MUI: Imunisasi Tidak Haram


Jumat, 30 Januari 2015 - 19:47:02 WIB
MUI: Imunisasi Tidak Haram

Menanggapi tentang klaim imu­nisasi yang dianggap tak halal itu, Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumbar, Prof. DR. Edi Syafri menegaskan, di Indonesia khususnya Sumbar, zat yang digunakan untuk suntik imu­nisasi tidak haram.

Baca Juga : H-6 Lebaran, Pantai Purus Padang Sepi Pengunjung

“Ketika kami melakukan perte­muan dengan Depertemen Kese­hatan di Jakarta beberapa tahun yang lalu, telah dilakukan penelitian terhadap zat tersebut. Hasilnya, bisa dipastikan zat yang digunakan untuk imunisasi, halal dan tidak berbahaya bagi tubuh,” terang Edi Syafri kepada Haluan, Jumat (30/1) melalui tele­pon genggamnya.

Menyikapi semakin menu­runnya keinginan masyarakat untuk mela­kukan imunisasi terhadap anaknya, Edi Syafri mengimbau masyarakat agar jangan mudah percaya dengan isu-isu yang tidak bertanggungjawab terkait imunisasi. Di samping itu, pihak pemerintah khususnya dinas terkait juga harus bisa men­so­sia­lisasikan program imunisasi dengan benar dan tepat sasaran.

Baca Juga : Irawati Meuraksa Serahkan Donasi Spensa Peduli di SMP Negeri 1 Padang

“Masyarakat harus diberi pema­haman, memang benar setelah dila­kukan imunisasi biasanya si anak akan diserang demam, tapi bukan berarti karena zatnya berba­haya bagi tubuh,” ujar Edi Syafri.

Bahkan, menurut Edi Syafri, ka­rena semakin diperlukannya imu­nisasi untuk meningkatkan kekebalan dalam tubuh, maka aga­ma justru mengan­jurkan program tersebut. Artinya, selain halal, imunisasi menurut pandangan hu­kum Islam juga dianjurkan, karena dipandang bermanfaat untuk kese­hatan tubuh manusia. “Karena ini bermanfaat, imunisasi justru dian­jurkan,” pungkas Edi Syafri.

Senada dengan Edi Syafri, Ketua MUI Kota Padang, Prof. DR. Duski Samad juga mengatakan hal de­mikian. Bahkan katanya kalau benar-benar dibutuhkan, sedangkan tidak ada cara atau zat lain yang bisa digunakan, zat yang sifatnya haram pun tetap diperbolehkan.

Menurutnya, untuk memastikan kehalalan imunisasi ini, MUI sudah tiga kali mengeluarkan fatwa untuk memberikan kepastian hukum kepa­da masayarakat. “Sudah tiga kali fatwa terkait hal ini, diantaranya tahun 2002 dan 2010,” ujar Duski.

Di samping itu, MUI juga telah melakukan sosialisasi kepada Pus­kesmas-puskesmas, rumah sakit dan lembaga-lembaga kesehatan lainnya untuk memastikan hal ini. “Kita telah datangi lembaga-lembaga kesehatan untuk mensosialisasikan hal ini. Dengan harapan, pihak terkait juga menyampaikan pesan-pesan kami terkait imunisasi ini kepada masyarakat,” jelas Duski.

Namun, salah satu orang tua suspect difteri yang minta namanya tak disebut membantah jika anaknya terjangkiti difteri karena tak diimu­nisasi. “Anak saya rutin kok men­dapatkan imunisasi,”kata sang ibu dari suspect difteri yang masih beru­sia 2 tahun itu.

Si ibu mengklaim penyakit anaknya bukan dipicu karena tidak diimunisasi, tapi dipicu  oleh peru­bahan iklim yang tak menentu. Dari data yang dikumpulkan Haluan, anak si ibu ini mendapat perawatan di RSUP M Djamil sejak, Jumat (23/1), sama dengan korban pe­nyakit difteri “ZR” yang sudah meninggal pada Jumat itu. (h/mg-fds/mg-isq/rvo)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]