Melahirkan Bintang Sepak Bola (Bagian 1)


Jumat, 30 Januari 2015 - 19:36:46 WIB
Melahirkan Bintang Sepak Bola (Bagian 1)

Tujuan utama digelarnya kompetisi ini, sebagaimana diungkapkan Derik selaku promotor kompetisi, adalah sebuah proses awal untuk melahirkan seorang bintang sepak bola. Jika kompetisi ini secara bertahap mampu dilak­sanakan teratur di seluruh daerah di Indonesia, tidak mustahil jika dalam lima tahun ke depan, pemain berbakat itu akan berkilau.

Baca Juga : Protes PP No 57 Tahun 2021, Alirman Sori: Pancasila Seharusnya Masuk Kurikulum Wajib!

“Hal yang paling mendasar dalam konsep pembinaan, adalah bersinarnya talenta-talenta yang dapt dijadikan modal dasar pembinaan di tingkat lanjutan. Prestasi bu­kanlah tujuan, tapi ha­nya­lah bagian kecil dari se­buah proses yang lebih besar,” katanya kepada Haluan Riau, be­berapa waktu lalu.

Tentunya sangat be­­ra­lasan bagi pro­motor, be­lajar dari pe­nga­la­man Head Coach Tim­­nas U­19 Indra Sjafri, yang nyaris mem­­­­buahkan pres­tasi fe­no­menal di pen­­tas Piala A­sia U­19 20­14, lalu. Per­­jalanan pan­jang­­­­n­ya da­lam me­­ngum­­pul­­­kan pe­main ber­­­ba­kat un­tuk mem­­­pe­r­kuat tim­nas, me­nun­jukkan beta­pa mi­nimnya kom­­­­­­­­pe­tisi di level u­sia muda di tanah air.

Baca Juga : Tak Cantumkan Pancasila dan Bahasa Indonesia Makul Wajib PT, Jokowi Didesak Batalkan PP 57/2021

“Pada saat itu Indra Sjafri mengungkapkan bahwa faktor subyektifitas sangat mem­pengaruhi seorang pela­tih di Indonesia, ketika me­ngusulkan nominator pemain yang harus dipantau. Hal ini dengan sen­dirinya menutup ruang dan kesempatan bagi pemain lain,” ujar Derik menirukan.

Menangkap persoalan yang sangat men­dasar inilah, mem­buatnya ter­mo­tivasi untuk meng­­­gelar kompetisi, yang di­ha­rapkan ba­kal men­­jadi em­brio bagi pondasi pem­binaan sepak bola usia muda di tanah air.

Baca Juga : Peringatan HUT ke-69 Kopassus Digelar Secara Sederhana

Empat Level

Seiring dengan dihapusnya pembinaan kompetisi level grassroot oleh FIFA, dan tidak terungkapnya secara faktual dalam regulasi yang dihasilkan induk organisasi sepak bola nasional PSSI, untuk pem­binaan usia muda. Membuat promotor bersama tim, men­coba sebuah formulasi kom­petisi secara berjenjang ber­dasarkan kelompok usia.

Baca Juga : PN Surabaya Tolak Gugatan Rhoma Irama Terkait Royalti Lagu Rp1 Miliar, Ini Alasannya

Konsep ini dim­ple­men­tasikan da­lam kom­petisi LI­B­RA In­do­nesia, de­ngan me­nerapkan pem­­ba­gian ke­lom­pok umur pe­ser­ta kom­­­petisi, yak­­­ni U10, U12, U14 dan U16. Pem­binaan ke­lom­pok usia inilah yang hingga saat ini dilakukan Sekolah Sepak Bola (SSB) di seluruh tanah air.

Kompetisi harus diawali dengan penyisihan di level kabupaten kota, dengan me­nganut sistem setengah kom­petisi, menggunakan ratio pe­serta setiap kelipatan 12 tim dalam satu grup. Dengan esti­masi satu laga setiap minggu, maka kompetisi ini a­kan ber­langsung selama 11 minggu.

Pola kompetisi ini diyakini memberi ruang kepada penge­lola SSB, pelatih, siswa dan orang tua siswa untuk belajar serta menerapkan manajemen sepak bola yang lebih ter­program. Karena sistem ma­najerial akan sangat efektif untuk diterapkan secara mak­simal, jika semua pihak me­mang ingin belajar.

Pada tingkatan ini, seluruh pela­tih SSB peserta berke­wajiban untuk merekomendasi pemain berbakat, yang akan disatukan menjadi sebuah tim untuk menjadi wakil kabu­paten kota, ke kompetisi ting­kat wilayah provinsi, sebagai bentuk dan rasa tanggung jawab bersama para pembina.

Di tingkat provinsi, meru­pakan muara awal berhim­punnya pemain berbakat dari seluruh kabupaten kota yang ada. Pada tingkatan ini, para pelatih harus ekstra hati-hati dan fokus untuk menyaring pemain berbakat di semua kelompok usia, dalam kom­petisi yang menerapkan sistem turnamen.

Para pemain terpilih di tingkat wilayah adalah produk pembinaan sepak bola pro­vinsi, untuk diantar mengikuti laga di tingkatan regional dan nasional kompetisi LIBRA Indonesia.

Kompetisi di tingkat na­sional, merupakan salah satu rekomendasi promotor kepa­da seluruh stake holder timnas kelompok usia dan Badan Tim Nasional (BTN) PSSI, dari empat kelompok usia.

Kenapa SSB?

Hingga hari ini, per­hatian dan tanggung jawab pe­me­rintah dan seluruh stake holder sepak bola, sa­ngat minim seka­li terhadap SSB. Meski mereka me­rupakan lembaga pen­di­dikan infor­mal yang sesuai dengan UU Keo­lahragaan Nasio­nal, namun kehi­dupan­nya bak anak ayam kehilangan induk.

Indra Sjafri mengakui me­nemui banyak kesulitan ketika harus menetapkan pilihan terhadap seorang pemain, ke­tika menggawangi timnas U­19. Di Indonesia ini banyak sekali bakat alam, namun tidak te­rasah dengan baik, sehingga kilauannya tidak maksimal.

“Seharusnya sejak awal mereka sudah dipoles oleh pelatih, dengan me­nge­nal­kan skema permainan, pe­ma­ha­man strategi ber­main serta yang paling utama a­dalah visi dalam bermain bola. Banyak bakat alam yang saya pantau cenderung bermain secara sporadis, tidak dalam sebuah kerangka tim,” akunya.

Di sisi lain, hampir 85 persen pelatih SSB di In­donesia adalah mantan pemain bola yang tidak memiliki li­sensi kepelatihan. Hanya de­ngan bermodal komitmen, na­mun berdampak pada materi latihan yang diberikan pada siswa, karena tidak terstruktur sesuai dengan kurikulum. (Bersambung)

 

YUKI CHANDARA
(Wartawan Haluan Riau)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]