Perawat Cantik Tewas Mencurigakan


Selasa, 03 Februari 2015 - 19:37:16 WIB
Perawat Cantik Tewas Mencurigakan

Dugaan sementara pihak kepolisian, korban tewas karena bunuh diri. “Benar, ditemukan jasad diketahui bernama Dewi Septa Maidona di sungai Batang Sumpuh dekat bendungan besar Panti-Rao. Dari kartu identitas, korban adalah perawat yang bertugas di Puskesmas Keca­matan Rao,” ujar Kapolres Pasa­man AKBP Agung SW mela­lui Wakapolres Kompol Sihana kepada wartawan.

Baca Juga : Angka Kematian Karena Virus Corona di Sumbar Bertambah, Total 901 Kasus

Jasad korban berhasil dieva­kuasi dari dalam sungai oleh masyarakat kemudian dibawa ke rumah bidan terdekat. “Jasad korban dibawa ke rumah bidan desa di Petok Selatan Nagari Persiapan Panti Selatan, Keca­matan Panti. Kemudian dil­a­rikan ke rumah sakit untuk divisum. Namun, pihak keluarga meminta jasad korban diautopsi ke Rumah Sakit Bhayangkara Padang,” ujar Kompol Sihana.

Akan tetapi kabar kematian Dewi Septa Maidona karena bunuh diri ditangkis oleh pihak keluarga. Ayah korban, Muchtar ditemani Joni adik korban, berkali-kali melontarkan bahwa anaknya dibunuh.

Baca Juga : Pasien Covid-19 yang Dinyatakan Sembuh di Sumbar Bertambah 242 Orang, Total 37.002 Kasus

Muchtar pun menceritakan, Senin sore, sepulang dinas dari Puskesmas Rao, anaknya Dewi berkemas untuk pergi ke Lu­buksikaping untuk urusan dinas. Sekitar jam 17.00 wib, datang menjemput Dewi, mobil avanza putih yang diduga dikemudikan oknum polisi yang bertugas di Mapolres Pasaman inisial N.

”Anak saya dibunuh oleh N, dia yang membawa anak saya dengan mobilnya. Anak saya menyebut dia pergi ke Lubuksikaping untuk ke­per­luan dinas. Mana mungkin dia pakai pakaian rapi sekali jika hanya untuk bunuh diri,” ujar ayah korban, Muchtar.

Adanya kecurigaan dari pihak keluarga korban, bawah korban dibunuh bukan bunuh diri, maka pihak keluarga minta jasad ibu dua anak itu diautopsi. Awalnya jasad Dewi dibawa ke RSUD Lubuk­sikaping untuk visum. Suami kor­ban, yang juga seorang dokter ber­tugas di Medan, dr. Sures, meminta jasad istrinya diautopsi di RS. Bhayangkara Padang. Pada Selasa (3/2) itulah jasad Dewi dibe­rang­katkan ke RS. Bhayangkara Padang untuk diautopsi.

Penelusuran Haluan ke rumah duka di Kecamatan Rao, suasana di rumah duka, Dewi Septa Maidona masih menggambarkan duka.

Kedekatan korban dengan ok­num polisi yang disebut-sebut terli­bat dalam peristiwa nahas itu, me­mang diakui oleh masyarakat seki­tar. Korban sering menumpang keluar dengan oknum tersebut. Bahkan saking sudah saling kenal­nya Dewi dengan  oknum polisi berinisial N itu, Dewi tidak segan-segan naik mobil N untuk pergi ke Lubuksikaping.

“N pernah dinas di Polsek Rao ini. Mereka memang sudah saling kenal, tapi saya pun tidak tahu sedekat apa hubungan mereka. Ma­syarakat Simpang Rumbai ini se­mua tau tentang kedekatan mereka,” ujar Santi (samaran) saat bincang santai dengan media ini.

Suasana di rumah duka, di Sim­pang Rumbai Pasar Rao, Kecamatan Rao Kabupaten Pasaman kemarin masih menggambarkan duka.

Di tikungan Simpang Rumbai itu, terpampang plang bertuliskan pelan-pelan, ada kemalangan. Di kedai-kedai kopi sekitar rumah duka, masih stanby bapak-bapak, seolah menunggu kepulangan jena­zah Dewi Septa Maidona yang tengah diautopsi di Rumah Sakit Bhayangkara Padang.

Tidak satupun warga yang berani bicara lebih jauh soal kematian warga mereka itu. Namun, desas-desus seputar kematian istri dr. Sures itu masih simpang siur. Ada warga yang menyebut korban dibunuh oleh teman lelaki yang selama ini dikenal menjalin hubungan dekat dengan korban.

Pihak puskesmas, mengaku kehi­langan perawat yang periang itu. Bahkan sebelum kejadian nahas itu, Dewi, sapaan akrab korban, sempat tukar jam dinas dengan temannya Mawar (samaran).

“Dia minta tukar jam dinas dengan saya. Biasanya dia itu dinas siang dari Rabu sampai Jumat. Dewi memang tidak memberi alasan tukar jam dinas tersebut,” ujar Mawar.

Mawar yang telah mengenal dekat Dewi, menyebutkan tegas bahwa bukan tipe Dewi orang yang nekad bunuh diri. Selama ini, Dewi tidak ada masalah yang serius apa­lagi masalah kejiwaan.

“Kami tidak percaya Dia bunuh diri. Kita tunggulah hasil outopsi nantinya,” sebut Mawar lagi.

Mawar yang juga punya keper­luan, bertekad tidak mau tukar jam kerja. Oleh karena itulah, Mawar sempat mengirimkan pesan singkat ke handphone korban sekitar pukul 19.30 WIB. Rupanya sms itu, pesan terakhir untuk karibnya itu. “Suami saya juga dinas malam, kita tidak bisa tukar jam kerja,” sebut Mawar, menirukan inti pesan singkatnya itu.

Alangkah terkejutnya Mawar, rupanya sobatnya Dewi dikabarkan telah meninggal dunia. “Saya dapat kabar sekitar pukul 22.00 Wib. Mendapatkan info itu, langsung saya pandangi sms tersebut dan meng­hapusnya. Karena sms itu, meng­hantui perasaan saya,” terangnya.

Dewi dan Mawar pun Senin pagi itu, masih sempat bersama. “Dia antar saya pulang usai apel pagi di Puskesmas. Kejadian yang mereng­gut Dewi, benar-benar terjadi begitu cepat, berselang 2 jam saja sejak dia tinggalkan rumah,” tutupnya.

Hal senada disampaikan Kepala Puskesmas Rao dr. H. Edwin Rifa’i. “Dewi tidak ada gejala stres apalagi gangguan kejiwaan. Dia masih masuk kerja pada siangnya. Bahkan dia masih sangat ceria,” ujar dr. Edwar.

Dia pun tidak mau terbawa isu atas kematian stafnya itu. “Kita tunggulah hasil autopsi. Semua akan jelas adanya. Karena kami para dokter, hasil outopsi itu sangat dipercaya untuk mengungkap apa­kah korban bunuh diri atau dibu­nuh,” terangnya.

Dewi Septa Maidona, adalah salah seorang perawat yang telah lama mengabdi di Puskesmas Keca­matan Rao. Dia dinas di Puskesmas Rao sejak tahun 2010 lalu.

Pada hari Senin itu, Dewi ikut dinas karena tukar jam dinas dengan temannya. Rencana tukar jam dinas itupun, sudah disampaikan kepada Kepala Bagian Tata Usaha Puskes­mas Rao Dariusdar.

Saat ditemui di depan ruangan autopsi Rumah Sakit Bhayangkara Polda Sumbar, Raja Sures, suami korban yang baru saja pulang dari Malaysia, menolak berspekulasi tentang misteri kematian sang istri. Menurutnya, hanya petugas yang berhak memutuskan terkait hal ini. “Bunuh diri atau dibunuh, petugas yang bisa mengetahuinya,” ujar Sures kepada Haluan, selasa (3/2).

Terkait autopsi yang dilakukan terhadap jasad istrinya, Sures me­nganggap ini adalah prosedur yang harus dilakukan terhadap mayat manusia yang ditemukan tanpa diketa­hui penyebab pasti kema­tiannya.

Karena ada kejanggalan inilah dilakukan otopsi, ujarnya lagi, kalau visum hanya pemeriksaan bagian luar tubuh saja.

Meski merasa sangat kehilangan karena istrinya pergi dengan cara yang janggal, tapi Sures tetap beru­saha sabar, dan juga tidak mau menuding siapapun dan apapun menjadi penyebab tewasnya Dewi.

Sedangkan Apak Tuo korban yang tidak mau menyebutkan nama­nya juga ikut terpukul dengan keper­gian Dewi untuk selama-lamanya. “Mendapat kabar Dewi telah wafat, saya sangat sedih, tapi sebelumnya saya juga heran kenapa jasadnya dibawa ke Padang,” ujarnya.

Setelah mengetahui jasad Dewi harus diautopsi, ia pun mendatangi Rumah Sakit Bhayangkara. “Saya sudah lama menetap di Padang, jadi mendapat kabar ia di bawa ke Padang, saya pun langsung ke sini,” jelasnya.

Menurut Pak Tuonya yang sudah menetap di Padang, Dewi orangnya pendiam, tidak neko-neko. Tapi, memang ada sedikit kecurigaan terbesit di hatinya terkait wafatnya Dewi setelah mendengar cerita dari kerabat-kerabat lainnya.

Menurut ceritanya, sebelum ditemukan sudah tidak bernyawa, Dewi dijemput oleh seorang teman prianya, sementara lokasi tempat ditemukan Dewi itu, jarang pula dilaluinya.

N Bersama Korban

Setelah melakukan penyelidikan, pihak Polres mengakui oknum anggotanya berinisial N berada bersama korban Dewi Septa Mai­dona yang ditemukan tewas dalam bendungan.

Tangkisan pihak keluarga mulai terkuak, bahwa anaknya Dewi Septa Maidona dijemput oleh oknum polisi berinisial N pada Senin (2/2) sore, sebelum ditemukan tewas.

“Kita mengakui bahwa saat kejadian, salah seorang oknum anggota meminta pertolongan kepa­da warga ketika korban jatuh dari jembatan. Identitas anggota juga sudah kami ketahui,” kata Kapolres Pasaman Agung SW kepada media, Selasa (3/2).

Sementara itu, Kasat Resrim Polres Pasaman, AKP Rudi Munan­da juga membenarkan kalau korban bersama oknum polisi Polres Pasa­man yang masih aktif bertugas berinisial N saat kejadian nahas itu. Saat ini personel tersebut sudah ditangani oleh Propam Polres Pasa­man untuk dimintai keterangan.

“Kini anggota tersebut sedang diperiksa di Propam Polres Pasa­man. Keterangan anggota tersebut akan dikaitkan dengan insiden bunuh diri, dan mengatahui apa penyebab perempuan itu bunuh diri,” katanya.

Menu­rut AKP Rudi, di lokasi memang ditemukan senjata api milik oknum anggota, namun senjata api itu sudah diamankan. Soal uang tunai senilai Rp10 juta, aparat yang turun ke lokasi tidak menemukannya.

Dari informasi yang dihimpun Haluan, korban Dewi Septa Mai­dona, selain pamit ke Lubuksikaping untuk urusan dinas, korban juga berencana menabungkan uangnya itu. Uang yang disebut-sebut senilai Rp10 juta, bakal ditabung untuk keperluannya pergi ke Medan.

Korban rupanya bertekad untuk pergi mengunjungi dua orang anak­nya yang masih sekolah dasar dan satu lagi masih balita, yang tinggal bersama suaminya di Medan. Itu­pula perkiraan pihak puskesmas, bahwa dia ingin tukar jam dinas dengan temannya, karena ingin bercuti ke Medan.

“Kami kenal dekat dengan kor­ban, dia tinggal jauh dari anak-anak dan suaminya. Dia dan temannya sempat menemui saya, soal tukar jam dinas itu. Korban biasa piket jaga itu pada Rabu, Kamis dan Jumat. Kini, dia minta dinas pada Senin dan Selasa, karena Rabu tidak bisa piket. Kami mengira, dia hen­dak ke Medan,” ujar Kepala TU Puskesmas Rao, Darius­dar kepada Haluan. (h/tim)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]