Mengatasi Tawuran Pelajar Butuh Kepedulian Lingkungan


Selasa, 03 Februari 2015 - 19:24:31 WIB
Mengatasi Tawuran Pelajar Butuh Kepedulian Lingkungan

Tawuran antar pelajar bukan suatu yang gampang mengatasinya seperti membalikan telapak tangan. Perlu sinergitas, ketegasan dan kesabaran berbagai pihak  di dalam menumpasnya. Kendati tidak gampang mengatasinya, tapi itu mesti dilakukan dengan sungguh-sungguh dan tidak boleh patah arang. Karena tawuran pelajar bisa saja berujung maut bagi pelajar yang terlibat dalam tawuran tersebut, termasuk warga sekitar. Para pelajar yang terlibat dalam tawuran, ada yang mempersenjatai dirinya dengan clurit, parang, sabit, pisau, gear sepeda motor, batu dan lain sebagainya. Di kota-kota besar sudah banyak pelajar yang terlibat dalam tawuran yang tewas. Karena itu mau tidak mau, suka atau tidak suka, tawuran  antar pelajar mesti diatasi secara bersama-sama.

Baca Juga : BPOM Tetap tak Restui Vaksin Nusantara, Ternyata Ini Penyebabnya

Tawuran antar pelajar merupakan penyimpangan sosial yang berupa perkelahian. Penyimpangan sosial ini harus segera dicari solusinya agar tidak timbul perkelahian antar pelajar dan tidak menimbulkan korban jiwa. Sudah sepantasnya pelaku tawuran dihukum pidana agar kasus seperti ini diproses secara hukum yang berlaku dengan undang-undang sehingga memberikan efek jera bagi para pelajar.

Tidak hanya itu, pihak sekolah juga harus menunjukan sikap yang tegas kepada para pelajar yang ikut terlibat dalam tawuran yaitu berupa sanksi yang tegas.  Di lain pihak, polisi juga ikut serta dalam berkoordinasi dengan dinas pendidikan dan pihak sekolah untuk mencari sistem pencegahan kekerasan yang terjadi di dalam dan luar lingkungan sekolah agar lebih efektif.

Baca Juga : Pekerja Harap Bersabar, Sisa BLT Subsidi Gaji 2020 Masih Tahap Pendataan

Pemberian sanksi selanjutnya, bisa dengan menurunkan status sekolah menjadi status sekolah biasa. Perlu adanya inovasi dari dinas pendidikan dan sekolah untuk meredam aksi tawuran antar pelajar. Jika perlu, tindakan tegas bagi institusi sekolah dan pelajar yang terlibat tawuran tersebut.  Tindakan tegas itu sangat diperlukan karena tawuran sudah mengarah pada tindakan kejahatan, bukan sekedar kenakalan remaja pada umumnya.

Selama ini sekolah beralasan, bahwa tawuran bukan sekedar merupakan tanggung jawab pihak sekolah melainkan terjadi di luar lingkungan sekolah dan jam sekolah. Padahal sangat jelas bahwa sekolah ikut serta bertanggung jawab atas para pelajar yang terlibat pada aksi tawuran tersebut. Namun pada faktanya pihak sekolah tidak mau disalahkan akan terjadinya tawuran di lingkungan sekolah itu sendiri. Ini merupakan suatu contoh yang buruk bagi sistem pendidikan.

Baca Juga : Ini 7 Fakta di Balik Rencana Reshuflle Kabinet, Posisi Menteri Investasi akan Jadi Rebutan Partai Politik

Dosen psikologi Universitas Indonesia, Winarini Wilman mengatakan persoalan kekerasan yang terjadi di kalangan pelajar dan penanganannya belum banyak beranjak. Persoalan tawuran baru dapat dilihat sebatas masalah lokal, bukan masalah nasional. Kalau sudah menjadi masalah nasional, semua elemen masyarakat ikut terlibat dan ikut waspada di semua lini yang ada. Winarini juga menambahkan bahwa pada masa orientasi sekolah menjadi masa paling krusial untuk memutuskan mata rantai kekerasan kelompok.  Masa itu harus diisi oleh hal-hal yang produktif karena masa orientasi sekolah justru biasanya masa ketika kebencian kelompok itu diturunkan kepada para siswa baru disekolah tersebut.

Pada fase remaja, siswa mengalami masa transisi dari anak-anak menjadi dewasa. Perspektif psikologi massa menyangkut proses meleburnya individu dalam perilaku massa. Sebagai bagian dari perilaku massa, para remaja mengalami deindividuasi yang berupa hilangnya tanggung jawab pribadi, tindakan irasional dan tindakan sugestif. **

Baca Juga : Hilangkan Pancasila dan Bahasa Indonesia sebagai Makul Wajib, Ketua MPR: PP 57/2021 Cacat Hukum

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]