50 Orang Meninggal Tiap Hari Akibat Narkoba


Kamis, 05 Februari 2015 - 19:22:59 WIB
50 Orang Meninggal Tiap Hari Akibat Narkoba

Dengan fakta, 50 orang meninggal dunia setiap harinya akibat menggunakan narkoba di Indonesia dan jumlah pengguna yang harus direhabilitasi mencapai 4,2 juta jiwa, plus 1,2 juta pengguna narkoba yang tidak dapat direhabilitasi, maka sudah pilihan paling tepat jika vonis hukuman mati dikenakan bagi pengedar narkoba diterapkan di Indonesia. Presiden Jokowi juga menegaskan tak akan memberikan grasi kepada terpidana mati kasus narkoba meski mendapat tekanan dari dalam dan luar negeri.

Baca Juga : PKB: Permintaan Maaf Nadiem ke PBNU Hanya Suaka Politik agar tak Dicopot Presiden

Sikap tegas Presiden Jokowi sudah tepat dan perlu didukung oleh seluruh anak bangsa. Karena fakta berikutnya, ternyata 70 persen penghuni rumah tahanan Negara dan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) adalah pengguna/pengedar dan Bandar narkoba. Bisa jadi, angka yang dimuat di atas, hanyalah yang muncul ke permukaan. Sedangkan angka yang sesungguhnya bisa berlipat-lipat jumlahnya, laksana teori gunung es.

Berdasarkan data di atas, dapat kita perkirakan jumlah pihak keluarga dan sanak famili yang terdampak sibuk dan susah secara materil dan non materil akibat anggotanya keluarganya meninggal karena mengonsumsi narkoba atau dihukum pidana hingga bertahun-tahun lamanya. Betapa juga banyak generasi yang putus sekolah, berhenti kuliah, bercerai dengan istri-suami, usahanya bangkrut karena menggunakan narkoba.

Baca Juga : Bantah Ada Klaster Covid-19 Usai Maulid, Habib Rizieq: Saya Kena dari Bandara Soetta

Karena itu perang terhadap narkoba tidak boleh tanggung-tanggung. Pemberantasan dan pencegahan mesti dilakukan secara berbarengan. Bandar dan pengedar mesti dijatuhkan hukuman maksimal. Tidak ada grasi dari Presiden bagi narapidana narkoba. Bandar dan pengedar narkoba dalam skala besar dan dilakukan berulang-ulang, mesti dihukum mati. Termasuk Warga Negara Asing (WNA) dan WNI yang menyelundupkan narkoba ke Indonesia.

Kita patut memberi apresiasi kepada  Presiden Jokowi yang bersikap tegas kepada WNA di WNI yang menye­lundupkan narkoba ke Indonesia. Sebanyak enam orang terpidana kasus narkoba sudah dieksekusi mati oleh regu tembak Polri, 18 Januari 2015. Meski pemerintah sudah bersikap tegas terhadap orang-orang yang terlibat dalam sindikat atau mafia narkoba, tapi belum membuat efek jera bagi semuanya. Buktinya masih banyak penangkapan orang-orang yang nekad mengedarkan dan menjadi bandar narkoba. Bahkan juga ada terpidana mati kasus narkoba yang mengendalikan bisnis nerkobanya dari balik jeruji besi. Bahkan juga ada aparat penegak hukum yang malah terlibat dalam bisnis narkoba, sehingga terjadi penurunan pangkat, penundaan kenaikan pangkat hingga pemecatan dan institusinya. Banyaknya orang yang terlibat dalam perda­gangan narkoba karena termotivasi oleh potensi bisnis dan keuntungan besar yang bisa diperoleh.

Baca Juga : Pemerintah Upayakan Pencarian 53 Awak Kapal Selam Nanggala 402

Presiden Jokowi menyatakan bahwa potret di lapangan makin mengerikan karena banyak terpidana kasus narkoba yang masih mengendalikan bisnis pengedaran narkoba dari dalam lapas. Ia berharap kondisi darurat ini disadari oleh semua pemangku kebijakan agar dapat memerangi narkoba secara masif dan efektif. Seluruh kepala daerah, harus satu garis dan satu kata, tegas perangi narkoba. Presiden Jokowi menyatakan bahwa potret di lapangan makin mengerikan karena banyak terpidana kasus narkoba yang masih mengendalikan bisnis pengedaran narkoba dari dalam lapas. Ia berharap kondisi darurat ini disadari oleh semua pemangku kebijakan agar dapat memerangi narkoba secara masif dan efektif. Seluruh kepala daerah, harus satu garis dan satu kata, tegas perangi narkoba.

Pemerintah Republik Indonesia, sudah mengeksekusi mati enam gembong narkoba Minggu (18/1) dini hari. Mereka terdiri dari; 1 WNI dan 5 WNA. Jantung enam orang tersebut ditembus timah panas regu tembak, sehingga mereka menghembuskan nafas yang terakhir. Lima diekseskusi di Nusa Kambangan dan satu di Boyolali.

Baca Juga : Mau Mudik Pakai Kendaraan Pribadi? Simak Dulu Syaratnya

Narapidana kasus narkoba kelas kakap yang dieksekusi mati itu terdiri dari Ang Kiem Soei alias Kim Ho alias Ance Tahir alias Tommi Wijaya warga negara Belanda, Marco Archer Cardoso Moreira (Brasil), Namaona Denis (Malawi), Daniel Enemuo alias Diarrassouba Mamadou (Nigeria), dan Rani Andriani alias Melisa Aprilia (WNI). Sedangkan satu terpidana yang dieksekusi di Boyolali yaitu Tran Thi Bich Hanh (WN Vietnam).  **

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]