dah berkembang dan me­nye­bar.(Vlekke, 2008: 11).

Alhasil bahasa ini juga akhirnya berkembang di selu­ruh Nusantara dan telah men­jadi bahasa dagang (lingua franca) di pelabuhan Asia, Asia Tenggara dan Asia ti­mur.­(Ricklefs, 1991: 77; Lins­choten, 1910: Bab IV)

Bahkan pada 2002, bahasa Melayu dianggap banyak pe­nuturnya di dunia. Di salah satu surat khabar di Malaysia pun ditulis posisi keempat bahasa utama dunia, setelah Bahasa Tionghoa, Inggris, dan Spanyol.

Meskipun kemudian di­bantah James T. Collins. Ia mengatakan bahwa jumlah penutur bahasa Melayu di seluruh dunia hanya 250 juta orang, sedang penutur bahasa Hindi 300-435 juta orang (J.C. Collins, 2009, hal. 14-21).

Namun  demikian tidak dapat dipungkiri bahwa ba­hasa melayu mempunyai pe­ranan yang sangat penting di berbagai bidang atau kegiatan di Indonesia pada masa lalu.

Ini tidak hanya sekedar sebagai alat komunikasi di bidang perdagangan, tetapi juga di bidang sosial (alat komunikasi massa), politik (perjanjian antar kerajaan) dan sastra-budaya (Suryomihardjo, 1979, hal 63).

Di Indonesia kemudian juga banyak karya sastra ber­bahasa Melayu, di antaranya seperti Hikayat Raja Pa­sai,Se­jarah Melayu, Hikayat Hasa­nudin, dan lin-lain.

Pada awal 2004, Dewan Bahasa dan Pustaka (Malaysia) dan Majelis Bahasa Brunei Darussalam - Indonesia - Ma­laysia (MABBIM) bahkan berencana menjadikan Melayu sebagai bahasa resmi ASEAN.

Hal ini karena separuh jumlah penduduk ASEAN mampu bertutur dalam bahasa Melayu. Meskipun pada ke­nya­taannya rencana ini masih belum terealisasikan.

Penggunaan bahasa Melayu menyebar telah menyebar ke seluruh pelosok kepuluan In­donesia, tak hanya pantai atau pelabuhan tetapi juga bahkan daerah pedalaman.

Jumlah penutur bahasa Melayu di Indonesia sangat banyak, bahkan melampaui Brunei dan juga Malaysia, negara yang telah mem­po­pulerkan bahasa Melayu me­lalui serial kartun anak “Upin-Ipin”.

Bahasa Melayu di Indo­nesia dituturkan mulai sepan­jang pantai timur Sumatera, Kepulauan Riau, Bangka Be­litung, Jambi, Sumatera Sela­tan, Bengkulu hingga pesisir Pulau Borneo dan kota Ne­gara, Bali.

Di daerah lainnya mes­kipun tak berdialek Melayu, namun tau dan mampu ber­bahasa Indonesia, bahasa na­sional dari bahasa Melayu Riau, produk dalam negeri yang pastinya harus selalu dijaga kelestariannya.

Sungguh ironis, akibat pe­nutur yang semakin sedikit, kurangnya perhatian peme­rintah dan rasa bangga ber­bahasa asing, membuat bahasa daerah kini semakin banyak yang punah.

Dari sebanyak 742 bahasa daerah yang ada di Indonesia, 365 bahasa diantaranya teran­cam punah. Bahkan sebanyak 23 bahasa daerah sudah benar-benar punah.(Harian Pelita, 27 Januari 2015).

Karena itu perlu dilakukan upaya-upaya untuk meles­tarikan keberadaan bahasa daerah. Terutama peran pem­da dan sekolah untuk mengga­lakkan bahasa daerah sebagai muatan lokal kurikulum.

Ya, melestarikan bahasa Indonesia tentu tak lantas dengan harus meninggalkan “bahasa ibu” sebagai bahasa daerah masing-masing. Ke­duanya bisa terus diles­tari­kan, sejalan dan berdam­pingan.

Kita tahu, masyarakat In­donesia, sebagian besar bahasa ibunya adalah bahasa lokal yang berfungsi sebagai bahasa daerah, sedangkan bahasa nasional yang diakui adalah bahasa Indonesia.

Bahasa daerah adalah aset bangsa yang sangat berharga yang juga menjadi ciri khas dan identitas diri bangsa kita yang memiliki keragaman suku. Jika hilang, maka hilanglah aset bangsa.

Sedangkan bahasa Indo­nesia adalah bahasa kebang­gaan bangsa kita, penghubung berbagai suku yang ada, dan pemersatu bagi seluruh rakyat Indonesia.

Bahasa yang mampu me­nya­tukan masyarakat Indo­nesia yang heterogen di negeri yang memiliki  lebih dari 13 ribu pulau sehingga me­n­ciptakan kesan satu kesatuan yakni bangsa Indonesia.

Dengan menunjukkan si­kap berbahasa Indonesia se­cara baik dan positif terutama dari para pemimpin kita, tentu bahasa Indonesia akan se­makin berperan nyata sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa. ***

 

AFRIANITA
(Redaktur Harian Haluan)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]