PAUD Masih Dianggap Pendidikan Sekunder


Kamis, 05 Februari 2015 - 18:56:53 WIB
PAUD Masih Dianggap Pendidikan Sekunder

Ia memaparkan, PAUD dapat mem­berikan manfaat yang nyata terhadap perkembangan kecerdasan dan moral anak. PAUD menanamkan kejujuran, disiplin, cinta sesama, cinta tanah air, bahkan tentang gizi. Menurutnya, penyampaian nilai-nilai dasar tersebut semakin efektif jika diberikan sejak usia dini.

Baca Juga : Jakarta Masuk dalam Daftar Kota Termahal Dunia, Ini Penyebabnya

“Esensi dari PAUD adalah pem­berian rangsangan atau stimulasi pen­didikan yang sesuai dengan tahap tum­buh-kembang anak dan dilak­sana­kan melalui pendekatan bermain sambil belajar,” papar Reni beberapa waktu lalu..

Sayangnya, saat ini jumlah anak yang diikutkan dalam PAUD baru mencapai 34,54 persen dari total anak usia PAUD di Indonesia. Padahal ditargetkan pada tahun 2015 mencapai 70 persen.

Baca Juga : Kabar Baik! Jaringan di Wilayah Sumatera akan Ditingkatkan Selama Ramadan

Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia ini memaparkan, kurangnya minat orangtua memasukkan anaknya ke PAUD adalah tambahan biaya pendi­di­kan sebelum anaknya mencapai pendi­dikan wajib. Padahal, PAUD bahkan dapat dilakukan secara tidak formal dengan dukungan pemerintah yang dilakukan di tempat-tempat umum seperti rumah ibadah atau posyandu.

“Riset menunjukkan, anak-anak yang ikut PAUD cenderung lebih ber­prestasi dan ceria, berani, dan berse­mangat. Pemantauan anak yang ikut PAUD hingga kelas 5 SD menunjukkan prestasi mereka lebih baik dibandingkan anak yang tidak,” tutur Reni.

Baca Juga : Maksimalkan Pengalaman Aktivitas Digital di Momen Ramadan dan Idulfitri 1442 Hijriah

Pilih yang tepat

Bila tinggal di lingkungan yang sudah tersedia banyak PAUD, maka pemilihan PAUD yang tepat juga perlu diperhatikan oleh orangtua. Menurut Reni, PAUD yang baik adalah PAUD yang dapat membe­rikan pendidikan secara holistik integratif.

Baca Juga : Resep Kolak Pisang Tanpa Santan, Cocok untuk Berbuka Puasa

Reni pun memaparkan syarat-syarat memilih PAUD yang tepat untuk anak. Syarat pertama yaitu, pilih yang loka­sinya dekat dengan rumah. “Jika terlalu jauh, anak akan capek di jalan sehingga tidak bisa fokus mengikuti PAUD,” ujar Reni. Kedua, pilih yang pengajarnya ber­kom­­peten dan memahami teknik penga­jaran PAUD yang tepat. Dan ketiga, kurikulum PAUD jelas dan memas­uk­kan nilai-nilai dasar positif ke dalamnya. (h/kfm)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]