Niat Baik Berubah di Tengah Jalan


Rabu, 04 Februari 2015 - 19:30:47 WIB
Niat Baik Berubah di Tengah Jalan

Bila kita ingin jujur, pemimpin-pemimpin yang sedang mendapat amanat dari rakyat untuk mengelola negara dan bangsa ini cepat lupa diri dan silau dengan kekuasaan. Inilah cacat awal yang membuat negeri ini menanggung resiko yang sangat besar; tertundanya perhatian untuk fokus meraih kemajuan demi kemajuan demi tercapainya tujuan luhur kehadiran negara, memakmurkan dan mensejahterakan rakyat.

Baca Juga : Menaker: Pelindungan ABK Perikanan Indonesia Merupakan Hal Mutlak!

Ada lima hal yang bisa dikemukakan terkait persoalan kepemimpinan dan persoalan kisruh di negeri ini.

Pertama, cacatnya moral pe­mim­pin sudah diingatkan dalam ajaran agama. Amanat yang dida­patkan berawal dari niat tulus suci untuk mengabdi di tengah jalan berubah karena godaan tahta, harta dan wanita.Kita melihat di balik semua kisruh itu, ada ambisi yang luar biasa untuk menjamah sendi-sendi NKRI yang memang memiliki sifat keku­asaan. Tarik menarik tidak terhin­darkan. Adapun soal kasus, logika hukum, hanyalah gunung es yang tampak dari jauh. Di bawah hal-hal yang tampak itu betapa kekua­saan sedang saling adu kekuatan untuk saling menguasai.

Baca Juga : Kemenkes Dorong Pengurus Masjid Tetapkan Jadwal Vaksinasi

Kedua, pada semua level kepe­mimpinan di negeri ini,selalu ada orang dekat yang membisik dengan bisikan yang hanya mementingkan hasrat kuasa dan harta. Sering sekali pemimpin tergelincir oleh ulah pembi­sik ini. Namun demikian yang paling sering justru perseng­kong­kolan terjadi dengan mulus antara pemimpin yang ada di tahta dengan pembi­siknya.

Tak salah kiranya Lord Acton (1834-1902), menyatakan, kekua­saan itu sesungguhnya jahat, tetapi dibu­tuhkan (power is devil but neces­sary). Sekecil apapun kekua­saan itu, kekuasaan cenderung disa­lahgu­nakan apalagi dengan kekua­saan absolute.Absolut pula penya­lahgunaan yang dilakukan (power tend corrupts and absolute power corrupts absolutely).

Baca Juga : Audiensi dengan Musisi Indonesia, Menko Airlangga akan Cari Solusi Konstruktif untuk Industri Musik

Ketiga, sungguhpun seorang pemimpin mengetahui apa yang dibisikkan oleh pembisik tidak sesuai dengan hati nurani yang paling dalam namun ia tak mampu menge­lak. Inilah yang membuat kepemim­pinan  yang awalnya sangat baik berakhir dengan buruk. Jatuhnya wibawa kepe­mim­pinan lambat laun akan menjatuh­kan dirinya dari tahta yang ia duduki.

Keempat, ini paling penting. Kesadaran spiritual, keimanan, keta­atan terhadap agama, kesalehan individu yang mempengaruhi cara berpikir dan bertindak ke dalam kepemimpinannya. Pemimpin se­per­ti ini kerap sekali tidak sabar bila menghadapi masalah. Ia tidak te­nang, cakap, serta jernih berpikir dalam mengambil keputusan.

Baca Juga : Menko Airlangga Sebut Tingkat Kesembuhan Covid-19 di Indonesia Semakin Membaik

Kunci kepemimpinan itu tetap­lah keyakinan atau keimanan ke­pada kekuatan Ilahiyah. Seseorang bisa kuat bila ia bersandar pada keadaan kekuatan keimanan. Na­mun keimanan juga membutuhkan ruang kesadaran yang tinggi terha­dap apa yang se­dang dikerjakannya. Barangsiapa mengenal dirinya (naf­sahu) maka ia akan mengenal Tu­hannya (Man ‘Arafa Nafsahu Faqad ‘Arafa Rab­bahu), begitu kata hik­mah dari para sufi yang sering diucapkan para cendikiawan kita.

Kelima, besarnya pengaruh ma­te­rialisme dalam kehidupan juga tak luput memengaruhi sikap dan tinda­kan seorang pemimpin. Ini di­ingatkan dalam sebuah riwayat, cinta dunia dan sangat takut mati (HR. Abu Dawud). Karenanya, mun­cullah sikap rakus, menumpuk harta, mengamankan jabatan, serta ingin melanggengkan kekuasaan di tangannya selama-lamanya. Betapa ia takut mati dan  lepas dari nik­matnya kekuasaan tersebut, padahal tidak ada yang abadi di tangan manu­sia. Inilah yang kurang disadari.

Demi Masa Depan

Sebagai rakyat yang akan memi­lih para pemimpin setiap lima tahun sekali, kita harus terus belajar dan berkaca pada pengalaman ini. Kita jadikan pedoman di masa depan, sekalipun seseorang itu layak me­mim­pin, belum tentu ia bisa berta­han dan tahan atas godaan yang makin besar. Seorang pemimpin akan sangat mudah merobah arah di tengah jalan, inilah bahayanya.

Karena itu, memilih pemimpin haruslah didahului dengan penge­tahuan yang cukup atas jalan hidup­nya, pengalaman kepemimpinannya, spiritualitas dalam kehidupannya, harus dilihat secara jeli dan kritis.

Kini memang, ada banyak cara para calon pemimpin menaikkan citra agar dapat dipilih, namun semuanya bisa saja semu. Kita harus mencari data pembanding sebelum menen­tukan pilihan. Kata kuncinya, jangan cepat percaya pada satu publikasi saja, carilah pemban­dingnya segera tentang seseorang calon pemimpin.

Jangan lupa, setelah mem­beri­kan kesempatan kepada pemimpin, kita tetap harus menga­wasi sepak terjang kepemimpinannya. Kita di Minang­kabau memiliki pepatah soal ini, seorang pemimpin hanya di­dahu­lukan selangkah ditinggikan seran­ting. Betapa dekat antara pemimpin dengan yang dipimpin. Jika salah jalan segera diingatkan.

Semoga negeri kita segera terbe­bas dari kisruh serupa di masa depan. Ini pengalaman berbangsa dan berne­gara; niat baik harus tetap dijaga hingga sampai amanat yang dipikul sampai selesai dan menjadi pemimpin yang khusnul khatimah. Amin. (*)

 

H LEONARDY HARMAINY
(Mantan Ketua DPRD Sumbar)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]