Fondasi Pemahaman Agama Islam


Kamis, 05 Februari 2015 - 19:25:43 WIB
Fondasi Pemahaman Agama Islam

Kita sebagai kaum muslimin rasanya perlu saling mengingatkan bahwa sampai akhir zaman akan ada 72 firgah (dalam buku Sam­u­dera al-Fatihah oleh Bey Arifin halaman 63 penerbit PT Bina Ilmu, Surabaya). Namun kese­muanya hanya satu yang syariat dan hakekatnya sama dengan nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu marilah kita was­padai di dalam mengikuti ajaran Islam maupun aliran tertentu yang sering disebut paham klenik atau mistik maupun black magic. Yang perlu kita jangan sampai terge­lincir pada ajaran yang sesat. Aliran yang 72 ini akan mem­bawa manusia ke lembah per­pecahan yang selanjutnya ber­a­kibat dosa dan musryik.

Baca Juga : Fraksi PKS DPR RI: Setop Eksperimen Kelembagaan Ristek

Juga masih ada bahaya yang timbul dari gerak-gerik manu­sia yang dalam hidupnya meru­sak aga­ma dan agama sebagai kamu­flase namun yang ada hanya pelanggaran perintah Allah maupun dalam bentuk pe­nyim­pangan lainnya. Misalnya saja Ahmadiyah, teroris dan lain lain  demi alasan jihad mau membunuh sampai banyak manusia yang tidak berdosa dan dana yang digunakan dari hasil merampok yang dilarang oleh semua agama. Seharusnya kita kaum muslimin sudah harus sadar bahwa pada saat ini gempa bumi, kebakaran, ban­jir, longsor, angin puting be­liung dan bencana alam lain­nya tak henti-hentinya silih berganti menimpa daerah kita hampir di semua kawasan NKRI. Ini suatu pertanda bahwa kita harus me­ning­katkan evaluasi diri, kei­ma­nan, dan ketaqwaan kepada Allah SWA. Kita sebagai ham­ba Allah harus sadar bahwa setan secara kenyataan lebih unggul sebab mereka tahu akan kita sifatnya tembus 3 dimensi dan tidak nampak oleh mata kita. Sedangkan kita manusia tidak dapat melihat mereka dimana dia berada. Mereka sejak awal dibenarkan meng­goda dan bermusuhan dengan manusia semenjak terlempar  kedunia (SQ Al-araf 17). Jadi ibarat suatu pertandingan permainan belum dimulai skor atau stand sudah 1-0. Namun Allah maha adil dan maha bijaksana dan kita selaku manusia diberikan derajat yang paling tinggi dan dijatuhkan serendah-ren­da­hnya yang ingkar dan musyrik. Apa derajat ketin­ggiannya? Yaitu kita diberi akal dan pikir untuk mempertimbangkan baik dan buruknya sesuatu tindakan. Semua makhluk diberi akal untuk meng­akali­nya misalnya babi dihutan yang mencari makan pada tanaman manusia yang dikebun dan dipagar maka dia timbul akal­nya untuk mengkorek-korek tanah untuk membuat lubang untuk bisa memasukinya dan memakan tanamannya. Ayam yang akan masuk rumah atau kandang secara kebetulan pin­tu­nya tertutup maka dia cari akal terbang ke atas pagar rumah mencari jalan dimana dia bisa masuk. Namun itu semuanya mereka tidak punya pikir sebab pikir inilah yang  dapat membedakan baik dan buruk, salah dan benar agar tindakannya tidak melanggar yang diperintahkan maupun yang dilrang Allah. Jadi kalau ada ceramah apapun dima­napun tempatnya yang menya­takan bahwa manusia hanya diberi akal saja oleh Allah kami kurang sependapat sebab akal hanya untuk mengakali sedangkan fikiran untuk me­nim­bang baik dan buruk salah dan benar yang tidak ada pada binatang apalagi setan. Ke­tinggian derajat atau kemu­liaan lainnya yakni fisik atau badan nabi Adam beserta ketu­runannya bahan dasarnya ter­diri dari unsur tanah, air, api, dan angin. Sedangkan setan hanya dari unsur api saja dan merasa dirinya lebih unggul dari Adam makanya tidak mau menghormat (Al-araf 12). Dari keempat unsur dasar manusia tadi menimbulkan lawan da­lam tubuh 4 macam pula yaitu: dunia, nafsu, setan, dan hawa). Hubungan unsur tanah dan dunia menimbulkan daging, kulit, dan rambut sedangkan unsur air dengan nafsu tim­bul urat, tulang, dan syaraf. Antara hawa dan angin me­nim­bulkan rongga badan se­dang­kan antara api dan setan menjadikan darah sebagai jembatannya. Jadi sebuah jas­mani manusia terdiri dari 12 unsur namun belum hidup maka disinilah peranan Allah meniupkan Rochku sebagai unsure yang ke 13  agar manu­sia menjadi hidup dan seka­ligus merupakan manusia per­ta­­ma (SQ 15 ayat 29). Untuk selanjutnya berkembang mela­lui proses perkawinan. Dalam kalangan islam sendiri terjadi beberapa aliran yakni yang sudah diperingati oleh nabi kita sebanyak 72 namun hanya satu yang syariat dan hake­katnya sama dengan nabi kita. Oleh karena itu di dalam me­ngi­kuti pengajian harus ber­hati-hati dan carilah yang satu itu sampai dengan ketemu. Pada ajaran Islam yang oleh ma­syarakat atau pihak peme­rintah dianggap ada penyim­pangan atau dikatakan sesat ma­ka erat kaitannya dengan pe­nafsiran kutiupkan Rohku itu.

Ada sebagian orang yang menafsirkan kutiupkan rohku dengan pengertian betul-betul roh Tuhan masuk ke dalam jasmani manusia maka lahir istilah bahwa Tuhan ada pada diri kita. Oleh karena itu tidak perlu sembahyang/salat sebab Tuhan dan diri kita menyatu tanpa jarak. Paham ini identik dengan ajaran syekh Siti Djenar yang sering diistilahkan ma­nung­galing kawulo lan gusti. Biasanya kemampuan yang berlebih pada seseorang ini dapat digunakan  untuk hal yang negatif atau kejahatan karena memang tidak punya atasan. Karakter orang sema­cam ini biasanya agak nye­leneh/ongeh dalam pergau­lan. Pada keadaan yang sesat ini termasuk daerah kekuasaan setan atau iblis dalam me­ngem­ban misi penggodaan terhadap anak cucu Adam maka seseo­rang yang butuh pertolongan kepada setan asal persyaratan kontraknya terpe­nuhi, misalnya disediakan bunga  kemenyan, dan sesajian lainya maka mereka akan meno­long­nya sesuai de­ngan permin­taan­nya. Bagi te­man-teman kaum muslimin/mus­limat sebaiknya hal ini jangan dipenuhi karena nanti terma­suk perbuatan man­dua­kan Allah/musyrik.

Baca Juga : Segera Daftar, Kompetisi Inovasi PLN Berhadiah Satu Miliar Ditutup 24 Mei

Kemudian penafsiran beri­kutnya yaitu bahwa Rohku itu merupakan bagian dari Tuhan. Oleh karena itu kelompok orang ini tidak perlu sem­bahyang cukup mengingat saja karena ia bagian dari Tuhan. Jadi di sini titik beratnya harus selalu mengingat Tuhan dalam berbuat. Namun aliran ini pedoman hidupnya tidak jelas karena tidak memiliki kitab suci dan kebanyakan berda­sarkan logika saja. Adakalanya berbuat mirip tindakan seba­gaimana tidakan penafsiran yang pertama. Akibatnya harus selalu mengingat tuhan maka amalannya  menyepi dan he­ning atau konsentrasi pikiran ditempat yang tenang agar mendapatkan wisik atau suara gaib yang merupakan petunjuk gaib. Pada kondisi pikiran in status quo ini maka daerah ini merupakan daerah kekuasaan setan lagi dan mereka berhak menggoda dengan bentuk-bentuk raja sakti jaman tempo doeloe, panggeran dengan pa­kaian jubbah putih memakai sorban dan bentuk-bentuk lain yang menyerupai pemimpin kharismatik. Kalau dipulau jawa biasanya makhluk ini memberi tanda kenangan beru­pa pusaka ada yang bentuk keris, tongkat, chis, tombak, dan benda-benda lainnya yang keramat. Pada saat yang kritis atau kondisi darurat yang demikian maka benda itulah paling tinggi kekuasaan nya sekaligus sebagai azimat. Ka­lau kebetulan benda keramat ini dipakai oleh seorang buya, ustad atau pak kiyai sehingga beliau terlena bahwa benda itulah yang mempunyai ke­kuatan yang paling tinggi maka beliau termasuk golongan musyrik/menduakan Allah. Memang benda itu mungkin ada yang mempunyai tuah dan kalau dipakai dapat menye­lamatkan namun hanya sela­mat di dunia untuk diakhirat nanti dulu. Apalagi kalau ben­da itu dianggap yang paling tinggi dan kalau tidak dibawa lalu kondisinya menjadi lemas dan keberaniannya hilang serta tidak percaya diri hal ini jelas ciri-ciri musyrik.

Kemudian yang terakhir mereka yang mempunyai pe­nger­tian yaitu Rohku yang setaraf dengan malaikat atau setan hanya beda tugasnya yang masuk kejasmani kita sehingga menjadi hidup. Benda ini tidak merupakan tuhan atau bagian Tuhan tetapi milik Tuhan atau sering disebut hamba Allah. Karena merupakan milik atau hamba maka ada jarak ada hubungan antara pemilik dan yang dimilikinya atau antara atasan dan bawahan bila dium­pamakan PNS. Disamping itu antara keduanya ada aturan main bila ingin menghadap, berkomunikasi, sembah me­nyem­bah, maupun minta per­tolongan dan ampunan. Oleh karena ketentuan inilah maka ada hak dan kewajiban antara lain diwajibkan menyem­bah/sholat setiap harinya maupun kewajiban lainnya sebagai umat beragama. Tetapi semua aturan main turun dari atasan dan bukan dari orang bawahan yang mengarang aturan untuk menghadap. Orang bertamu tentu tunduk aturan yang punya rumah bukan tamunya mem­buat aturan lalu seenak saja masuk kerumah dan masuk kekamar. Banyak aliran yang dianggap sesat  menciptakan aturan sendiri tata cara meng­hadap minta pertolongan kepa­da yang dianggap mem­punyai kekuasaan tertinggi (cara sem­bahyangnya). Dari pro­sedur ritual nampak kejanggalannya disamping aturan datang dari bawah. Pada penfsiran yang ketiga inilah yang paling tepat dan semuanya itu ada tergam­bar/tercantum dalam kitab Al-qur’an dan Hadist. Disini jelas apa yang dilarang dan apa yang dibolehkan/diharuskan dan tata caranya. Jadi penulis selalu menyebutkan dengan istilah membaca kitab alqur’an bukan harus pandai membaca Al­qu’an. Kalau dibaca tentu tulisan dan kalau didengar tentu suara. Jadi benda Al­qur’an bukan untuk dibaca tetapi untuk dicari dipelajari dihayati dan diamalkan atau dimanfaatkan bagi yang me­ngetahui keberadaannya. Un­tuk lebih jelasnya kita misal­kan sebagai buku tanah (ser­tifikat) memang harus dibaca karena ada tulisannya dan tidak keramat sebab dicetak oleh percetakan. Namun apakah tanahnya ada dibuku itu? Kan tidak dan bagi yang mene­mukan keberadaan tanah itu langsung dimanfaatkan atau dihuni dan tanah itu tidak perlu dibaca lagi sebab yang dibaca itu tulisan. Jadi kita kaum muslimin harus dapat memahami dengan jeli perbe­daan antara pengertian kitab alqur’an dengan benda qur’annya itu sendiri. Semoga usaha kami dalam rangka meluruskan istilah dibidang religious dalam hubungan antara nama dengan bendanya itu sendiri harus benar.***

Baca Juga : Menpan-KPK Beda Pendapat soal Pegawai KPK, Febri: Ibarat Lomba Lempar Batu Sembunyi Tangan

 

SOEHARTONO

Baca Juga : Awas! Larangan Mudik Berlaku, Ini Sanksi Bagi ASN Jika Tetap Nekat

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]