Booming Batu Akik Hidupkan Ekonomi Masyarakat


Kamis, 29 Januari 2015 - 20:05:23 WIB
Booming Batu Akik Hidupkan Ekonomi Masyarakat

“Batu akik ini trend di tengah ma­syarakat. Jadi, sifatnya hanya sementara. Seperti dulu booming jual beli burung murai batu, yang menjadi trend sebentar, kemudian hilang,” ujarnya.

Baca Juga : Sedih, Ada Orang Tua di India Buang Bayinya yang Kena Corona

Hal yang sama dikatakan Werry Darta Taifur, pengamat ekonomi dari Uni­versitas Andalas. Rektor Unand itu ber­pandangan, batu akik bukan ke­butuhan untuk dikon­sumsi atau kebutuhan musi­man. Kebutuhan musiman, kata Werry, proses pro­duk­si dan penjualannya juga musiman.

Mengenai meningkatnya eko­nomi masyarakat terkait hal itu, menurut Werry, harus dilihat dulu, misalanya,  apakah pengrajin batu adalah orang yang sekadar beralih profesi atau orang yang dulunya tidak ada pekerjaan, kemudian menjadi pengrajin karena booming-nya batu akik.

Baca Juga : "Pantun Cerewet" Doni Monardo untuk Sadarkan Masyarakat

“Jika hanya beralih profesi, maka tidak terjadi peningkatan ekonomi. Tapi, kalau seorang pengangguran menjadi pengrajin atau seorang pengrajin berhasil membuka lapa­ngan kerja baru bagi teman-teman­nya yang dulu tidak punya pekerjaan, lalu menjadi pengrajin, itu bisa disebut peningkatan,” jelasnya,

Sementara itu, Ketua Komunitas Batu Akik Mulia Sumbar, Attila Majidi Datuak Sibungsu menga­takan, booming batu akik terbukti mampu menambah penghasilan dan meningkatkan kesejahteraan masya­ra­kat, terutama mereka yang bersen­tuhan langsung dengan usaha terse­but atau yang biasa disebut pemain batu seperti penambang, pengrajin, penjual dan kolektor batu akik.

Baca Juga : Akhirnya, Penggunaan Vaksin Covid-19 untuk Anak-anak Disetujui

“Penambang dan pengrajin yang tadinya adalah masyarakat biasa kelas bawah, sekarang sangat terang­kat ekonomi mereka. Bayangkan, jika sehari mereka mengasah 15 batu akik dengan upah Rp 30 ribu per batu, sudah terkumpul uang seba­nyak Rp 450 ribu sehari,” ujar Attila saat dihubungi Haluan, Kamis (29/1).

Menurutnya, prospek usaha jual beli batu akik semakin bagus ke depannya. Alasannya, selain karena batu akik adalah aksesoris yang setiap saat dipakai dan dicari sejak ratusan tahun yang lalu, juga karena semakin banyak ditemukan ratusan potensi batuan baru di Indonesia yang depositnya tidak akan habis hingga 15 tahun ke depan.

Baca Juga : Setelah Satu Bulan Wafat, Penyebab Pangeran Philip Meninggal Diungkap

“Trend batu akik ini akan hilang kalau depositnya habis. Dari penga­matan saya, masih akan ditemukan deposit batu akik di Indonesia dan Sumatera Barat,”

Sementara itu, Kabid Neraca Badan Pusat Statistik (BPS) Sum­bar, Henfina Nur mengatakan, pihaknya belum menghitung tingkat ekonomi masyarakat terkait boo­ming batu akik. Pihaknya memang berencana menyurvei hal itu dalam tahun ini.

Ia menjelaskan, untuk menyurvei hal itu, harus dibandingkan kegiatan ekonomi lain dan penghasilan yang ditinggalkan karena beralih profesi menjadi pengrajin atau penjual batu.

“Untuk menyurvei itu, juga harus dihitung jumlah masyarakat Sumbar yang bekerja sebagai pengra­jin dan pedagang batu, dari total jumlah masyarakat Sumbar,” pung­kasnya.

Dari sisi lain, Gusti Anan, penga­mat sosial budaya berpandangan, fenomena batu akik merupakan salah satu budaya orang Minan­gkabau yang senang dengan pe­nampilan. Setiap kali ada sesuatu yang menjadi trend, misalnya cincin dari akar bahar yang dulu booming di tahun 70 dan 80-an, semua orang berlomba-lomba mendapatkan dan membicarakan akar bahar tersebut. Sementara untuk memiliki barang yang menjadi trend itu butuh uang untuk membelinya. Hal itu diakui­nya memiliki hubungan dengan meningkatnya ekonomi di tengah masyarakat. Sesuai hukum ekonomi, jika permintaan terhadap barang meningkat, maka harga akan me­ning­kat pula dan muncul banyak pedagang serta lapangan kerja dari jual beli barang tersebut. (h/dib)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]