Padang KLB Penyakit Difteri


Kamis, 29 Januari 2015 - 20:10:10 WIB
Padang KLB Penyakit Difteri

Untuk mengantisipasi pe­nye­baran penyakit mematikan tersebut, Dinas Kesehatan Kota (DKK) Padang me­nyiap­kan imunisasi bagi 240 ribu anak, mulai Senin (2/2). DKK akan cepat melakukan tin­dakan atas temuan ini melalui imunisasi DPT (Difteri, Per­tusis, dan Tetanus) secara massal terhadap anak berumur 2 bulan hingga 15 tahun.

Baca Juga : Di Depan Doni Monardo, Gubernur Rekomendasikan Pinago sebagai Penahan Abrasi

“Kami akan laksanakan suntik imunisasi tersebut di Puskesmas, Puskeskel, Pos­yan­du hingga di bangku seko­lah dari PAUD hingga siswa kelas 1 SMA,”kata Kepala DKK Padang, dr Eka Lusti saat dihubungi Haluan, kemarin.

Eka menyebutkan pada Januari 2015 sebanyak lima orang dinyatakan suspect atau diduga difteri dan telah dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) M Djamil Padang. Sementara, pada 2014 kasus difteri ditemukan pada dua kecamatan yaitu Koto Tangah dan Kuranji dimana telah dibe­ri­kan imunisasi kepada 26 ribu anak yang ada di wilayah itu.

Baca Juga : Ini Besaran Zakat Fitrah dan Fidyah Tahun 2021 di Padang

Disebutkannya, kasus ini perta­ma kali ditemukan di Padang pada 2014 dimana ada salah seorang anak yang baru kembali dari Surabaya. Saat itu kota terbesar kedua di Indo­nesia ini tercatat mengalami 920 kasus penderita difteri. “Saya harap masyarakat bisa bekerja sama dan tidak me­nolak anaknya dibe­rikan vak­sin karena hal ini demi kese­lamatan,”katanya.

Menurut Kepala Instalasi, Hu­mas dan Pengaduan Ma­syarakat RS M Djamil, Gus­tafianof pihaknya memberikan perhatian khusus terha­dap perawatan kelima balita terse­but. Penyakit ini tergolong mema­tikan karena mudah menye­bar. Karena penyebaran penyakit ini begitu mudah, tim medis yang menangani harus mengenakan pa­kaian khusus untuk menghindari kontak dengan si penderita, baik kon­tak langsung maupun kontak saluran udara.

Baca Juga : Alhamdulillah, Perumda AM Padang Gratiskan Air Masjid dan Musala Selama Ramadan

Penyakit ini sendiri rentan bagi anak di bawah 15 tahun, terutama balita yang ditandai dengan demam serta nyeri pada tenggorokan, terjadi pem­bengkakkan pada kelenjar ge­tah bening di leher, munculnya mem­bran (selaput tipis) ber­warna abu-abu yang menutupi saluran perna­pasan dan aman­del sehingga pen­derita akan sulit bernapas serta menggigil kedinginan. “Memang saat ini ada lima anak (yang dirawat). Jika ada warga yang mene­mukan gejala-gejala yang sama pada anak, diharap­kan agar segera membawa anak ke ru­mah sakit terdekat,” im­baunya.

Hanya saja, Gustafianof  menga­jak masyarakat tidak usah cemas atas kondisi seperti ini. Namun, jika nanti terlihat gejala-gejala yang mengarah kepada difteri pada anak, warga diminta segera membawa anak ke rumah sakit terdekat.

Baca Juga : Hendri Septa Dengarkan Pandangan Fraksi DPRD Tentang LKPJ Wali Kota Padang Tahun 2020

Sementara itu, Walikota Padang Mahyeldi seperti dilan­sir Antara menegaskan dari laporan Dinas Kese­hatan hingga Senin sore, hasil peme­riksaan laboratorium di RSUP M Dja­mil Padang satu orang dinya­takan positif dan ini sudah masuk kategori kejadian luar biasa (KLB). Dika­takannya, untuk penyakit difteri begitu satu orang saja ditemukan positif maka hal itu sudah masuk KLB.

Mahyeldi meminta imu­nisasi segera dilakukan dan dalam hal ini Dinas Kesehatan diharapkan untuk ber­koor­dinasi dengan Dinas Pen­di­dikan karena sebagian besar yang akan diimunisasi adalah pelajar SD hingga SMP. Kepada orang tua ia meminta untuk bekerja sama dan memastikan anaknya telah diimu­nisasi mengingat satu-satunya cara untuk mencegahnya hanya dengan vaksin.

Dihubungi terpisah, Kepala Puskesmas Andalas dr. Desi me­ngung­kapkan sejauh ini ia belum menerima laporan terkait difteri dari warga. Namun ia mengaku Pus­kesmas Andalas siap melaksanakan instruksi apapun yang nantinya harus dilakukan terkait temuan pasien suspect difteri ini.

“Di Puskesmas kita selalu mela­kukan imunisasi DPT. Jika ada intruksi nanti terkait difteri kita akan langsung lakukan. Namun kepada orangtua yang belum memberi bali­tanya imunisai DPT, diharapkan segera datang ke puskesmas ter­dekat,” ucap dr. Desi.

Dalam sejarahnya, difteri meru­pakan penyakit yang sangat endemis di Eropa Barat, terutama sebelum ditemukannya vaksin. Kemudian ditemukannya Vaksin difteri toxoid dimasukkan menjadi program imu­nisasi rutin di Eropa Barat pada tahun 1940 dan 1950 dan program imunisasi anak di Eropa pada tahun 1950 dan 1960.

Data dari UNICEF, di Indonesia terjadi kematian bayi setiap 3 menit. Dan kematian tersebut disebabkan oleh penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Salah satunya dengan imunisasi seperti difteri dan tetanus. Berdasarkan data mem­perlihatkan bahwa kasus difteri paling banyak terjadi pada anak yang tidak divaksinasi atau vaksinasi tidak lengkap.

Penyebaran difteri di Indonesia tidak baru kali ini terjadi, meski nama tersebut masih asing di telinga. Di Kota Malang pada Oktober 2014 lalu satu orang yang positif terinfeksi difteri, dan pemerintah setempat menyatakan Kejadian Luar Biasa (KLB). Dan pada Oktober 2011 lalu, Provinsi Jawa Timur menya­takan KLB penyakit difteri, dan pada tahun 2012 terdapat 762 kasus dan 29 meninggal dunia akibat difteri

Salah satu pemeritah daerah yang baru saja menetapkan KLB pada Rabu (28/1) adalah Kabupaten Bandung. Karena sejak November 2014 tercatat ada enam korban penyakit difteri, dan satu korban meninggal dunia. (h/mg-isq)

BERITA TERKINI Index »

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]