KNKT Ungkap 18 Fakta Jatuhnya AirAsia QZ8501


Kamis, 29 Januari 2015 - 19:50:18 WIB

“Satu-satunya tujuan penyelidikan adalah untuk meningkatkan keselamatan transportasi, untuk diterus­kan kepada kru, operato serta regulator. Informasi yang didapatkan bukan untuk menyalahkan atau penggantian ganti rugi,” katanya.

Mardjono menyebutkan, poin pertama, yakni pesawat AirAsia QZ8501 sebelum diterbangkan dalam kondisi yang layak dan dalam keadaan seimbang saat diter­bangkan (on board). Kedua, semua awak pesawat mempunya lisensi yang berlaku serta mengan­tongi sertifikat kesehatan (medical certificate).

Ketiga, second in command atau co-pilot yang menerbangkan pesawat (flying pilot), posisi di sebalah kanan, sementara pilot atau kapten pilot berada di sebelah kiri sebagai pilot monitoring.Keempat, pesawat menje­lajah hingga ketinggian 32.000 kaki melewati jalurnya M635. “Di layar telihat pesawat berbelok ke kiri,” kata Mardjono.

Kelima, pesawat teridentifikasi oleh air traffic controller (ATC) Jakarta kontak awal pada pukul 23.11 (UTC/GMT atau perbedaan dengan Indonesia sekitar tujuh jam), pesawat tersebut berbelok ke kiri dari jalur M365.

Keenam, pilot meminta untuk naik hingga ketinggian 38.000 kaki, namun ATC di Jakarta memerintahkan untuk tetap berada di 32.000 kaki (stand by). Ketujuh, pada pukul 23.16, ATC mengizinkan pilot (cleared the pilot) untuk menaikkan ketinggian hingga 34.000 kaki.

Kedelapan, saat kejadian tersedia gambar-gambar serta foto satelit cuaca dengan formasi ­cumolonim­bus yang puncak awan­nya mencapai 44.000 kaki. Kesembilan, posisi terakhir pesawat yang ditangkap oleh radar berada di titik koordinat LS 3 34 48,6 LS dan 109 41 50,47 BT.

“Pada posisi ini pesawat kembali sejajar dengan jalur M635,” katanya.

Ke-10, 30 Desember 2014, Basarnas menemukan jenazah dan serpihan pesawat terapung di permukaan laut Selat Karimata. Ke-11, 9 Januari 2015, ditemukan bagian ekor pesawat pada titik koordinat 03 37 40 LS dan 109 42 75 BT. Ke-12, Flight Data Recorder ditemukan pada 03 37 22,2 LS dan 109 42 42,1 BT. “FDR dibawa ke Jakarta sampai di sini malam, esok harinya atau kurang dari 24 jam diunduh terdapat 1,200 parameter reka­man, dengan 174 jam terbang,” katanya.

Ke-13, 13 Januari 2015 ditemukan “Cock­pit Voice Recorder” (CVR) pada koordinat 3 37 18,1 LS dan 109 42 12,2 BT. “CVR merekam dua jam empat menit penerbangan terakhir yang berisi pembicaraanflight crew­atau antarpilot dan pilot dengan petugas ATC. Ke-14, kotak hitam diunduh diteliti di Laboratorium KNKT yang memakan waktu 11 jam.

Ke-15, berdasarkan data FDR dan CVR sebelum kejadian pesawat menjelajah stabil di ketinggian 32.000 kaki. Ke-16, rekaman kotak hitam berhenti pada pukul 23.20 (UTC/GMT). Ke-17, pada 27 Januari 2015, 70 jasad ditemukan oleh Tim Basarnas. Ke-18, dilaku­kan evakuasi serta pencarian korban yang terus berlanjut. Mardjono mengatakan seluruh informasi tersebut berdasarkan fakta, namun bukan tidak mungkin untuk diklarifikasi dan diperbarui sebelum nantinya disimpulkan dalam laporan terakhir sekitar 10 bulan mendatang. (h/inl)





Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM