Mengembalikan Kejayaan Limau Kamang


Senin, 02 Februari 2015 - 18:55:04 WIB
Mengembalikan Kejayaan Limau Kamang

CVPD merupakan pe­nya­kit yang paling merusak perke­bunan jeruk dan patogennya ditularkan melalui vektor serangga sejenis kutu loncat. Penyebabnya adalah sejenis bakteri berflagela, Candidatus Liber­ibacter spp.

Baca Juga : Iedul Fithri: Geliat Ekonomi, Momentum Keluar Resesi

Hama CVPD itu juga membuat masyarakat Kamang mulai putus asa, karena waktu itu tidak ada obat pembasmi hama tersebut. Hasilnya, Limau Kamang hilang dipasaran mulai era 90-an hingga 2000-an. Kondisi ini membuat warga Kamang memilih berubah profesi, ada yang berkebun ubi, buka perabotan dan yang lainnya.

Kini, harapan baru mulai mun­cul. Semenjak tahun 2006, beberapa kelompok warga mulai mencoba kembali untuk bertanam limau. Hasilnya, pada tahun 2013 lalu hingga 2015 ini, ada beberapa kelompok tani yang telah memanen limau mereka, meski hasil panen kali ini tidak sebooming di era kejayaannya.

Baca Juga : Pembangunan dan Keadilan bagi Padagang Kaki Lima

Menurut Camang Kamang Ma­gek, Surya Wendri, penanaman limau itu merupakan bagian dari program Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura dan Peter­nakan Kabu­paten Agam. Menu­rutnya, peme­rintah dan masyarakat berharap bisa mengembalikan nama besar Limau Kamang pada masa lalu.

“Dari 2006 hingga 2015 ini, telah ada sekitar 25 kelompok tani di Kecamatan Kamang Magek yang menanam limau, yang masing-ma­sing kelompoknya beranggotakan sekitar 15 hingga 30 orang,” ujar Surya Wendri, Minggu (1/2).

Ia mengungkapkan, saat ini, limau sudah ditanam di lahan seluas 80 hektare di Kecamatan Kamang Magek, yang mana satu hektare lahan menampung sekitar 400 ba­tang jeruk. Bahkan ada beberapa warga yang secara swadaya membeli dan menanam jeruk di lahan mereka masing-masing.

Ia menjelaskan, Limau Kamang yang dulu tidak jauh berbeda dengan yang sekarang. Jika dulu jenis Limau Kamang yang ditanam adalah jenis Siam yang didatangkan dari Bang­kinang, saat ini limau yang ditanam adalah jenis Siam Madu dan Siam Gunuang Omeh yang didatangkan dari Kabupaten 50 Kota.

“Rasanya sama-sama manis antara limau yang ditanam dulu dengan sekarang. Perbedaan yang menonjol hanya terletak pada kulit limau. Kulit limau yang ditanam sekarang lebih terlihat menarik, karena warnanya orange terang. Prospek Limau Kamang saat ini menurut saya masih menjanjikan,” jelas Surya Wendri.

Ia melanjutkan, untuk sementara ini limau yang telah dipanen baru dipasarkan di sekitar Kabupaten Agam dan Kota Bukittinggi. Ia mengakui pihaknya masih mengkaji kualitas limau dan potensi pasar sebelum meluncurkan produk limau tersebut ke provinsi lain.

Untuk mengantisipasi penye­baran hama yang bisa mematikan tanaman jeruk,  Surya Wendri me­nga­takan, para kelompok tani telah diberi penyuluhan yang bekerjasama dengan Pengendali Hama Terpadu (PHT).

“Masing-masing kelompok tani telah diberi penyuluhan, baik ten­tang pengenalan bibit yang bebas penyakit, tata cara penanaman, pemberian pupuk, pengenalan hama dan serangga beserta cara mem­basminya, serta sosialisasi lainnya yang memungkinkan para petani untuk bisa menjaga tanamannya dari serangan hama,” jelas Surya Wendri.

Distribusi Limau Kamang saat ini dibagi menjadi tiga grid atau tiga kelas, di antaranya Grid A yang buahnya tergolong super besar, dengan satu kilogramnya hanya mencapai enam atau tujuh buah, kemudian Grid B yang besarnya sedang dengan satu kilogramnya terdapat sekitar 9 buah limau, serta Grid C atau yang berukuran kecil, yang satu kilogramnya berkisar 12 hingga 13 buah.

“Tak hanya limau, sebagian petani lainnya di Kamang Magek juga banyak bertanam kakao. Bahkan saat ini telah ada komunitas tani yang dibentuk warga dengan nama Garu­da Muda. Komunitas ini mengajak generasi muda untuk tidak ber­pangku tangan di rumah, serta mengimbau untuk memanfaatkan lahan tidur agar dita­nami tanaman yang bisa bermanfaat untuk mening­katkan ekonomi warga,” lanjut Surya Wendri.

Sementara itu, Kepala Unit Pelayanan Teknis (UPT) Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan Kehutanan dan Keta­hanan Pangan (BP4K2P) Keca­matan Kamang Magek Kabupaten Agam Bakhrizal menambahkan, selama tahun 2014 lalu, telah ada perluasan penanaman limau sekitar enam hektare.

“Perluasan itu ditanam oleh tiga kelompok tani, diantaranya Kelom­pok Tani Usaha Muda dari Nagari Kamang Mudiak, Kelompok Tani Kepsiba dari Nagari Kamang Hilia dan Kelompok Tani Anak Aia Sara­tuih dari Jorong Aia Tabik Nagari Kamang Mudiak,” tutur Bakhrizal.

Bakhrizal mengungkapkan, saat ini jumlah hasil panen Limau Ka­mang belum terlalu banyak, karena sebagian besar limau tanaman warga baru mulai berbuah.

“Berbuahnya tidak serentak, jadi warga baru melakukan panen di kelompok mereka masing-masing. Mungkin pada bulan Juni 2015 mendatang baru bisa panen raya,” prediksi Bakhrizal.***

 

Laporan: HASWANDI

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]