Berbakteri, Buah Impor Dirazia


Rabu, 28 Januari 2015 - 19:18:28 WIB
Berbakteri, Buah Impor Dirazia

Dari inspeksi tersebut, petu­gas menemukan puluhan kilogram Apel terlarang jenis Granny Smith dan Gala ditemukan di sejumlah toko buah Kota Padang dan Mall di Padang. Petugas memin­ta mereka untuk tidak lagi men­jualnya karena apel yang dinyatakan terkontaminasi bakteri Listeria Monocyptogenes bisa menyebabkan kematian. De­ngan tegas, petugas mengatakan kepada pemilik akan terus meman­tau tempatnya.

Baca Juga : Lakukan Mutasi Besar-besaran, Hendri Septa: Penyegaran Birokrasi

Kabid Perlindungan Konsumen Disperindagtamben Padang Desem­berius mengatakan bahwa dari lima titik yang di sidak (inspeksi men­dadak), empat titik ditemukan ma­sih menjual buah apel yang sebe­lumnya telah dilarang untuk diper­jualbelikan.

“Rata-rata satu titik kita temukan lebih kurang 15 kg apel yang seha­rusnya tidak boleh lagi untuk dijual dipasaran. Kalau kedapatan lagi, kami akan tindak tegas” ungkapnya.

Baca Juga : Hendri Septa Kembali Lantik 194 Pejabat Eselon III dan IV

Dikatakannya, ia bersama ins­tansi terkait seperti dinas kesehatan, BPOM, dinas pertanian dan ketaha­nan pangan, akan melakukan penga­wasan secara berkesi­nambungan terhadap peredaran dua jenis buah apel tersebut di Kota Padang.

“Ada UU Perlindungan konsu­men, bisa dipidana (yang tetap menjual). Kita sudah berikan peri­nga­tan dan informasi supaya apel ini tidak dijual. Kalau masih dijual juga kita lakukan tindak lanjut,” tuturnya saat menyidak Toko Harry Bersau­dara, Toko jun, dan Metro Swalayan dikawasan Pondok.

Baca Juga : Walikota Padang Hendri Septa Terima 500 Paket Sembako bagi Petugas DLH dari BNI Wilayah 02 Sumbar Riau Kepri

Kepala Badan Ketahanan Pa­ngan Sumbar Effendi kepada Haluan Selasa (27/1), di Padang menga­takan, masyarakat jangan mudah tergiur dengan buah impor yang terlihat segar dan menggairahkan. Apalagi buah itu tidak dilengkapi dengan data kapan saat panen. Dan suatu hal yang mustahil bila buah akan awet dalam waktu berbulan-bulan.

“Kita minta masyarakat agar cermat dan teliti saat membeli buah impor. Kita sudah melakukan identi­fikasi, ternyata buah impor itu diduga mengandung bahan kimia berbahaya, sejenis formalin dan boraks,” kata Effendi yang didam­pingi Kepala Bidang Kewaspadaan Pangan, Novian Jamil.

Baca Juga : Bangun Industri CPO dan Turunannya di Kota Padang, Hendri Septa Tinjau PT Padang Raya Cakrawala

Kesimpulan itu merupakan hasil identifikasi Laboratorium Pestisida Dinas Pertanian Tanaman Pangan Sumbar selama kurun waktu 2011-2012. Buah impor yang beredar di pasar Sumbar, seperti jeruk, anggur, mangga, kiwi, lengkeng dan apel tetap terlihat segar meski sudah berbulan-bulan lamanya dibiarkan terletak di atas sebuah wadah.

Tanda bahan kimia itu terlihat pada kulit buah anggur, biasanya seperti debu warna putih putih. Begitu pula pada lengkeng impor, akan ditemukan serpihan seperti tepung melumuri lengkeng. Sedang­kan pada mangga, pada bagian pangkal buah akan terlihat titik bekas suntikan bahan kimia. Hal itu terlihat saat buah dikupas. Sedang­kan apel, selalu awet meski sudah lebih 3 bulan lalu dibeli. “Debu atau tepung warna putih yang melumuri anggur dan lengkeng adalah zat adiktif sejenis boraks,” katanya.

Untuk meminimalisir serbuan buah impor yang tidak aman ini, pihaknya berupaya meningkatkan kualitas buah lokal. Caranya dengan melakukan Sertifikasi Mutu Pangan Segar baik buah maupun sayuran sejak dari kebunnya. Hal ini telah dilakukan Dinas Pertanian. Untuk petani sudah menerapkan Good Agricul­tuer Practise (GAP) dan  Standar Operasional Prosedur (SOP) spesi­fik komoditi dan spesifik lokasi.

Sertifikasi buah dan sayuran dilakukan oleh Otoritas Kompe­tensi Keamanan Pangan Daerah (OKKPD) Badan Ketahanan Pa­ngan Sumbar melalui UPTB Balai Pengawasan Sertifikasi Mutu Pa­ngan. Bagi buah dan sayuran yang sudah disertifikasi, maka saat panen akan ditempelkan data lengkap tahapan proses penanaman hingga panen.

Persaingan Bisnis

Dari pantauan Haluan, Rabu (28/1), beberapa pedagang buah impor yang ada di Pasar Raya Padang mengaku belum menda­patkan informasi tentang adanya kandungan bakteri berbahaya pada buah apel asal Amerika itu.

“Orang Disperindag juga belum mengumumkan larangan menjual buah apel dengan merk yang dise­butkan itu. Kalau sudah ada larangan (dari pihak terkait), kami akan turuti,” ungkapnya salah seorang pedagang buah di Pasar Raya.

Menurutnya, larangan menjual buah impor tersebut hanya persai­ngan bisnis semata karena sejak ada buah impor buah lokal kurang diminati. “Kalau buah impor ini, seperti buah peer, apel, anggur, strawberry, leng­keng dapat dibeli dengan  Rp10 ribu saja per kilogram. Namun, kalau beli buah lokal, harganya melonjak  dua kali lipat,” jelasnya.

Salah seorang pembeli Lia (25) mengaku enggan membeli buah apel tersebut menonton berita di televisi beberapa hari yang lalu. “Saya jadi takut membeli buah sekarang, wa­lau­pun belum ada larangan yang sama di pemerintah namun kami tetap saja waspada,” ujarnya. (h/ows/vie/mg-rin)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]