Melahirkan Bintang Sepak Bola (Bagian 2-Habis)


Ahad, 01 Februari 2015 - 19:30:38 WIB
Melahirkan Bintang Sepak Bola (Bagian 2-Habis)

Seluruh persoalan yang saat ini masih menggelayuti selu­ruh pengelola SSB, harus dike­lola dengan baik untuk dica­rikan solusinya. Termasuk dengan menyatukan visi pem­binaan di setiap SSB, agar di masa mendatang benar-benar dikelola menurut aturan manajerial.

Baca Juga : Menjelang Rabu Pahing, Bisik-bisik Reshuffle Kabinet Makin Kencang

Panataan tata kelola SSB ini bagi LIBRA Indonesia, tidak­lah sekedar wacana. Kontrak kerja sama jangka panjang dengan Bank BRI SYariah sebagai co-branding LIBRA Indonesia, telah membuka kontak SSB dengan pelaku dunia usaha.

Dunia usaha inilah yang sesungguhnya bisa diarahkan untuk menjadi bapak angkat atau pembina tetap sebuah SSB. Sehingga, di tatanan organisasi pengelola SSB de­ngan sendirinya telah memiliki tempat mengadu, dan ke depan tentunya akan membuka pelu­ang usaha untuk menghidupi SSB tersebut.

Baca Juga : Waspadai 10 Wilayah Ini Diguyur Hujan Sedang hingga Lebat

Ke depan, komunikasi yang terus dibangun dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga RI, diharapkan sedikit membuka ruang dan pemahaman bagai pe­merintah daerah, untuk me­ner­bitkan kebijakan terhadap masa depan SSB di daerah masing-masing.

Sebuah konsep sebenarnya dapat mengalir dan ber­kem­bang dengan sendirinya, tanpa harus terhambat dengan situasi dan kondisi apapun. Namun kenyataannya, setelah berta­hun lamanya berdirinya SSB di tanah air, keberadaannya seakan terkesan jalan di tem­pat.

Baca Juga : Bantah Kabar Meninggal, Ustad Zacky Mirza Buat Video dari Rumah Sakit

Hal ini sudah tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi seluruh stake holder sepak bola. Motivasi dan niat yang demikian tulus tersebut, tidak seharusnya terbentur dengan segudang kendala yang tak perlu ada.

Visi pembinaan yang di­miliki setiap SSB hendaknya disatukan dan dituangkan da­lam sebuah konsep nyata yang terlembaga dengan baik. Da­lam tahap implementasi dan penerapannya, hendaklah ber­sinergi pada muara pem­binaan yakni pembentukan Timnas Kelompok Usia.

Baca Juga : Jelang Idulfitri, Ungkit Perekonomian Masyarakat Melalui Pemberian THR hingga Perlinsos

Artinya, kelembagaan ter­sebut harus berafiliasi dengan instistusi yang lebih tinggi, terkait keorganisasian dan keberadaan SSB sebagai lem­baga pendidikan olah raga non formal. Dan induk organisasi sepak bola secara materi kuri­kulum atau progres pembinaan kelompok usia.

Tentunya, seluruh program yang ditata sedemikian rupa, bakal memiliki nilai tawar yang lebih baik bagi pengelola SSB untuk mendapatkan in­sentif atau bantuan yang lebih terarah dan berkelanjutan dari seluruh stakholder sepak bola dan swasta.

Tanpa harus menutupi rua­ng dan kesempatan bagi pihak yang ingin berkontribusi bagi sepak bola, kompetisi LIBRA Indonesia sebagai salah satu kompetisi SSB di tanah air , bakal mampu mensinergikan seluruh visi pembinaan terse­but, dengan adanya lembaga yang mampu menata regulasi dan operasional kompetisi ini.

Bahkan, Piala Menpora yang selama ini lebih fokus untuk mensuplai calon pemain Timnas U16, dapat dikem­bangkan menjadi turnamen yang lebih terbuka bagi kelom­pok usia tertentu, yang men­jadi ranah SSB.

Kelahiran kompetisi LIB­RA Indonesia ini barulah sebuah langkah awal dari sebu­ah komitmen terhadap pem­binaan sepak bola nasio­nal. Dibutuhkan konsistensi, komi­tmen dan dukungan penuh seluruh pihak agar perjalanan yang panjang menuju ter­ben­tuknya Timnas yang tangguh ini, tidak hanya menyisakan cerita luka bagi generasi be­rikutnya.***

 

YUKI CHANDRA
(Wartawan Harian Haluan Riau)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]