Markisa Manis, Sebuah Icon yang Mulai Langka


Rabu, 04 Februari 2015 - 19:26:21 WIB
Markisa Manis, Sebuah Icon yang Mulai Langka

Yang mem­buat Ka­bupaten Solok ter­kenal di nusantara karena di­juluki bumi markisa. Sebagai salah satu komoditi buah se­gar, markisa dapat di kom­sum­si secara lang­sung ataupun ben­tuk olahan seperti sirup dan jus.

Baca Juga : Iedul Fithri: Geliat Ekonomi, Momentum Keluar Resesi

Buah ini juga bisa dijadikan sebagai alternatif buah tangan bagi pengunjung daerah ber­hawa sejuk itu, jika akan pu­lang. Bagi pembeli yang ingin mendapatkan buah ini juga cukup gampang, karena buah ini banyak dijual secara konvensional di sepanjang jalan dari Nagari Talang hingga ke Lubuk Selasih dan di sepanjang jalan menuju ke Kab. Solok Selatan.

Dan biasanya para pedagang juga tak hanya menjual markisah semata. Layaknya seperti magnet, markisah yang dipajang bergelantungan di lapak-lapak pedagang itu, dijadikan daya tarik untuk menarik pembeli untuk juga membeli buah-buahan lokal lainnya seperti terong pirus, pisang, alpukat serta umbi-umbian, yaitu ubi jalar dan ubi kayu. “Mar­kisah adalah daya tarik bagi pembeli untuk mampir ke tempat ini,” kata Wen (32) salah seorang pedagang markisa di ruas Lintas Sumatera, Nagari Koto Gadang Guguk Keca­matan Gunung Talang kepada Ha­luan Selasa (3/2).

Baca Juga : Pembangunan dan Keadilan bagi Padagang Kaki Lima

Tarif buah markisa yang dipatok rata-rata sama pada hampir semua pedagang di sepanjang jalan antara Gunung Talang sampai Lubuk Sela­sih, yaitu Rp 10.000,-/ikat (satu ikat sebanyak 6 hingga 8 buah). Namun pada hari-hari tertentu seperti hari libur, harga buah yang dipercaya memiliki banyak khasiat ini bahkan bisa mencapai harga Rp.1.200 per­buahnya. “ Kalau hari libur harganya bisa naik karena banyaknya permin­taan,” kata Wen.

Wen mengaku, untuk menda­patkan buah segar ini, dia bersama pedagang lainnya biasanya hanya menunggu dari para agen yang mengumpulkan dari petani yang mengantarkan markisa ke lapaknya setiap seminggu sekali. “Kami su­dah ada langganan yang mengantarkan setiap seminggu sekali,” tambahnya.

Selain menyegarkan, buah mar­ki­sa memberi banyak manfaat bagi yang mengkonsumsinya. Seperti kandungan vitamin C yang tinggi sangat baik untuk kese­ha­tan pen­cernaan serta dipercaya dapat me­nambah kecantikan kulit dan wajah. Memakan buah markisa secara teratur dapat membuat kulit tubuh kita semakin halus dan bersinar karena kandungan vitamin c di dalamnya yang dapat membantu peremajaan kulit. “Tentu masih banyak manfaat lainnya yang bisa berguna bagi tubuh,”bebernya.

Sementara itu, Silfi Anggriani (36) salah seorang pedagang markisa di Nagari Aie Batumbuk menye­butkan, dibandingkan de­ngan sepu­luh tahun silam, untuk men­da­patkan buah markisah ini pada saat ini sudah mulai sulit. Hal ini lan­taran, para petani yang menanam markisah di daerah itu sudah jauh berkurang. Pihaknya bahkan me­ngaku, dulu keluarganya juga adalah petani markisah. Namun kini ke­bun  markisah di lahan miliknya dan warga di daerah itu hanya dita­nami sayuran dan sebagian telah ditumbuhi semak belukar. “Tana­man markisa tak lagi subur seperti itu, buahnya juga kecil-kecil sehingga petani banyak yang beralih kepada tanaman lain,” jelasnya.

Untuk mendapatkan markisa, seperti halnya dengan Wen, Silfi terpaksa harus membeli dari petani dari daerah lain seperti nagari Air Dingin kec. Lembah Gumanti. Karena menurutnya  untuk saat ini hanya di Nagari Air Dingin yang ada lahan markisah dengan kualitas super. “Untuk di daerah Air Ba­tumbuk dan Kayu Jao paling hanya tinggal sekitar enam hingga tujuh orang petani. Itupun lahannya juga tidak terlalu luas,”  katanya.

Senada dengan itu, Ulil Amri (38) salah seorang petani markisa di nagari Batu Bajanjang kec. Lembang Jaya mengungkapkan, menurunnya pro­duksi markisa di daerah itu diper­kirakan sejak terjadinya letusan Gu­nung Talang pada tahun 2004 silam. Letusan yang disertai dengan mun­tahan abu vulkanik diduga telah meng­gangu tanaman markisa yang sebe­lumnya tumbuh subur di area sekitar kaki hingga ke lereng gunung itu.

Dulu produksi buah markisa per hektarnya bisa mencapai 1000 buah perminggu. Bahkan para petani bisa mengirim markisa setiap ming­gunya ke pulau jawa. Namun se­karang hanya berkisar pada 300 buah perminggu. “ Itupun buahnya juga kecil-kecil, dan hanya bisa untuk konsumsi lokal saja,” ungkapnya.

Terkait itu, dari data yang dihim­pun Haluan di Dinas pertanian Kabupaten Solok menyebutkan, saat ini Pemerintah Kabupaten Solok terus berupaya untuk meng­gairah­kan kembali budidaya tanam­an markisa di berbagai daerah yang dianggap bisa dan cocok untuk pengembangannya. Diharapkan Solok dapat kembali unjuk gigi menjadi salah satu penghasil marki­sa berkualitas unggul di Tanah Air.

Upaya itu berupa penyediaan pohon induk yang akan dijadikan sebagai bibit pohon markisa yang telah dikembangkan di dua daerah yaitu di Kecamatan Lembang Jaya dan Keca­matan Lembah Gumanti. “Bagi petani yang ingin menanam markisa kembali di lahan mereka, bibitnya bisa diambil di pohon induk yang ada di dua UPTD Lembang Jaya dan Lembah Gu­manti,” ungkap Sekretaris Dinas Pertanian Kab. Solok Hj.Miharta Maria, SP di Arosuka.

Pihaknya menyebutkan, untuk tahun 2013 telah dilakukan penam­bahan tanaman baru sebanyak 2.745 pohon markisa yang dikembangkan di dua kecamatan yaitu Kecamatan Lembah Gumanti sebanyak 1.645 pohon dan Kec. Danau Kembar sebanyak 1.100 pohon. Sementara untuk produksi buah, pada akhir tahun 2013 lalu mencapai 103.509, 30 ton. Dengan produksi terbanyak berada di Nagari Air Dingin Kec. Lembah Gumanti yaitu sebanyak 87.963,20 Ton.

”Pemerintah daerah terus ber­upaya agar buah yang menjadi icon Kabupaten Solok ini tetap me­ningkat produksinya. Saat ini ada enam kecamatan yang masih eksis menanam markisa, karena dari segi iklim hanya daerah itu yang cocok dengan tanaman ini,” kata Miharta Maria menyudahi. (*)

 

Laporan : YUTIS WANDI

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]