Disperindag Sumbar Bakal Sidak


Kamis, 05 Februari 2015 - 19:18:42 WIB
Disperindag Sumbar Bakal Sidak

Pantauan Haluan, Kamis (5/2) di lapak pakaian bekas Pasar Raya Padang tepatnya di samping Kantor Balaikota Lama, puluhan pembeli asik mengotak-atik gundukan pa­kaian bekas. Ada sebagian pembeli yang sudah akrab dengan penjual pakaian ter­sebut, seperti sudah menjadi pelanggan saja. Harga pakaian bekas juga tergantung kepada barang yang baru dibuka atau istilah pedagang ‘bukak ka­wek’. Bukak kawek itu, barang yang baru dibuka dari ka­rung­nya. Jika pembeli mahir untuk memilih, maka akan men­dapatkan pakaian yang bagus.

Baca Juga : Di Depan Doni Monardo, Gubernur Rekomendasikan Pinago sebagai Penahan Abrasi

Joni, pedagang pakaian bekas menuturkan, animo masyarakat untuk membeli pakaian bekas itu  di­penga­ruhi oleh ekonomi dan kualitas pakaian yang masih bagus. Karena pakaian bekas yang dia jual berasal dari Korea. “Lihat­lah jenis kainnya, halus dan masih lembut,” urai Joni.

Joni juga menyediakan pakaian bekas untuk kalangan tertentu, seperti artis dan pe­kerja kantoran. Untuk artis, ada gaun-gaun dengan kualitas bagus dengan berbagai jenis, sementara untuk kantoran ada celana dasar cewek dan cowok.

Baca Juga : Ini Besaran Zakat Fitrah dan Fidyah Tahun 2021 di Padang

“Dari pada dijahit dengan bahan asalan, makanya mereka membeli dengan kualitas ma­sih bagus dengan harga ber­saing paling tinggi Rp25 ribu,” tutur Joni.

Mahasiswi salah satu per­guruan tinggi di Padang, Titin menuturkan, kalau untuk ku­liah dengan pakaian bebas memang sulit untuk me­me­nuhi aneka jenis baju. Dengan membeli pakaian bekas te­ru­tama kemeja, maka bisa me­nambah koleksi pakaian.

Baca Juga : Alhamdulillah, Perumda AM Padang Gratiskan Air Masjid dan Musala Selama Ramadan

“Saya beli kemeja saja, kan masih banyak yang bagus. Kadang ada pakaian bekas itu yang masih ada merek atau label barunya,” ujarnya.

Menurut DKK Padang, Eka Lusti, pakaian bekas memang tidak ada salahnya. Tetapi, hati-hati dengan penyakit kulit yang bisa saja ditularkan melalui pakaian. “Ya, saat ini tren menjual pakaian bekas me­mang marak. Pembeli pun an­tusias, saya minta kepada ma­sya­rakat untuk mencuci pa­kaian bekas itu dengan bersih dan disetrika. Karena kita tidak bisa melarang mereka mem­beli, jika itu ke­butuhan,” tutup Eka Lusti.

Baca Juga : Aktifitas Balimau di Padang Dibubarkan Polisi

Beredarnya pakaian bekas berbakteri menyentakkan Di­nas Perindustrian dan Per­dagangan (Disperindag) Sum­bar, dan berencana dalam waktu dekat ini akan langsung melakukan inspeksi men­da­dak (Sidak).

Sementara Kepala Dis­pe­rindag Sumbar, Rahmat Syahni dihubungi Haluan, Kamis (5/2) mengatakan, pi­hak­nya akan melakukan sidak terkait pe­re­daran baju bekas impor ber­bakteri ini. Namun, sampai saat ini Disperindag masih me­nunggu surat resmi dari Ke­menterian Perdagangan.

“Saya sudah dengar di me­dia massa, memang sudah ramai perbincangan tentang baju bekas impor berbakteri. Namun be­lum ada surat, maka kita belum bisa bergerak,” ujarnya.

Ditambahkannya, setelah surat ini diterima akan koor­dinasikan dengan dinas terkait di kabupaten/kota untuk me­narik peredaran baju bekas. Mengingat menyangkut ke­se­lamatan orang banyak, jadi kita harus lebih cepat.

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan (Kemendang) me­larang masyarakat meng­gunakan pakaian bekas ilegal yang di­impor dari luar negeri karena mengandung bakteri yang ber­bahaya. Karena dalam proses penelitian yang di­lakukan Ke­mendag dengan mengambil sampel 25 pakaian bekas yang dijual di Pasar Senen, Jakarta.

Sampel 25 pakaian bekas tersebut terdiri dari 5 ke­lompok pakaian anak, wa­nita, dan pria. Hasil uji la­bo­ra­torium menyimpulkan pa­kaian tersebut me­ngandung banyak bakteri mikrobiologis yang kalau digunakan akan gatal-gatal, diare dan bisa terkena penyakit saluran ke­lamin. (h/mg-isr/ows)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]